Jakarta, 18 Agustus 2026 – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong kreator mengembangkan karya menjadi aset bernilai ekonomi saat menghadiri IdeaFriends ‘After Hours: Creator Economy’ di Taman Arca, Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (15/8). Kolaborasi Kementerian Ekraf, Indosat Ooredoo Hutchison, Adobe, Museum Nasional Indonesia, dan IdeaFest ini mempertemukan 100 kreator untuk belajar, membangun jejaring, memanfaatkan teknologi kreatif, dan membuka peluang ekonomi.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar saat menghadiri IdeaFriends 'After Hours : Creative Economy' di Taman Arca, Museum Nasional , Jakarta, