Ramadan kerap menjadi momen keluarga kembali merapatkan jarak. Di tengah ritme ibadah dan kebersamaan, cerita-cerita justru sering menjadi ruang hangat untuk menanamkan nilai pada anak. Melalui buku, orangtua berbagi kisah, membangun kedekatan sekaligus menanamkan karakter sejak dini.
Kesadaran akan pentingnya literasi yang hangat dan dekat dengan dunia anak inilah yang melahirkan Kreatifafa, penerbit buku anak islami yang menanamkan nilai melalui cerita. Perjalanannya bermula dari sebuah rumah sederhana di Bandung, tempat tawa anak-anak pernah memenuhi hari-hari, sebelum berkembang menjadi gerakan literasi yang kini menjangkau ribuan pembaca.

Saat masih tinggal di Bandung, founder Kreatifafa, Fatchul Hidayah Clairine Yuzlar, membuka ruang bermain bagi sekitar 30 anak di rumahnya setiap hari. Di sana, mereka menggambar, membaca, melakukan eksperimen sains, hingga mengeksplorasi beragam aktivitas kreatif.
Perjalanan Fatchul ke berbagai daerah memperluas sudut pandangnya. Ia melihat dua realitas beriringan. Anak-anak di kota semakin lekat dengan gawai, sementara di wilayah lain, mereka justru kesulitan mengakses buku. Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gerakan kecil mendonasikan buku ke TPA, mushola, madrasah, dan sekolah sebagai upaya menghadirkan akses literasi yang lebih merata.
“Dari sinilah tekad kami muncul untuk berbuat lebih. Setelah kami pindah ke Jogja, saya ingin membuat buku sebagai kenang-kenangan untuk anak-anak yang sering main ke rumah. Dari sekadar karya kenang-kenangan untuk anak-anak di Bandung, ternyata buku tersebut laku dijual. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk serius mendirikan sebuah penerbit,” jelas Fatchul.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Apresiasi Langkah Kreatifafa Tembus Istanbul Publishing Fellowship Program 2026
Kini, kantor Kreatifafa di Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat kerja, melainkan ruang komunitas yang terbuka bagi anak untuk bermain, kreator untuk berkarya, dan masyarakat untuk bertemu dalam satu ekosistem yang mereka sebut “Semesta Kreatif”.
“Semesta Kreatif”: Dunia yang Tumbuh dari Kasih Sayang
Nama Kreatifafa sendiri lahir secara spontan, dari perpaduan aktivitas kreatif di rumah dan nama pendirinya, Fatchul dan Fathur. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan filosofi mendalam.
Logo bunga dengan 11 kelopak melambangkan kawelasan, yang berarti memohon welas asih Tuhan. Akar, batang, dan daun menjadi simbol pertumbuhan yang utuh, mencerminkan harapan agar karya mereka memberi keindahan bagi banyak anak.
Dari filosofi itu “Semesta Kreatif” dikembangkan. Karakter Krea dan Fafa hadir tidak hanya di buku, tetapi juga menjadi merchandise dan animasi.
Strategi Kreatifafa di Pasar Buku Anak
Di tengah pasar buku anak yang semakin kompetitif, Kreatifafa memilih fokus pada buku anak bertema Islami yang menanamkan nilai melalui pengalaman yang menyenangkan.
“Kami ingin menebar kasih sayang melalui buku, tanpa doktrin. Filosofi kami adalah membuat anak suka terlebih dahulu pada bukunya,” kata Fatchul.
Pendekatan ini diterjemahkan lewat pop-up book dengan ilustrasi tiga dimensi yang interaktif dan bahasa berima yang nyaman dibacakan. Bagi Kreatifafa, ketertarikan anak adalah pintu masuk bagi pembentukan karakter.
“Kami percaya buku adalah sarana terbaik untuk meningkatkan kedekatan antar anggota keluarga. Karena itulah buku-buku kami dibuat berima, read aloudable, dan memiliki round corner yang aman untuk anak.” Ujar Fatchul.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Gelar Literasi Bisnis di Malang Perkuat Kapasitas Pelaku Ekonomi Kreatif

