Jakarta, 13 Agustus 2026 – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya, menerima audiensi Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) untuk membahas potensi kolaborasi dalam pengembangan kegiatan budaya. Pertemuan tersebut sekaligus membahas rencana Festival Keraton dan Masyarakat Adat ASEAN (FKMA).
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya (tengah), berdialog dengan Ketua Umum FSKN sekaligus Raja Turikale VII Maros AA Mapparessa (ketiga kiri) saat menerima audiensi Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Kamis (13/08/2026).
“Kementerian Ekraf melihat keraton dan masyarakat adat sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui ekosistem ekonomi kreatif. Pelestarian budaya perlu berjalan berdampingan dengan inovasi agar nilai-nilai tradisi tetap hidup, sekaligus dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Teuku Riefky dalam audiensi di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (13/8).
FSKN merupakan organisasi masyarakat adat yang menghimpun para pemangku adat dan keraton atau kerajaan di Indonesia. Berdiri sejak 2006 dan telah berbadan hukum, organisasi tersebut menjadi wadah bagi para raja, sultan, penglingsir, pemangku adat, serta trah keraton dari berbagai wilayah Nusantara.
“Kami berharap kolaborasi dengan FSKN dapat membuka ruang yang lebih luas bagi budaya Nusantara untuk dikenal, dikembangkan, dan diapresiasi. Festival seperti FKMA dapat menjadi momentum untuk mempertemukan keragaman budaya Indonesia dengan jejaring internasional, khususnya di kawasan ASEAN,” kata Menekraf.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf.
FKMA sendiri menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman keraton dan masyarakat adat Indonesia sekaligus membuka ruang pertemuan budaya dengan jejaring masyarakat adat di kawasan ASEAN. Ketua Umum FSKN sekaligus Raja Turikale VIII Maros, AA Mapparessa, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun kolaborasi dalam pengembangan masyarakat keraton di Nusantara.
Ia menjelaskan, salah satu program yang pernah diinisiasi adalah wisata Hindu Heritage di Jakarta Selatan. Program tersebut diharapkan dapat menjadi model pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis potensi keraton di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, momentum lima abad Jakarta menjadi kesempatan yang tepat untuk mengangkat nilai-nilai budaya serta potensi keraton, termasuk di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kami ingin menciptakan momentum untuk membangun kolaborasi dan pengembangan masyarakat keraton di Nusantara. Melalui FKMA, kami menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan sebelumnya juga menginisiasi program bersama pemerintah di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. Seperti Program wisata Hindu Heritage di Jakarta Selatan ini menjadi titik pangkal untuk membangun sebuah model pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif bagi keraton-keraton se-Nusantara. Kami ingin mengangkat nilai-nilai budaya dan potensi keraton, baik dari sisi pariwisata maupun ekonomi kreatif, di Jakarta sebagai pusat kegiatan nasional,” ujar AA Mapparessa.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf.
Kementerian Ekraf akan melihat peluang sinergi festival tersebut dengan berbagai program pengembangan subsektor kreatif yang relevan. Kolaborasi lintas bidang diharapkan dapat mempertemukan kekayaan budaya dengan subsektor seni pertunjukan, seni rupa, kriya, fesyen, arsitektur, desain, hingga kuliner.
Audiensi turut dihadiri Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar, serta perwakilan Direktorat Fesyen, Direktorat Kuliner, dan unit terkait Kementerian Ekonomi Kreatif. Dari FSKN hadir sejumlah raja, sultan, dan pemangku adat dari berbagai wilayah Indonesia.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
