Masjid Babah Alun: Jejak Akulturasi Arsitektur Tionghoa, Islam dan Betawi

Kemenekraf/Bekraf RISenin, 11 Mei 2026
Masjid Babah Alun: Jejak Akulturasi Arsitektur Tionghoa, Islam dan Betawi

Di sebuah ruas jalan yang sibuk di pinggiran Jakarta, bangunan itu langsung mencuri perhatian. Warnanya didominasi merah menyala, membuat siapun yang melihat langsung “terpanggil” untuk menyaksikan lebih dekat. Sekilas orang mengira klenteng, tapi saat azan berkumandang barulah identitasnya begitu jelas, sebuah masjid yang unik, hangat dan penuh cerita. Inilah Masjid Babah Alun, simbol akulturasi yang berdenyut di pinggiran Jakarta.

Akulturasi Masjid Babah Alun dimulai dari karakter warna yang dipilih. Wajahnya tak biasa, warna merah dalam budaya Tionghoa melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan semangat. Sementara hijau melekat dengan nuansa Islam yang identik dengan kedamaian dan harapan akan. Semuanya semakin menyatu dengan kilauan warna emas yang melambangkan kemuliaan, kejayaan dan kemakmuran. Tak heran jika perpaduan ini menarik perhatian sejak pandangan pertama.

Baca Juga : Wamen Ekraf Dorong Kolaborasi Lintas Subsektor dalam Forum ARCH:ID 2026


Sumber : Instagram @kotajakartaselatan dan @jusufhamka

Bangunan Masjid Babah Alun tidak hanya bermain pada warna, tetapi juga bentuk. Dari kejauhan, atapnya berbentuk kubah seperti masjid, di bawahnya dihiasi atap berundak yang mempunyai lengkungan di bagian ujung. Dalam filosofi Tionghoa, hal ini melambangkan perlindungan bagi jemaah di bawahnya dan menghindari hal-hal buruk.

Pintu masuknya tak kalah menarik. Gerbang berbentuk kong liong, dengan lengkungan khas yang sering ditemukan di kuil shaolin, seolah menggambarkan transisi dari dunia luar menuju ruang ibadah. Di sini lah batas antara budaya dan ibadah melebur.

Baca Juga : Kementerian Ekraf Tegaskan Peran Arsitektur dalam Mitigasi Bencana di Forum DR3

Masuk lebih dalam, sentuhan Betawi ikut berbicara. Di pagar lantai atas, motif kayu dengan ukuran khas menyerupai ginggang atau ukiran tradisional ikut menguatkan akulutrasi Masjid Babah Alun. Yusuf Hamka, pendiri sekaligus pemilik Masjid Babah Alun seolah ingin menyampaikan bahwa bangunan ini bukan hanya akulturasi dua budaya, namun juga memiliki kearifan lokal.


Sumber : Instagram @kotajakartaselatan dan @jusufhamka

Keunikan masjid babah alun berhasil menarik perhatian masyarakat. Mereka yang datang bukan hanya untuk beribadah tapi juga menjadi destinasi. Tidak semuanya dari kalangan muslim yang menikmati keunikan masjid ini, tetapi dari umat agama lain. Masjid Babah Alun bukan hanya menjadi ruang ibadah, namun seolah membuka ruang diskusi inklusif. Mereka juga datang untuk ber-swafoto sembari menikmati keindahan bangunan masjid tiga budaya ini.

Baca Juga : Menteri Ekraf Dukung Potensi Arsitek Buka Peluang Lapangan Kerja Berkualitas

Akulturasi budaya dalam arsitektur masjid babah alun merupkan satu contoh bahwa ekonomi kreatif hadir dalam budaya yang dibalut seni desain bangunan masa kini dan berhasil menyatukan budaya tionghoa dan muslim dalam seni nan megah. Masjid Babah Alun semakin mudah ditemui karena terdapat di Jakarta, Depok dan Bogor.

Subsektor Arsitektur
Akulturasi Budaya
Tionghoa - Islam