Kekuatan Animasi Lokal Riki Rhino: Penggerak Konservasi dan Pendorong IP

Kemenekraf/Bekraf RISenin, 5 Oktober 2026
Kekuatan Animasi Lokal Riki Rhino: Penggerak Konservasi dan Pendorong IP

Jakarta, 5 Oktober 2026 - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) terus mengakselerasi penguatan industri film dan animasi nasional melalui pengembangan produk kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) lokal yang berdaya saing global. Komitmen ini ditegaskan melalui special screening film animasi Riki Rhino: Kerajaan Burung, sekuel karya PT Putra Sentosa Karya Gemilang bersama Batavia Pictures yang sepenuhnya dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) Irene Umar menghadiri pemutaran film IP Animasi Riki Rhino di Jakarta Senin (5/10/2026). Industri film dan animasi nasional melalui pengembangan produk kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) lokal yang berdaya saing global.

“Riki Rhino merupakan karya yang mengangkat salah satu spesies langka Indonesia, yaitu Badak Sumatera, ke layar lebar. Film animasi tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga dapat menjadi penggerak konservasi dan membuka peluang pengembangan IP. Kami melihat animasi Riki Rhino: Kerajaan Burung sebagai bagian dari perkembangan industri animasi Indonesia yang mampu mengolah isu lokal menjadi cerita yang memiliki relevansi global,” ujar Wamen Ekraf, Irene Umar, saat menghadiri pemutaran film di Ashta District 8, Jakarta, Senin (5/10).

Capaian sekuel ini melanjutkan rekam jejak waralaba Riki Rhino yang pertama kali dirilis pada 2020 dan mencatatkan 45.145 penonton bioskop. Proses kreatifnya berbasis riset faktual melalui observasi langsung di Sumatran Rhino Sanctuary, Taman Nasional Way Kambas, guna memadukan unsur hiburan dengan kampanye konservasi keanekaragaman hayati.

Secara komersial, waralaba animasi ini membuktikan kapasitas IP lokal dalam menembus pasar internasional. Film pertama Riki Rhino telah didistribusikan ke Inggris, Amerika Latin, Afrika, Turki, dan Malaysia pada 2020, serta ditayangkan di berbagai platform video-on-demand global. Melanjutkan performa tersebut, Riki Rhino: Kerajaan Burung (The Bird Kingdom) telah dirilis secara terbatas di Timur Tengah dan Turki pada 2024, disusul penayangan versi dubbing bahasa Inggris di AS dan Kanada pada 2025, sebelum dijadwalkan tayang serentak di bioskop nasional pada 2027.

Pertumbuhan IP lokal seperti Riki Rhino berjalan selaras dengan penguatan indikator makroekonomi subsektor film, animasi, dan video. Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM dan Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor ini tumbuh signifikan dari Rp10,1 triliun pada 2023 menjadi Rp11,87 triliun pada 2024.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.

Serapan tenaga kerja di subsektor ini juga meningkat dari 284.536 orang pada 2024 menjadi 328.661 orang pada 2025. Realisasi investasi mencatatkan kenaikan dari Rp1,5 triliun pada 2024 menjadi Rp2,14 triliun pada 2025, sementara nilai ekspor melonjak dari USD5,217 ribu pada 2024 menjadi USD850 ribu pada 2025.

​Mengangkat cerita perjalanan karakter Riki dan Beni dari Kalimantan menuju Papua untuk menyelamatkan ekosistem pesisir dari ancaman tsunami, Riki Rhino: Kerajaan Burung memperluas skala narasi dengan membawa pesan kesadaran lingkungan hidup ke tingkat global.

​Pemutaran terbatas ini turut dihadiri oleh Direktur PT Putra Sentosa Karya Gemilang Joni Yuwono, serta Produser Genesis Timotius dan Lukman Hakim. Dalam agenda tersebut, Wamen Ekraf didampingi oleh Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekraf Doni Setiawan.

Kiagoos Irvan Faisal

Kepala Biro Komunikasi

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.
01 / 03
Gallery 3 items
01
02
03
The New Engine Of Growth
Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Subsektor Film, Animasi, dan Video
Kolaborasi Industri Kreatif
Kementerian Ekraf/Badan Ekraf RI