Transformasi Jamu, Dulu Digendong kini Jadi Lifestyle

Kemenekraf/Bekraf RIRabu, 24 Juni 2026
Transformasi Jamu, Dulu Digendong kini Jadi Lifestyle

Dulu, jamu identik dengan sosok ibu-ibu yang berjalan dari satu kampung ke kampung lain sambil menggendong bakul berisi botol-botol kaca. Racikan kunyit asam, beras kencur, hingga temulawak menjadi minuman yang akrab dengan generasi orang tua dan lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Jejak jamu bahkan telah melampaui masyarakat Nusantara. Pada masa kolonial, berbagai tanaman herbal yang menjadi bahan dasar jamu menarik perhatian ilmuwan Eropa untuk diteliti. Salah satunya adalah ahli botani blasteran Jerman-Belanda, Georg Eberhard Rumphius, yang mendokumentasikan beragam tanaman bermanfaat di Kepulauan Maluku dalam karya Herbarium Amboinense yang terbit pada abad ke-18.

Kini, pemandangan itu mulai berubah. Bukan jamunya yang menghilang, melainkan cara masyarakat mengenalnya. Jamu tak lagi semata dipandang sebagai minuman kesehatan bagi kalangan tua. Di tangan generasi baru, jamu hadir dalam kemasan yang lebih modern, dipasarkan melalui media digital, dan mulai menjadi bagian dari gaya hidup sehat.

Baca Juga : Wamen Ekraf: Jamu Identitas Global Indonesia, Lestarikan Lewat Inovasi

Perubahan tersebut terlihat dari bermunculannya kedai-kedai jamu di berbagai kota. Meski jumlahnya belum sebanyak coffee shop, tempat-tempat ini mulai menjadi ruang berkumpul bagi anak muda yang ingin menikmati minuman sehat dengan sentuhan tradisi.


Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf

Baca Juga : Wamen Ekraf Dukung Penguatan Gastronomi melalui Inovasi Kopi Fermentasi Lokal

Transformasi tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan panjang jamu di Indonesia. Selama berabad-abad, berbagai racikan herbal berbahan rempah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran.

Nilai budaya yang terkandung dalam tradisi jamu bahkan mendapat pengakuan dunia. Pada 2023, UNESCO menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda, menegaskan bahwa jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan warisan pengetahuan dan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Di tengah pengakuan tersebut, tantangan baru muncul: bagaimana menjaga warisan jamu tetap relevan bagi generasi masa kini? Sejumlah pelaku usaha kemudian menjawab tantangan itu melalui inovasi produk, kemasan, hingga konsep penyajian yang lebih dekat dengan gaya hidup anak muda.

Founder Acaraki, Jony Yuwono, mengungkapkan jamu bukan sekadar minuman menyehatkan, tetapi juga menyimpan cerita, budaya, dan warisan Nusantara yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Festival Jamu Nusantara. Acaraki sendiri produsen jamu yang tampil dengan cara dan pengemasan modern.

"Melalui Festival Jamu Nusantara, kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa jamu dan budaya Indonesia dapat terus berkembang mengikuti zaman. Ketika tradisi bertemu kreativitas, kekayaan budaya tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu melahirkan peluang baru bagi generasi masa kini dan masa depan," ujar Jony.

Baca Juga : Menteri Ekraf Dorong Tumpeng Jadi IP Gastronomi dan Alat Soft Power

Senada dengan itu, Ketua Dewan Jamu Indonesia (DJI), Daniel Tjen, menilai jamu layak menjadi budaya Indonesia yang semakin dikenal di tingkat global. Untuk mendukung upaya tersebut, DJI akan menggelar The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) 2026 pada Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Ekonomi Kreatif Nasional.


Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf

Menurut Daniel, JICE 2026 dirancang sebagai platform terpadu berskala internasional yang menggabungkan konferensi ilmiah, pameran industri, serta promosi budaya.

"Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu. Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini," katanya.

Baca Juga : Menteri Ekraf Bahas Usulan Bogor Jadi Kota Gastronomi Melalui UCCN

Di tengah derasnya arus tren kesehatan global dan menjamurnya berbagai minuman modern, jamu menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi tanpa kehilangan akar budayanya. Dari bakul gendong yang dahulu menyusuri kampung-kampung hingga hadir di etalase kedai modern dan forum internasional, jamu membuktikan bahwa tradisi tidak harus tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, ketika dipadukan dengan inovasi dan kreativitas, warisan budaya dapat terus hidup, tumbuh, dan menemukan generasi penikmatnya yang baru.

Acaraki
Jamu Festival