Kementerian Ekraf Perluas Ruang Kolaborasi Lintas Subsektor Seni dan Perfilman

Kemenekraf/Bekraf RIRabu, 9 September 2026
Kementerian Ekraf Perluas Ruang Kolaborasi Lintas Subsektor Seni dan Perfilman

Jakarta, 9 September 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat sinergi lintas subsektor melalui audiensi dengan rumah produksi Keana Film untuk mengoptimalkan potensi seni pertunjukan dan film nasional. Langkah ini bertujuan memicu pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah bagi rantai pasok industri kreatif Tanah Air.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menerima audiensi rumah produksi Keana Pictures di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Keana Film yang sebelumnya sukses menggarap teaterikal Laksamana Malahayati, Monoplay Melati Pertiwi, Meradjoet Sendja, serta film Kalau Kau Indonesia, Tepuk Dada! (2012) dan Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap (2013) memaparkan rencana strategis 2026–2027 berbasis kebudayaan. Rangkaian program tersebut meliputi Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, serta festival CULTURA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang berfokus pada pertukaran budaya anak dan pemberdayaan UMKM lokal.

Selain itu, Keana Film menyiapkan pengembangan alih wahana kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) Laksamana Malahayati dari panggung pertunjukan menuju komik dan film panjang dengan orientasi kolaborasi internasional.

“Kita perlu mencari titik temu yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun potensi yang sudah tercipta, tetapi juga memastikan model bisnis kreatif bisa berjalan. Dengan begitu, kita tak sekadar meningkatkan budaya publik untuk nonton teater di gedung seni pertunjukan maupun nonton film di ruang putar, tetapi juga memberikan soft landing bagi investor untuk masuk ke subsektor seni pertunjukan dan subsektor film,” ungkap Wamenekraf Irene Umar dalam audiensi yang berlangsung di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (9/9).

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

Program-program tersebut dirancang tidak sekadar sebagai pertunjukan, tetapi bagian dari ekosistem yang melibatkan komunitas, UMKM, edukasi, dan penciptaan lapangan kerja. Gagasan lain juga disampaikan terkait rencana pengembangan IP Laksamana Malahayati dari seni pertunjukan berkembang menjadi karya komik dan film dengan peluang kolaborasi internasional.

“Seni pertunjukan dan film sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Subsektor seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan IP, pengembangan talenta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pejuang ekraf. Kita perlu mendorong karya-karya pertunjukan terus berkembang sehingga memiliki model bisnis yang berkelanjutan dan dapat bertransformasi ke medium lain seperti film,” tambah Wamenekraf.

Diskusi juga menyentuh pengembangan infrastruktur kreatif, termasuk program Indiskop Bioskop Rakyat yang mengintegrasikan film, seni pertunjukan, kebudayaan, dan edukasi. Wamen Ekraf menyoroti pentingnya efisiensi dan pemanfaatan teknologi agar model bioskop rakyat bisa direplikasi lebih luas. Pemanfaatan sistem digital untuk distribusi, penjualan tiket, dan pengelolaan bioskop dinilai dapat menekan biaya operasional sekaligus memungkinkan pengelolaan terpusat, sehingga ekosistem perfilman lebih kompetitif dan menjangkau masyarakat di berbagai daerah.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

Sementara itu, Direktur Utama Keana Film, Marcella Zalianty menyampaikan bahwa fokus rumah produksi ini pada pengembangan dua spektrum ekonomi kreatif, yakni subsektor seni pertunjukan dan subsektor film. Marcella menegaskan pentingnya regenerasi dalam industri kreatif melalui pendidikan maupun pelatihan sehingga kolaborasi dengan Kementerian Ekraf dapat terus dikembangkan menjadi karya kreatif yang tidak hanya menghadirkan tontonan, melainkan memberikan dampak bagi ekosistem kreatif di Indonesia.

“Dulu, Keana Film pernah mengangkat sebuah omnibus dalam konteks Rectoverso dari dunia sastra atau buku karya Dewi Lestari ke sebuah film. Kini, kami terinspirasi untuk bikin konsep omnibus di atas panggung yang mengemas historikal tentang pahlawan-pahlawan lintas perjuangan dan lintas waktu sehingga menghidupkan ekosistem seni pertunjukan. Dengan demikian, Keana Film bisa menjadikan suatu IP lokal go global karena konten yang universal dan pantas membawa identitas Indonesia mendunia,” tutur Marcella Zalianty yang juga menjadi Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI 56).

Turut mendampingi Wamen Ekraf Irene Umar yaitu Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Dadam Mahdar. Hadir pula perwakilan dari Keana Film seperti Strategic Partner, Fary Farghob; Partnership, Aszka Arief; dan Sekretariat, Widya.

Kiagoos Irvan Faisal

Kepala Biro Komunikasi

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

Teuku Riefky Harsya
Irene Umar
Menekraf
Wamenekraf
The New Engine Of Growth
Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi