Jakarta, 14 Oktober 2026 – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai subsektor musik memiliki potensi dalam menciptakan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi. Penguatan talenta daerah diperlukan agar karya musik lokal mampu menjangkau pasar dan memberikan kontribusi lebih luas terhadap perekonomian nasional.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai subsektor musik memiliki potensi dalam menciptakan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi. Penguatan talenta daerah diperlukan agar karya musik lokal mampu menjangkau pasar dan memberikan kontribusi lebih luas terhadap perekonomian nasional. Jakarta, 14 Oktober 2026.
“Musik bukan hanya ekspresi kreativitas, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang mampu membuka peluang usaha dan lapangan kerja. Kami ingin memastikan talenta musik daerah memiliki kesempatan untuk berkembang agar karya mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif nasional,” ujar Menteri Ekraf.
Untuk itu Deputi Bidang Kreativitas Media dan Direktorat Musik Kementerian Ekraf menyelenggarakan program Aktivasi Creative Hub melalui Akselerasi Kreatif (AKTIF) Musik: Diskusi Industri Musik dan Showcase Musisi Lokal di DIEU GEURA Arts and Community Space, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/10). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku musik daerah, memperluas pemahaman industri, serta menyediakan ruang promosi karya bagi musisi lokal.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf, Cecep Rukendi, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat pengelolaan bisnis musik.
“Pengembangan ekosistem musik tidak cukup hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga membutuhkan penguatan kapasitas pelaku dan pengelolaan bisnis yang berkelanjutan. Melalui AKTIF Musik, kami mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pengelola ruang kreatif, dan pelaku industri agar potensi musisi lokal dapat berkembang menjadi peluang ekonomi,” ujar Cecep.
Diskusi interaktif yang diikuti 50 peserta itu menghadirkan empat pakar industri musik antara lain Dely Tambunan (Pengurus REKA Bogor) yang mengupas pemetaan potensi skena lokal; Ekki Soekarno (Founder IDPFEST) tentang optimalisasi festival; Yessi Kurniawan (Business Development Manager 1Lisensi) mengenai komersialisasi dan lisensi penggunaan karya; serta Aldo Sianturi (Founder Kelas Bisnis Musik) yang membedah manajemen bisnis musik modern.
Direktur Musik Kementerian Ekraf, Mohammad Amin, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan pengetahuan industri dengan kebutuhan pengembangan karier musisi.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf.
“Melalui diskusi ini, musisi memperoleh wawasan untuk mengelola karier dan bisnis musik secara lebih profesional. Sementara itu, showcase memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperkenalkan karya orisinal sekaligus membangun jejaring yang dapat mendukung pengembangan karier di industri musik,” ujar Mohammad Amin.
Program diakhiri dengan showcase lima grup musik lintas genre asal Bogor, yakni Linages (indie rock), Eyeliner (alternatif), Blizter (post-punk), Piknik (britpop/indie), dan TheDustyRusty (retro pop). Unjuk bakat ini membuktikan kekayaan serta keberagaman potensi musisi Kota Bogor.
Pemerintah Kota Bogor melalui Kepala Bidang Pemasaran Kepariwisataan yang mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menyambut baik penyelenggaraan AKTIF Musik sebagai bagian dari upaya pengembangan potensi kreatif daerah.
“AKTIF Musik menjadi ruang kolaborasi antara pelaku musik dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi lokal. Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem musik sekaligus mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Bogor,” ujar perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf.
Melalui penyelenggaraan AKTIF Musik, Kementerian Ekraf berupaya mengoptimalkan pemanfaatan ruang kreatif sebagai tempat pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, dan pertemuan antarpelaku industri. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, musisi, dan pelaku usaha diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan ekosistem musik lokal serta membuka kesempatan pengembangan karya dan usaha musik di daerah.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif







