Jakarta, 24 Juni 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), terus mendorong lahirnya inovasi berbasis teknologi sebagai elemen krusial dalam pengembangan ekonomi nasional. Kementerian Ekraf memandang ranah smart mobility, artificial intelligence, Internet of Things, hingga Urban Air Mobility (UAM) sebagai wajah baru ekonomi kreatif Indonesia.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam saat sambutan pada acara Welcoming the Future of Air Mobility di Cengkareng Heliport, Tangerang, Rabu (24/06/2026)
Komitmen ini diwujudkan salah satunya melalui gelaran Ekraf Tech Innovation Challenge tahun lalu yang mengusung tema Smart Mobility. Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf, Muhammad Neil El Himam, memberikan apresiasi dalam acara Welcoming the Future of Air Mobility di Cengkareng Heliport, Tangerang, pada Rabu (24/6).
"Acara hari ini bukan sekadar memperkenalkan teknologi baru, melainkan momentum untuk melihat bagaimana kreativitas, Teknologi, dan inovasi dapat bertemu dalam membentuk masa depan mobilitas Indonesia. Sesuai Undang-Undang Ekonomi Kreatif bahwa ekraf merupakan perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari kreativitas manusia, yang berbasis budaya, ilmu pengetahuan, dan/atau teknologi. Jadi ekraf bukan hanya tentang seni dan budaya, melainkan inovasi dan teknologi yang mengubah pengetahuan menjadi solusi bernilai ekonomi bagi masyarakat," ujar Neil.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Melalui kegiatan ini, konsep Advanced Air Mobility (AAM), UAM, dan teknologi Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) diperkenalkan sebagai solusi transportasi masa depan yang cepat, efisien, dan terintegrasi bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Neil menekankan bahwa kehadiran teknologi ini menjadi momentum krusial untuk melahirkan generasi baru talenta aviasi melalui sinergi antara pendidikan, industri, dan pemerintah. Tujuannya, agar Indonesia mampu membangun ekosistem nasional yang mandiri dan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi.
"Keberhasilan UAM bukan soal teknologi eVTOL, melainkan kolaborasi membangun ekosistem mobilitas Indonesia yang maju dan berdaya saing. Selain itu, teknologi baru akan menghadirkan kebutuhan profesi baru, mulai dari pilot, operator sistem, teknisi, pengembang perangkat lunak, hingga spesialis navigasi dan kecerdasan buatan, untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengelolanya," ungkap Neil.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Acara ini melibatkan kolaborasi antara Whitesky Aviation, perusahaan aviasi swasta Indonesia, dan SkyDrive, pengembang kendaraan terbang listrik asal Jepang. Presiden Direktur Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, menyatakan bahwa aliansi strategis ini ditujukan untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas udara perkotaan yang andal sekaligus mengurai kemacetan di kota metropolitan.
"Kerja sama penjajakan penerapan teknologi eVTOL ini merupakan ikhtiar bersama dalam menyongsong sistem transportasi masa depan Indonesia yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan," ujar Denon.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Rangkaian acara juga diisi dengan diskusi panel serta penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Whitesky Aviation dan Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti sebagai mitra akademik. Kolaborasi ini memperkuat link and match melalui seminar, riset, serta program magang guna mengakselerasi transfer teknologi AAM dan UAM kepada talenta muda aviasi nasional.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
