Jakarta, 23 Oktober 2025 – Indonesia dan Filipina menjajaki peluang memperluas kerja sama di sektor ekonomi kreatif, khususnya musik, desain, fesyen, dan seni. Pembahasan ini berlangsung dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, dan Deputy Executive Director Philippine Creative Industries Development Council Secretariat, Department of Trade and Industry, Paolo Federico A. Ramos.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Dalam pertemuan yang digelar di sela-sela The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Jumat (23/10), membuka peluang pertukaran pengalaman, perluasan jejaring, serta akses pasar bagi pelaku kreatif kedua negara.
Wamen Ekraf menilai, kedekatan budaya Indonesia dan Filipina dapat menjadi modal untuk mengembangkan kolaborasi yang saling menguntungkan.
Salah satu peluang kerja sama juga terlihat melalui Creativillage bertema A Journey Through Indonesian Creative Economy, yang menjadi bagian dari WCCE 2026. Program ini mengusung tiga pilar, yakni showcase, collaboration, dan promotion, melalui pameran produk, aktivasi jenama, serta pengalaman interaktif.
“Kami menghadirkan dua Creativillage. Di sana, pengunjung dapat melihat para perajin tenun dari Indonesia Timur, serta karya para arsitek dan seniman yang berkaitan dengan fesyen berkelanjutan. Saya merasa ada peluang bagi kita untuk berkolaborasi. Creativillage kedua juga akan sangat menarik bagi anak-anak karena menampilkan berbagai hal di layar,” ujar Wamen Ekraf.
Wamen Ekraf turut melihat potensi kerja sama melalui pertukaran dan promosi seniman. Dia menilai dukungan kolektor terhadap seniman muda di Filipina dapat menjadi pembelajaran untuk memperluas kesempatan bagi seniman Indonesia menampilkan karya di pasar Filipina, begitu pula sebaliknya.
“Saya merasa para kolektor dari Filipina sangat mendukung seniman muda mereka. Jika ada kesempatan, kita dapat membawa seniman Indonesia untuk tampil dan memperkenalkan karya mereka di Filipina, sehingga mereka bisa melihat perbedaan yang ada, begitu pula sebaliknya. Seni merupakan salah satu cara untuk menampilkan budaya, dan kedua negara memiliki banyak kesamaan budaya. Saya rasa ini merupakan sesuatu yang bisa kita kerjakan bersama,” ungkapnya.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Paolo menyambut baik peluang tersebut dan menilai kerja sama kedua negara dapat dikembangkan melalui berbagai sektor, termasuk desain dan fesyen, serta musik dan seni pertunjukan. Ia juga melihat berbagai inisiatif ekonomi kreatif Indonesia sebagai peluang untuk bertukar pengalaman dan mengembangkan program bersama.
“Kami sebenarnya ingin menjajaki hal ini. sejumlah musisi Filipina yang menurut saya telah berhasil memasuki pasar Indonesia, sementara beberapa musisi Indonesia juga mulai menarik perhatian. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu di sektor musik. Saya rasa ada peluang untuk itu. Kami akan mengundang ketika ada acara yang relevan, semoga kita dapat mengembangkan sesuatu melalui kolaborasi,” ujar Paolo.
Pertemuan bilateral ini turut dihadiri Commercial Counsellor and ASEAN Economic Official Jollan Margaret A. Llaneza, Chief Trade Industry Development Officer Mary Anne Y. Pinlac, serta Senior Trade Industry Development Specialist Department of Trade and Industry Jasha R. Gutierrez. Wamenekraf, Irene Umar didampingi Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan, Danny Rahdiansyah.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
Informasi lebih lanjut mengenai WCCE, kunjungi:
Website wcce.id dan ekraf.go.id/news
Instagram @wcceid
Event deck ekr.af/wccegeneraldeck
Media kit ekr.af/mediakitwcce2026
