Jakarta, 9 Oktober - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) melalui Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain memperkuat komitmennya dalam mengakselerasi ekosistem subsektor kuliner dengan berpartisipasi pada _Cafe & Brasserie Expo_ (CBE) 9th Edition 2026 di Hall 5 Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2. Keikutsertaan ini bertujuan memperluas akses pasar serta meningkatkan daya saing jenama kuliner lokal berbasis kopi dan cokelat di tingkat nasional maupun internasional.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) melalui Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain memperkuat komitmennya dalam mengakselerasi ekosistem subsektor kuliner dengan berpartisipasi pada Cafe & Brasserie Expo (CBE) 9th Edition 2026 di Hall 8, Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2.
Langkah strategis ini diwujudkan sbeagai upaya pembukaan akses pasar 4 (empat) binaan program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) Kuliner _Batch_ 2 dan _Batch_ 3. Adapun peserta yang hadir di Pavilion Ekraf meliputi Kingkaf, Aricafe,L’ile Chocolate, Cokelatin Signature, serta dua mitra strategis yaitu pelaku asosiasi, _Specialty Coffee Association of Indonesia_ (SCAI) dan Persekutuan Perkumpulan Profesional Investor Kopi Indonesia (PAPIKI).
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, menegaskan bahwa subsektor kuliner memegang peranan krusial dalam memperkuat identitas budaya sekaligus menggerakkan perekonomian nasional.
“Kuliner bukan sekadar produk yang dikonsumsi, tetapi merupakan bagian dari identitas, kreativitas, dan kekuatan ekonomi Indonesia. Karena itu, tugas kita adalah memastikan kreativitas yang lahir dari pelaku kuliner dapat berkembang menjadi produk yang bernilai tambah, memiliki jenama yang kuat, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Deputi Yuke.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Komoditas kopi dan cokelat dipilih secara khusus karena memiliki potensi hilirisasi kreatif yang besar. Kementerian Ekraf mendampingi para pelaku usaha untuk tidak sekadar menjual bahan baku, melainkan meningkatkan nilai jual produk melalui penguatan kualitas, desain kemasan (_packaging_), identitas merek, narasi produk (_storytelling_), serta pengembangan produk turunan.
Presiden Direktur Panorama Media, Royanto Handaya, menyambut positif kolaborasi aktif Kemenekraf dalam CBE 2026. Menurutnya, Pavilion Ekraf menjadi platform konkret untuk menjembatani pelaku usaha binaan dengan jejaring bisnis serta calon investor.
“Kehadiran Pavilion Ekraf diharapkan tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi terciptanya kemitraan bisnis dan transaksi nyata bagi para pelaku ekonomi kreatif binaan. Dengan dukungan pemerintah, penyelenggara, dan pelaku industri, Pavilion Ekraf dapat menjadi platform strategis untuk meningkatkan visibilitas produk lokal, membuka peluang usaha, serta mendorong produk kreatif Indonesia agar semakin kompetitif di pasar nasional maupun global,” ujar Royanto.
Sementara itu, Direktur Kuliner Kementerian Ekraf, Romi Astuti, menekankan bahwa partisipasi di pameran berskala internasional seperti CBE merupakan pijakan awal untuk mendorong model bisnis yang berkelanjutan dan siap diekspansi.
Dok. Biro komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
“Ke depan, kita ingin semakin banyak jenama kuliner Indonesia yang tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga siap direplikasi, dikembangkan melalui kemitraan dan franchise, serta memiliki peluang untuk masuk ke pasar internasional. Inilah yang kami maksud dengan membawa kuliner Indonesia dari produk menjadi aset ekonomi kreatif,” tutup Direktur Kuliner, Romi Astuti.
Perwakilan Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, mengungkapkan bahwa keikutsertaan melalui program ASIK memberikan pembekalan praktis yang sangat berguna dalam menembus pasar B2B (_business-to-business_) maupun B2C (_business-to-consumer_).
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatid.
“Dalam ASIK Kami belajar banyak hal bukan hanya di sisi teori tapi praktek bagaimana cara mencari buyer yg efektif melalui web. Semoga dari event ini kami bisa mendapatkan banyak peluang baik B2C maupun B2B yang siap berjalan bersama membangun pasar Cokelat Indonesia lebih luas lagi,” ungkap Irena.
Melalui fasilitasi ini, Kementerian Ekraf terus berupaya menciptakan ekosistem kuliner yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing global demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis kreativitas.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif*
