Bogor, 7 Agustus 2026 – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, meninjau lokasi syuting film internasional Happy Eyes di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor. Film tersebut merupakan kolaborasi produksi berskala global antara Moana Films Prancis dengan studio film Indonesia Jungle Run Productions.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya (kiri), berbincang dengan Direktur Institut Francais Indonesia (IFI), Jules Irrmann (kanan), saat meninjau lokasi syuting film internasional Happy Eyes di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Jawa Barat (7/08/2026).
Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung proses produksi film internasional sekaligus memperkuat komitmen pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi unggulan lokasi syuting film internasional.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Ekraf menyampaikan bahwa Indonesia terbuka bagi para sineas dan rumah produksi dari berbagai negara yang ingin melakukan produksi film di Tanah Air. Menurutnya, kekayaan alam, keanekaragaman hayati, keragaman budaya, serta ketersediaan talenta lokal yang kompeten menjadi daya tarik utama yang menjadikan Indonesia sebagai lokasi syuting film internasional.
"Indonesia ingin semakin membuka diri untuk produksi-produksi film dari berbagai negara. Hari ini kita menyaksikan tim produksi dari Prancis dan didukung oleh manajemen Taman Safari Indonesia yang juga sangat mendukung. Tentunya kita ingin bahwa culture Indonesia, alam Indonesia, tim production dan talent-talent Indonesia juga bisa semakin kolaborasi, karena dalam kolaborasi tidak hanya mempromosikan Indonesia tetapi juga ada transfer knowledge, ada transfer teknologi, dan banyak hal untuk mendukung industri film Indonesia sebagai diplomasi kita ke dunia internasional," ujar Menekraf, Jumat (7/8).
Proses syuting film Happy Eyes berlangsung sepenuhnya di Indonesia selama sekitar 40 hari, dengan lokasi utama di Taman Safari Bogor dan Tanjung Lesung, Banten. Produksi film ini melibatkan sekitar 40 kru asing dan 180 kru Indonesia. Kementerian Ekraf menekankan bahwa kehadiran produksi film internasional di Indonesia memberikan multiplier effect (dampak berganda) yang signifikan, baik bagi perekonomian nasional maupun daerah.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Produksi film internasional tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga menggerakkan sektor akomodasi, perhotelan, kuliner, UMKM, transportasi, logistik, dan pariwisata, sehingga berpotensi mendorong peningkatan kunjungan wisatawan pasca-rilis film.
Bukan hanya dampak ekonomi jangka pendek, kehadiran produksi film asing berkontribusi langsung pada peningkatan nilai investasi asing (Foreign Direct Investment) di subsektor perfilman. Pemerintah melalui Kementerian Ekraf berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh serta fasilitas kemudahan bagi para pelaku industri kreatif asing yang ingin berproduksi di Indonesia. Langkah strategis yang terus diperkuat meliputi koordinasi antarlembaga hingga dukungan fasilitasi perizinan.
"Bahwa dalam memberikan dukungan film production internasional seperti ini kami juga terus berkolaborasi, sehingga, dapat mempermudah dalam memberikan kemudahan, apakah itu kaitannya dengan visa, perizinan, kemudian juga untuk masuknya perlengkapan peralatan, hingga dikeluarkannya kembali. Inilah tugas dari pemerintah sehingga investasi di industri film Indonesia bisa semakin berkembang," pungkas Menekraf.
Executive Producer Happy Eyes, Joe Yaggi mengatakan, produksi film Happy Eyes melibatkan lebih dari 200 kru yang mana 70 persen berasal dari Indonesia. Joe mengharapkan akan banyak film internasional yang melakukan produksi di Indonesia.
“Saya sangat menghargai bantuan dari Ekraf (Kementerian Ekraf) dan semua kementerian yang bantu kami dengan film ini. Kru kami kira-kira 200 orang dan 70% dari Indonesia. Kru dari Prancis mereka senang sekali kerja dengan kru kita, bukan hanya senang kerja dengan kru kita, mereka sangat impress dengan kru kita. Jadi, kita ada kesempatan di sini untuk saya harap film yang (seperti ini) lebih banyak seperti ini karena kru kita bisa kerja di tingkat internasional,” ujar Joe.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Direktur Utama Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau menyampaikan, kehadiran proses produksi film seperti ini menjadi suatu storytelling untuk mendorong konservasi yang menjadi pilar utama Taman Safari Indonesia.
“Ini adalah suatu storytelling yang bisa dipakai untuk mendorong konservasi yang salah satu pilar Taman Safari Indonesia. Jadi, menjadi bagian dari hal-hal besar seperti ini adalah impian Taman Safari ke depan. Saya yakin ke depannya pasti ekonomi kreatif Indonesia ini bisa semakin maju,” ungkap Aswin.
Turut hadir dalam kesempatan ini antara lain Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Wahyu Wijayanto; Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Cheryl Tanzil; Direktur Institut Français Indonesia (IFI), Jules Irrmann; Executive Producer Moana Films, Christine de Jekel; Director/Sutradara Happy Eyes, Gilles de Maistre; Line Producer film Happy Eyes, Chali Sakyan; serta Perwakilan Direktorat Investasi dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Luar Negeri.
Menekraf didampingi oleh Deputi Bidang Kreativitas Media, Cecep Rukendi; Staf Khusus Menteri Bidang Strategis dan Hubungan Antarlembaga, Rian Syaf; Plt. Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif sekaligus Direktur Kajian Strategis dan Manajemen, Agus Syarip Hidayat; Direktur Film, Animasi, dan Video, Doni Setiawan.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
