Kemenekraf Dorong Pemanfaatan Human-Centric AI demi Jaga Kreativitas Manusia

Kemenekraf/Bekraf RISenin, 7 September 2026
Kemenekraf Dorong Pemanfaatan Human-Centric AI demi Jaga Kreativitas Manusia

Jakarta, 7 September 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat proses kreatif.


Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Kawal Peran dan Kreativitas Manusia di Era AI dalam IdeaFest 2026. (7/9/2026).

Hal tersebut disampaikan Direktur Kreativitas Teknologi Kementerian Ekraf Dandy Yudha Feryawan dalam panel IdeaFest 2026 bertajuk “Creator or Generator? When Everyone Can Make, What Comes Next?” di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu (6/9).

Dandy mengatakan, kehadiran AI tidak serta-merta menghilangkan peran manusia dalam penciptaan karya. Menurutnya, terdapat perbedaan antara karya yang dibuat dengan bantuan AI (_AI-assisted_) dan karya yang sepenuhnya dihasilkan AI (_AI-generated_).

“Penggunaan AI sebagai alat bantu tidak otomatis membuat sebuah karya kehilangan orisinalitas. Sebaliknya, hal yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana manusia memberikan kontribusi kreatif dan memiliki kendali atas hasil akhirnya. AI bisa menghasilkan sesuatu, tetapi manusia yang menentukan apa yang paling berarti dari karya itu,” ujar Dandy.


Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip human-centric yang menjadi penting dalam perkembangan AI untuk 21 subsektor ekonomi kreatif. Dalam konteks hak cipta, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 mendefinisikan pencipta sebagai seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.

Dalam diskusi tersebut, Dandy menegaskan pentingnya kontribusi kreatif manusia dalam memberikan karakter, pilihan, ekspresi, dan keputusan yang membuat karya memiliki autentisitas dan orisinalitas. Dirinya juga menyoroti tantangan AI terkait penggunaan karya sebagai data latih, kepemilikan hak cipta, serta traceability keterlibatan manusia dalam proses penciptaan.

Menurutnya, pemerintah dan ekosistem ekonomi kreatif perlu menemukan keseimbangan antara mendorong inovasi teknologi dan memberikan perlindungan serta kepastian bagi kreator.


Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.

“Hal ini menjadi semakin penting ketika AI membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih mudah serta cepat. Saat kemampuan teknis untuk menghasilkan karya mudah diakses, nilai manusia justru semakin terletak pada ide, perspektif, pengalaman, selera, konteks, dan kemampuan melakukan kurasi,” tambah Dandy.

Panel diskusi yang diselenggarakan ECHO dan IdeaFest tersebut menghadirkan Adrian Martadinata sebagai moderator, serta Danny Ardianto, Head of Government Affairs and Public Policy YouTube Asia Tenggara; Ganjar Ariel Sentosa, Chief Operating Officer Massive Music Entertainment; Ucha Ramadhan, Produser Podcast Ancur; dan Riashada Firdausya, Co-Founder HEI ECHO GROUP.

Para pembicara membahas perkembangan AI dan dampaknya terhadap industri kreatif, termasuk peluang pemanfaatannya untuk memperkuat proses kreatif sekaligus pentingnya menjaga pengalaman, karakter, dan kontribusi manusia dalam sebuah karya.


Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.

Bagi Kementerian Ekraf, arah yang perlu dibangun adalah creating with AI. AI menjadi alat untuk memperluas kemampuan manusia dalam bereksperimen dan berkarya, sementara manusia tetap menjadi pusat dalam menentukan ide, makna, nilai, dan arah karya kreatif.

Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

Teuku Riefky Harsya
Irene Umar
Menekraf
Wamenekraf
The New Engine Of Growth
Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Era AI
AI for Creative Economy
Ideafest
Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf