Jakarta, 29 September 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) bersama lembaga riset independen, Indonesia Fasilitator (InFast) Bestari, merumuskan solusi penopang populasi kelas menengah melalui pemanfaatan teknologi blockchain. Langkah ini difokuskan pada perumusan kebijakan inkusif, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta perluasan akses pembiayaan bagi pegiat ekonomi kreatif di seluruh Indonesia.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menerima audiensi Infast Bestari di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Selasa (29/09/2026).
"Ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam menjawab dua tantangan yang dihadapi, yaitu penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda dan penurunan jumlah masyarakat kelas menengah. Saat ini, sekitar 63 persen dari 27,4 juta pekerja ekonomi kreatif merupakan generasi Z dan milenial. Artinya, tiap subsektor ekraf memiliki potensi besar untuk membuka lapangan kerja sekaligus menjadi salah satu penopang kelas menengah melalui peningkatan pendapatan dan penguatan daya beli masyarakat," ujar Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa (29/9).
Lebih lanjut, Menteri Ekraf menjelaskan pentingnya hilirisasi karya ekraf serta pendekatan kolaborasi heksaheliks yang melibatkan pemerintah, akademisi, pegiat usaha, komunitas, media, dan lembaga keuangan. Pendekatan terpadu ini diperlukan untuk mendobrak hambatan permodalan yang kerap dialami para pegiat usaha kreatif.
“Kehadiran lembaga keuangan menjadi sangat penting dalam pendekatan kolaborasi heksaheliks karena persoalan akses pendanaan masih menjadi tantangan bagi pegiat ekraf. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia dan OJK, kami ingin menghadirkan terobosan pembiayaan yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital seperti blockchain untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Bersama InFast Bestari, bisa kita kolaborasikan terkait Program Asta Ekraf seperti Ekraf Data dan Dana Ekraf,” ungkap Teuku Riefky.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi kreatif.
Dalam kesempatan yang sama, InFast Bestari memaparkan urgensi pemberian insentif terarah dan skema perlindungan bagi masyarakat kelas menengah yang terhimpit secara ekonomi agar tetap memiliki kapasitas konsumsi pada produk-produk kreatif lokal dan UMKM. Direktur Riset dan Database InFast Bestari, Hizkia Yosias Polimpung, menyoroti realitas kerentanan ekonomi kelompok tersebut.
“Teman-teman kelas menengah ini terlalu kaya untuk diberi bansos, tetapi terlalu miskin untuk disebut hidup layak. Dalam bahasa ekonomi, mereka adalah the missing middle. Ini yang kami usulkan harus diberi scaffolding, bantalan supaya tingkat ekonomi mereka jangan jeblok lagi,” ucap Hizkia.
Audiensi ini juga menjadi momentum persiapan Simposium Nasional bertajuk “Ekosistem Koperasi Urban Berbasis Blockchain: Strategi Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Kelas Menengah Kreatif Perkotaan” yang diselenggarakan pada 30 September 2026. Forum yang diproyeksikan menghadirkan 300–400 pemangku kepentingan tersebut dijadwalkan menghadirkan Menteri Ekraf sebagai keynote speaker.
Turut mendampingi Menteri Ekraf dalam audiensi ini yaitu Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekraf, Mohammed Ali Berawi; Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Muhammad Neil El Himam; serta Tenaga Ahli Menteri, Gemintang Kejora Mallarangeng.
Sementara jajaran pengurus InFast Bestari hadir pula Direktur Eksekutif, Gede Sandra; Direktur Riset Kebijakan Publik, Muhammad Ridha; Direktur Ekonomi Kerakyatan, Hanny Wijaya; Direktur Geopolitik dan Kebijakan Publik, Dominggus Oktavianus; Direktur Komunikasi Strategis, Bin Bin Firman Tresnadi; beserta Direktur Media dan Komunikasi, Agus P.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
