Wamen Ekraf Dorong Talenta Desain Hasilkan Karya Berdampak di MODB 2026

Kemenekraf/Bekraf RISabtu, 22 Agustus 2026
Wamen Ekraf Dorong Talenta Desain Hasilkan Karya Berdampak di MODB 2026

Jakarta, 22 Agustus 2026 – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar mengungkapkan, pengembangan talenta desain tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghasilkan karya, tetapi juga membangun cara berpikir untuk memahami persoalan serta menciptakan desain yang memiliki tujuan dan memberikan dampak.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menjadi pembicara dalam acara Master of Design BINUS (MODB) 2026: First Wave – The Convergence of Design yang diselenggarakan Master of Design BINUS di FX Sudirman, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam acara Master of Design BINUS (MODB) 2026: First Wave – The Convergence of Design yang diselenggarakan Master of Design BINUS di FX Sudirman, Jakarta, Sabtu (22/8). 

“Desain itu bisa membentuk behavior manusia. Karena itu, kita perlu melihat bagaimana desain tidak hanya estetis dan fungsional, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang transformatif terhadap perilaku manusia,” ujar Irene.

MODB 2026 merupakan penyelenggaraan perdana agenda Master of Design BINUS pada 19–22 Agustus 2026 dengan tema “The Convergence of Design”. Rangkaian kegiatan mencakup MODB Exhibition yang menampilkan karya tesis lulusan angkatan pertama dan kedua, Innovation Talks, serta Design Dealing Room yang mempertemukan karya desain dengan industri.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.

Irene mengatakan, penerapan desain di ruang publik, seperti sistem informasi dan signage, dapat memengaruhi cara masyarakat menerima informasi sekaligus membentuk perilaku. Karena itu, menurutnya, setiap elemen desain perlu memiliki tujuan yang jelas, bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mendorong perubahan.

Untuk itu, Irene mendorong talenta desain untuk tidak membatasi diri pada subsektor atau profesi tertentu. Menurutnya, pengembangan karya membutuhkan pemahaman terhadap perspektif dan persoalan dari berbagai bidang. Kolaborasi antara desain, teknologi, bisnis, dan disiplin lainnya dapat memperluas wawasan serta menghasilkan solusi yang lebih relevan.

“Jangan hanya melihat diri kita berdasarkan subsektor atau profesi. Ketika kita mengerjakan sebuah proyek, yang paling penting adalah purpose dan mission-nya. Kalau desainer bisa memahami main point dari bidang lain dan sebaliknya, kita bisa menciptakan sesuatu yang jauh lebih kuat,” jelas Irene.

Irene juga mendorong kampus menjadi sandbox atau ruang aman bagi mahasiswa untuk bereksperimen, mengajukan pertanyaan, melakukan kesalahan, dan beriterasi. Menurutnya, proses tersebut penting agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk mencoba dan belajar sebelum menghadapi dunia profesional. Lingkungan semacam ini juga dapat mendorong kolaborasi lintas disiplin, termasuk desain, arsitektur, bisnis, teknologi, dan bidang lainnya.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.

“_Educate designers_, shape the future. Kita perlu membangun desainer yang berpikir, bukan hanya memproduksi. Jangan takut mengambil risiko, jangan terlalu terikat pada ide atau desain sendiri, tetapi tetap berpegang pada intensi dan tujuan yang ingin dicapai,” kata Irene.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Irene menyarankan talenta desain untuk memanfaatkan kecerdasan artifisial (_Artificial Intelligence_/AI) sebagai alat untuk mempercepat proses, tanpa menghilangkan sentuhan manusia. Selain AI literacy, talenta perlu memiliki kemampuan kepemimpinan dan systemic thinking, kesiapan terhadap kekayaan intelektual (_IP-readiness_), cultural intelligence, serta kemampuan designing impact. Menurutnya, kelima kemampuan tersebut penting agar desainer mampu berpikir secara jernih, memahami konteks budaya, menjaga nilai karya, dan memastikan setiap keputusan desain memiliki tujuan.

Kementerian Ekraf terus mendorong pengembangan talenta dan ekosistem desain melalui sejumlah program, antara lain Badan Ekraf Digital Talent, Ekraf Design Festival, fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Cultural Design, Akselerasi Desain, serta Bedah Desain Kemasan. Program-program tersebut menjadi bagian dari dukungan Kementerian Ekraf dalam memperkuat kapasitas talenta, mengembangkan karya, meningkatkan pemanfaatan kekayaan intelektual, serta membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri. 

Melalui MODB 2026, Kementerian Ekraf mendorong semakin luasnya ruang pertemuan antara talenta desain, dunia pendidikan, pemerintah, dan industri. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem desain sekaligus mendorong talenta untuk menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi mampu menjawab persoalan, membentuk perilaku, dan memberikan dampak bagi masyarakat.

 

Kiagoos Irvan Faisal 

Kepala Biro Komunikasi 

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

Teuku Riefky Harsya
Irene Umar
Menekraf
Wamenekraf
The New Engine Of Growth
Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Kemenekraf/Bekraf
KitaMulaiCaraBaru