Selain menghadirkan buku, Kreatifafa juga aktif menjangkau anak-anak secara langsung melalui program Kreatifafa Keliling. Program ini telah menyambangi lebih dari 10 kota dan menyapa lebih dari 1.000 anak. Melalui kegiatan membaca bersama dan aktivitas kreatif, buku dihadirkan langsung ke ruang-ruang yang selama ini minim akses liberasi.
Buku, Kolaborasi dan Dampak Sosial
Di balik keindahan pop-up Kreatifafa, terdapat proses panjang yang melibatkan kolaborasi penulis, ilustrator, hingga paper engineer. Setiap elemen dirakit agar mekanisme pop-up dapat mendukung pengalaman membaca cerita yang lebih menarik bagi anak.
Proses produksi juga membawa dampak ekonomi bagi komunitas sekitar. Perakitan buku dilakukan secara manual dengan melibatkan ibu-ibu di lingkungan sekitar.
“Dalam proses produksi ini, kami memberdayakan ibu-ibu di sekitar untuk membantu perakitan, sehingga dampak ekonomi kami tidak hanya untuk internal tim, tapi juga untuk komunitas terdekat,” tutur Fatchul.
Selain itu, Kreatifafa juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dengan menggunakan kertas dan tinta bersertifikasi FSC serta memastikan produk memenuhi standar keamanan.
Menembus Pasar Global
Perjalanan Kreatifafa tidak berhenti di dalam negeri. Terpilihnya mereka dalam Istanbul Publishing Fellowship Program menjadi momentum penting untuk memperkenalkan karya anak Indonesia ke pasar global.
Baca Juga : Wamen Ekraf Yakin Penguasaan Bahasa dan Literasi Jadi Kunci Lahirkan Karya Kreatif
Program tersebut membuka peluang kerja sama internasional, termasuk penawaran pembelian hak cipta dalam berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Turki, dan Prancis. Respons positif ini menunjukkan bahwa konten islami ramah anak dari Indonesia memiliki daya tarik universal.
“Ini membuka mata kami bahwa karya dari Indonesia memiliki tempat di pasar global,” kata Fatchul.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menyesuaikan cerita lokal agar dapat diterima secara universal tanpa kehilangan identitas.
Literasi yang Menyentuh Hati
Bagi Fatchul, keberhasilan Kreatifafa tidak semata diukur dari pertumbuhan bisnis atau pengakuan internasional, melainkan perubahan yang terjadi pada anak-anak.
Momen paling berkesan baginya adalah melihat anak-anak yang dahulu bermain di rumahnya kini tumbuh besar dan masih mengingat buku-buku pertama Kreatifafa.
“Melihat senyum dan mata mereka yang berbinar saat membaca buku Kreatifafa adalah kebahagiaan yang tak ternilai,” ujarnya.
Ramadan, Buku, dan Harapan Masa Depan
Memasuki Ramadan, Kreatifafa menerbitkan buku-buku bertema puasa, berbagi, dan kebersamaan keluarga yang dirancang untuk membantu orang tua menyampaikan nilai-nilai keislaman secara hangat dan mudah dipahami anak.

Baca Juga : Kemenekraf Apresiasi Kilau Ramadan 1001 Malam Batavia PIK
“Di momen Ramadan, saya rasa keinginan orangtua untuk memiliki bonding dengan anak semakin tinggi, terutama dalam menyampaikan pesan-pesan dan cerita islami. Ke depannya, kami ingin mengembangkan lebih banyak produk yang bisa menjadi sarana interaksi orang tua dan anak selama bulan suci, seperti buku aktivitas Ramadan atau board book cerita-cerita nabi yang ringan untuk balita,” ujar Fatchul.
Tahun ini, Kreatifafa juga akan menggelar kelas kreatif rutin setiap pekan selama Ramadan bekerja sama dengan berbagai mitra. Melalui kegiatan belajar dan berkarya bersama, mereka ingin menghadirkan Ramadan sebagai momen ibadah sekaligus pembelajaran, kreativitas dan kebersamaan keluarga.
Di tengah arus digital yang semakin deras, kisah ini menjadi pengingat: sebuah buku, ketika lahir dari kepedulian, dapat menjadi cahaya kecil yang menuntun perjalanan banyak kehidupan.
