Jakarta, 11 Juni 2026 – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong pelaku ekonomi kreatif untuk memperkuat nilai tambah karya melalui pengembangan intellectual property (IP), storytelling, dan penguatan brand agar mampu bersaing di pasar global. Hal tersebut disampaikan Wamen Ekraf saat menerima audiensi Cap Bali di Autograph Tower, Jakarta.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi dari Cap Bali di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
“Kita perlu mulai berpikir bukan hanya menjual produk, tetapi juga membangun dan mengekspor brand Indonesia. Ketika sebuah brand memiliki identitas yang kuat dan mampu bercerita, nilai tambah yang tercipta akan jauh lebih besar dan berkelanjutan,” ujar Wamen Ekraf, Kamis (11/6).
Dalam audiensi tersebut, Cap Bali memaparkan sejumlah inisiatif yang tengah dikembangkan, mulai dari penguatan identitas merek berbasis budaya Bali, pengembangan karakter dan IP lokal, hingga berbagai kolaborasi kreatif untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda.
Menurut Irene, budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi IP yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Karena itu, pelaku ekonomi kreatif perlu terus mengeksplorasi berbagai bentuk kolaborasi dan inovasi agar budaya dapat dihadirkan dalam format yang dekat dengan generasi muda.
“Budaya Indonesia memiliki cerita yang sangat kaya. Tantangannya adalah mengemas cerita tersebut menjadi karakter dan IP yang relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan nilai budayanya,” kata Irene.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Salah satu program yang dipaparkan Cap Bali dalam audiensi tersebut adalah pengembangan karakter berbasis budaya Bali yang mengangkat kisah dan filosofi Barong melalui pendekatan kreatif yang lebih dekat dengan dunia desain, fesyen, musik, dan pop culture. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap budaya Indonesia sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan IP lokal.
Upaya tersebut sejalan dengan visi Cap Bali untuk menghadirkan budaya Indonesia dalam format yang lebih dekat dengan masyarakat modern sekaligus memperkuat posisi brand lokal di pasar yang lebih luas.
Komisaris Cap Bali, Ari Danangga, mengatakan pihaknya terus berupaya mengembangkan brand lokal yang berakar pada budaya Indonesia melalui berbagai inovasi kreatif dan kolaborasi lintas subsektor.
“Kami ingin budaya Bali tidak hanya dikenal melalui produknya, tetapi juga melalui cerita, karakter, dan pengalaman yang dapat dinikmati lebih banyak orang. Harapannya, karya kreatif berbasis budaya Indonesia semakin dikenal dan memiliki daya saing di pasar global,” ujar Ari.
Audiensi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku ekonomi kreatif dalam mengembangkan budaya sebagai sumber inspirasi, inovasi, dan nilai ekonomi melalui pengembangan IP, karakter, serta brand lokal yang berdaya saing global.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
