Banten, 14 Oktober 2026 - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memfasilitasi total (empat puluh enam) jenama unggulan dari subsektor kuliner, kriya, dan fesyen untuk menjajaki kemitraan bisnis dengan calon pembeli global melalui partisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat daya saing produk lokal di kancah perdagangan internasional.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memfasilitasi total (empat puluh enam) jenama unggulan dari subsektor kuliner, kriya, dan fesyen untuk menjajaki kemitraan bisnis dengan calon pembeli global melalui partisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 , Banten 14/10/2026.
“Kementerian Ekraf dalam TEI 2026 merupakan salah satu langkah strategis untuk memperluas akses pasar dan mendorong produk ekonomi kreatif Indonesia agar semakin berdaya saing di pasar global. Partisipasi ini sejalan dengan program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) yang dilakukan oleh Direktorat Kuliner, Fesyen, dan Kriya, guna mendorong jenama ekonomi kreatif agar semakin siap memasuki pasar ekspor,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya, di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten, pada Rabu (14/10).
Berlangsung pada 14–18 Oktober 2026, TEI memasuki penyelenggaraan ke-41 sejak 1985, dengan mengusung tema The Ultimate Hub for Global Sourcing. Pameran ini mencakup lima zona produk, yakni makanan, minuman, dan produk pertanian; manufaktur; kawasan industri; fesyen dan kriya; serta furnitur dan dekorasi rumah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 ditargetkan mencapai nilai transaksi sebesar 17,5 miliar dolar AS, dengan partisipasi 1.873 peserta pameran dan 30.000 pengunjung. Hingga saat ini, sebanyak 16.885 pembeli (buyer) telah terdaftar, termasuk 8.092 pembeli internasional dari 134 negara.
“MoU ini dapat terwujud karena sejak awal pelaksanaan TEI, perwakilan perdagangan Indonesia, termasuk ITPC dan ADAG di luar negeri, terus melakukan penjajakan dengan calon pembeli potensial. Produk yang kami tampilkan dalam TEI ini meliputi makanan, minuman, produk pertanian, berbagai produk manufaktur, fesyen dan kriya, furnitur dan dekorasi rumah, hingga kawasan industri untuk menarik investor,” ujar Mendag.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf.
Kementerian Ekraf menghadirkan jenama binaan program ASIK pada tiga subsektor, yaitu kuliner, kriya, dan fesyen. Partisipasi tersebut diarahkan untuk memperkenalkan karakter dan keunggulan produk kreatif Indonesia, mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, serta membuka peluang penetrasi ke pasar ekspor.
“Kementerian Ekraf menghadirkan produk terkurasi dari 3 subsektor, yaitu 16 jenama kuliner, 18 jenama kriya, dan 12 jenama fesyen. Kehadiran jenama-jenama ini menjadi upaya untuk memperkuat promosi produk kreatif Indonesia sekaligus membuka peluang pertemuan dan kerja sama bisnis dengan buyer internasional,” tambah Menteri Ekraf.
Pada subsektor kuliner, sebanyak 16 jenama dari berbagai daerah menampilkan produk unggulan mereka di Hall 2,2-2 Jenama tersebut berasal dari sejumlah wilayah, menghadirkan ragam produk yang ditampilkan mencakup makanan olahan, camilan, minuman, madu, kopi, teh, cokelat, bumbu siap saji, hingga produk siap santap. Pengunjung juga dapat mencicipi sampel produk secara langsung.
Sementara itu, subsektor kriya menghadirkan 18 jenama di Hall 8,8-5 Peserta berasal dari berbagai daerah, produk yang ditampilkan merepresentasikan keragaman keterampilan dan material lokal, mulai dari kriya logam, kulit, kayu, keramik, tekstil, anyaman, kaca, hingga lilin aromatik.
Pada subsektor fesyen, memfasilitasi partisipasi 12 jenama yang berasal dari Bandung, Yogyakarta, Sumatera Barat, Jember, Jakarta, Bekasi, Bali, dan Pasuruan. Koleksi yang ditampilkan meliputi busana pria dan wanita, produk berbahan tenun dan lurik, batik, modest fashion, aksesori etnik, tas, sarung tangan kulit, hingga produk bordir.
Salah satu jenama binaan Kementerian Ekraf melalui program ASIK Kuliner, pemilik Pempek Cik Molek Yeni mengungkapkan terima kasih karena diberi kesempatan untuk hadir dalam Paviliun Kementerian Ekraf. Menurutnya hadir dalam TEI 2026, memberi kesempatan untuk mempromosikan produk yang nantinya akan di ekspor.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf.
“Kami sangat berterima kasih sekali kepada Kementerian Ekraf karena kami diberi kesempatan untuk hadir di Paviliun Kementerian Ekraf. Di sini kami bisa mempromosikan terutama kami fokus untuk ekspor, karena lebih fokusnya untuk buyer-buyer ke luar negeri, alhamdulillah Pempek Ce Molek tepat hari ini kita ada MOU dengan Jepang,” ujarnya.
Untuk mempertemukan jenama dengan calon mitra usaha secara lebih terarah, TEI 2026 juga menghadirkan program pendukung berupa business matching B2B, misi dagang, forum bisnis, dan konsultasi bisnis. Fasilitas ini diharapkan mendukung penjajakan kerja sama antara pelaku usaha dan calon pembeli.
Turut hadir sejumlah Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih, sejumlah Menteri, Wakil Menteri hingga Duta Besar Negara sahabat. Menteri Ekraf didampingi oleh Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu, Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen Internal dan Efektivitas Organisasi Yanuar Pranuradhi, Direktur Kuliner Romi Astuti, Direktur Kriya Neli Yana, Direktur Fesyen Iffah Sa’aidah dan Tenaga Ahli Menteri Bidang Media Rocklin Aprilius Anderson.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif





