Jakarta, 22 Oktober 2026 - Indonesia memperluas jejaring diplomasi global melalui penguatan kolaborasi ekonomi kreatif lintas subsektor bersama Pemerintah Australia. Langkah strategis ini dijajaki dalam pertemuan bilateral antara Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Bekraf, Teuku Riefky Harsya, dan Menteri Seni Australia, Tony Burke, di sela rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (22/10).
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Pertemuan tersebut berfokus pada empat agenda prioritas yaitu perlindungan Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP), tata kelola Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang adil bagi pekerja seni, peningkatan kapasitas talenta, serta penetrasi rantai pasok global bagi industri gim dan animasi nasional.
“Indonesia memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui implementasi Rindekraf 2026–2045 yang melibatkan 26 kementerian dan lembaga. Melalui tiga program unggulan Kementerian Ekraf seperti aktivasi desa kreatif, aktivasi kreatif hub, serta pengembangan Creative by Indonesia yang mampu melihat local heroes go national and national champions global. Maka, kami membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Australia maupun perusahaan-perusahaan Australia sehingga pengembangan talenta, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pasar dapat dilakukan bersama,” ucap Menteri Ekraf.
Menteri Ekraf memaparkan bahwa pilar pemerataan ekonomi kreatif telah diwujudkan melalui aktivasi 80 desa kreatif dan 60 creative hub di berbagai pelosok nusantara selama dua tahun masa kerja Kabinet Merah Putih. Program ini dirancang guna memastikan penciptaan lapangan kerja berkualitas dan transfer pengetahuan sampai ke luar Pulau Jawa.
“Perlindungan kekayaan intelektual menjadi perhatian penting bagi Indonesia karena karya dan inovasi merupakan aset utama ekonomi kreatif. Kami ingin mempelajari pengalaman Australia dalam membangun regulasi AI yang tetap memberikan ruang bagi inovasi teknologi, tetapi juga melindungi hak dan kepentingan ekonomi para kreator. Disisi lain, kami melihat peluang konkret untuk mempertemukan studio gim dan animasi Indonesia dengan mitra Australia sehingga talenta lokal yang telah memiliki kemampuan berstandar internasional dapat terlibat dalam rantai produksi global,” tambah Menteri Ekraf.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Sementara itu, Menteri Seni Australia Tony Burke mengapresiasi dialog strategis ini dan membagikan langkah-langkah yang sedang ditempuh pemerintahnya terkait tata kelola hak cipta di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan peluang besar bagi industri kreatif, tetapi juga menimbulkan persoalan terkait kepemilikan karya, kompensasi ekonomi, dan perlindungan ekspresi budaya. Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks dalam melindungi karya seni visual, sastra, musik, hingga ekspresi budaya masyarakat adat Australia.
“Kami sedang melakukan pekerjaan yang sangat intensif untuk mencari cara agar para seniman memperoleh remunerasi atas penggunaan karya mereka dan tetap memiliki kendali dalam proses negosiasi. Kami juga sedang merumuskan prinsip-prinsip regulasi yang nantinya akan diterjemahkan menjadi undang-undang. Ini merupakan tantangan karena kami harus menemukan keseimbangan antara manfaat teknologi dan perlindungan hak para kreator,” ungkap Tony Burke.
Tony Burke juga menyoroti tantangan distribusi karya musik Australia pada platform streaming global. Menurutnya, algoritma platform digital cenderung mengarahkan pendengar musik berbahasa Inggris kepada karya dari pasar yang lebih besar, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang memiliki pasar domestik kuat dan tingkat konsumsi konten lokal yang tinggi. Kedua pihak turut bertukar pandangan mengenai pentingnya memperkuat pertunjukan langsung (live music/concert), distribusi karya lokal, serta keberlanjutan pendapatan bagi musisi dan pekerja kreatif.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Pembahasan kemudian berlanjut pada peluang kolaborasi industri gim dan animasi. Australia melihat adanya kesamaan kompetensi antara industri perfilman dan pengembangan gim, terutama dalam penulisan cerita, animasi, produksi audiovisual, serta keterlibatan aktor. Indonesia menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi hubungan antara asosiasi, komunitas, dan studio pengembang gim nasional dengan perusahaan Australia. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan produksi bersama, peningkatan keterampilan, serta akses terhadap jaringan industri kreatif internasional.
Pertemuan bilateral Indonesia–Australia menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi ekonomi kreatif melalui WCCE 2026. Dialog kedua negara diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pertukaran pengalaman kebijakan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta penjajakan kemitraan bisnis yang memberikan manfaat nyata bagi pegiat ekonomi kreatif. Kerja sama tersebut sekaligus mempertegas pentingnya perlindungan hak kreator dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Menteri Ekraf juga terlihat menghadiri Plenary Session Day 1 WCCE 2026 yang mana Tony Burke menjadi pembicara dan membahas tantangan ekonomi kreatif era digital dan kecerdasan buatan (AI). Dalam sesi The Nation’s Creative Economy Blueprint, Tony Burke menegaskan pentingnya menghargai kreator, musisi, seniman sebagai pekerja kreatif dan menjaga relevansi budaya lokal di tengah dominasi platform streaming global.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Turut hadir mendampingi Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya yaitu Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Mohammed Ali Berawi; Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antar Lembaga, Rian Firmansyah; Direktur Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan, Danny Rahdiansyah; Direktur Kajian dan Manajemen Strategis, Agus Syarip Hidayat; Direktur Film, Animasi, dan Video, Doni Setiawan; serta Tenaga Ahli Menteri, Gemintang Kejora Mallarangeng.
Bilateral Meeting juga dihadiri Wakil Duta Besar Australia, Gita Kamath; Penasihat Menteri, Alex McCaffrey, Minister Counselor Charlotte Krass, and Counselor Chloe Ashbolt, Direktur pada Office for the arts, Julia Balkwell; Direktur Jenderal pada Department of Home Affairs, Brendan Dowling dan Sekretaris Kedua, Lauren Carew.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
