Kementerian Ekraf Jajaki Kolaborasi dengan Jamu Jago Perkuat Ekosistem Jamu Nasional

Kemenekraf/Bekraf RISelasa, 1 September 2026
Kementerian Ekraf Jajaki Kolaborasi dengan Jamu Jago Perkuat Ekosistem Jamu Nasional

Jakarta, 1 September 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menjajaki kolaborasi strategis bersama PT Jamu Jago untuk memperkuat ekosistem jamu nasional melalui pendekatan modern. Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan potensi jamu sebagai produk kreatif bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar, menerima audiensi PT Jamu Jago di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

"Saya percaya jamu bisa mendunia, tetapi Indonesia masih menghadapi tantangan besar pada supply chain, branding, dan kelangkaan wirausahawan untuk skala industri. Agar jamu sejajar dengan produk global, kita harus memodernisasi kemasan serta penyajiannya, baik melalui format kekinian yang mudah diakses maupun bentuk kapsul yang praktis, tanpa menghilangkan akar budayanya,” ungkap Wamen Ekraf, Irene Umar, dalam audiensi di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa (1/9).

Audiensi ini menjadi langkah awal penyelarasan program antara Kementerian Ekraf dan Jamu Jago dalam menjaga keberlanjutan tradisi kesehatan herbal serta memberdayakan pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) di dalam rantai pasoknya. Dalam pertemuan tersebut, Jamu Jago memaparkan inisiatif strategis untuk menghidupkan kembali budaya minum jamu sebagai bagian dari gaya hidup modern generasi muda melalui edukasi dan inovasi produk.

Sinergi ini sejalan dengan tren positif industri berbasis kearifan lokal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, subsektor kuliner memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi kreatif pada tahun 2025, yaitu mencapai 41,06 persen dengan pertumbuhan sebesar 8,44 persen. Nilai ekspor barang ekonomi kreatif pada subsektor ini juga meningkat dari 0,23 miliar dolar AS pada periode Januari–April 2025 menjadi 0,28 miliar dolar AS pada periode Januari–April 2026.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekonomi Kreatif

"Fokus utamanya saat ini adalah memastikan ketersediaan barang dan pergerakan logistik yang cepat serta mendetailkan kebutuhan untuk jalannya program Jamu Jago. Kita perlu bergerak cepat agar produk jamu ini benar-benar berputar untuk menggerakkan ekonomi Indonesia, sehingga nantinya seluruh persiapan yang matang ini dapat dengan mudah dikolaborasikan di berbagai lokasi yang ditargetkan,” tegas Wamen Ekraf.

PT Jamu Jago merupakan pelopor obat tradisional tertua di Indonesia yang didirikan oleh Phoa Tjing Seong dan Tio Tining pada tahun 1918 di Wonogiri sebelum pindah ke Semarang, dengan ikon ayam jantan sebagai lambang kerja keras, keuletan, dan semangat kesembuhan. Mengusung motto "Jagonya Jamu Sejak 1918", perusahaan ini memadukan resep tradisional dan standar modern untuk menghadirkan ragam produk populer.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekonomi Kreatif

"Kami sangat senang Ibu Wamen Ekraf memiliki visi yang sama untuk membangkitkan jamu sampai kancah global. Terima kasih atas diskusi yang produktif untuk kemajuan program Jamu Jago, dan kami siap menindaklanjuti seluruh arahan Ibu Wamen demi kebangkitan jamu Indonesia," ujar Bambang Sutantio, Komisaris Utama Jamu Jago.

Dalam kegiatan audiensi ini, Wamen Ekraf didampingi oleh Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data, Jago Anggara; dan Kepala Subdirektorat Pemasaran dan Komersialisasi Kuliner, Dessy Widowati.

Kiagoos Irvan Faisal

Kepala Biro Komunikasi

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

Teuku Riefky Harsya
Irene Umar
Menekraf
Wamenekraf
The New Engine Of Growth
Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi