Jakarta, 6 Maret 2026 – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar berbicara tentang kolaborasi yang fokus pada inovasi dan aksi nyata bagi ekonomi kreatif Indonesia, termasuk tantangan serta dukungan terhadap kreator konten, musisi, dan talenta-talenta dari tiap subsektor ekraf. Wamen Ekraf Irene meyakini setiap pejuang kreatif bisa berkembang melalui media sosial yang menjangkau audiens internasional.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, saat menjadi pembicara dalam Talkshow ASTAKARYA di Nusantara Ballroom, NT Tower, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
“Pertanyaannya bukan lagi soal modal atau koneksi, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk mulai berusaha sendiri menjadi pejuang ekonomi kreatif. Kalau benar ingin berkarya, selalu ada jalan untuk berkembang, apalagi era digital sekarang yang tidak mengenal limitations in access to funding and network,” ucap Wamen Ekraf Irene saat menjadi pembicara dalam Talkshow ASTAKARYA di Nusantara Ballroom, NT Tower, Jakarta Timur pada Jumat, 6 Maret 2026.
Kegiatan talkshow ini menjadi rangkaian dari Rapat Kerja Nasional Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Rakernas GEKRAFS) 2026 dengan mengusung tema ‘Astakarya: Akselerasi Karya, Transformasi Ekonomi Indonesia’. Dalam diskusi yang dilakukan hari ini, para narasumber menegaskan pentingnya kreativitas yang tak sekadar ide saja, tetapi mampu dikembangkan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan, baik melalui kolaborasi serta pemanfaatan teknologi digital.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.
“Tugas Kementerian Ekraf ialah memberikan panggung bagi para pejuang ekraf untuk showcase apa yang dipunya. Salah satunya, kami sudah launching Ekraf Hunt, yang mana pejuang ekraf bisa memasukkan portfolio and self manage melalui akunnya sehingga masuk dalam centralized database. Dengan adanya platform dan jaringan yang kami bangun, talenta kreatif Indonesia bisa lebih mudah ditemukan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak,” jelas Wamen Ekraf Irene yang juga menjadi Wakil Dewan Pakar GEKRAFS.
“Saya ingin menantang semua teman-teman GEKRAFS untuk melakukan sesuatu yang anti mainstream atau out of the box sebulan sekali sehingga akan lebih banyak kolaborasi antara kreator lokal dan nasional untuk melakukan kreativitas di luar nalar, tapi tetap mendorong pergerakan ekonomi kreatif Indonesia,” imbuh Wamen Ekraf Irene.
Senada dengan pernyataan Wamen Ekraf Irene, Yovie Widianto sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Ekraf sekaligus Ketua Dewan Pakar GEKRAFS menekankan bahwa kreativitas sering kali lahir dari keterbatasan dan tantangan. Yovie Widianto turut menceritakan perjalanan kariernya yang telah berkarya di industri musik Indonesia lebih dari empat dekade.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.
“Saya berkarya sejak tahun 1983 dan lebih dari 40 tahun bersama Kahitna. Saya selalu percaya bahwa kreativitas itu datang dalam kondisi terbatas atau terdesak seperti seorang penulis yang mungkin dikejar deadline. Selain itu, saya juga berteman dengan kemajuan teknologi sehingga keniscayaan untuk bermusik semakin berkembang,” tambah Yovie Widianto.
Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni sekaligus Wakil Ketua Umum DPP GEKRAFS, Raffi Ahmad, menuturkan bahwa kreativitas harus diarahkan menjadi kekuatan bisnis sehingga pejuang ekonomi kreatif mampu bersaing di pasar global. Raffi Ahmad menilai kreativitas perlu dilindungi melalui penguatan hak kekayaan intelektual serta pengelolaan yang profesional.
“Kreativitas itu memang intangible value. Sekreatif apapun kita, kalau akhirnya tidak bisa bersaing di dunia bisnis, kita akan kalah. Oleh karena itu, kita harus selamatkan Intellectual Property (IP)-nya untuk dilindungi termasuk hak cipta dan royalti sehingga bisnis yang dikelola membuat roda ekonomi bisa berjalan,” tutur Raffi Ahmad.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.
Raffi Ahmad menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor dalam ekosistem ekonomi kreatif. Menurutnya, keberhasilan dalam industri kreatif tidak lahir dari individu semata, tetapi juga kerja solid tim kreatif yang dibentuk.
“Dalam dunia kreatif, tidak ada yang hebat karena satu orang. Tidak ada superman, yang ada ialah super team sebagai bentuk kolaborasi yang membuat kreativitas berkembang dan bertahan lama. Kreativitas itu bukan hanya sebuah karya, tetapi juga masa depan bangsa,” imbuh Raffi Ahmad.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.
Dipandu moderator Temmy Sumarlin, talkshow semakin interaktif dengan sesi tanya jawab dari perwakilan DPD, DPW, dan DPC GEKRAFS mengenai bagaimana mengubah hobi menjadi profesi hingga dukungan bagi talenta atau musisi lokal. Kolaborasi menjadi kunci strategis yang memicu kreativitas, baik media sosial maupun dunia nyata sehingga menghasilkan konten-konten kreatif yang berdampak.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
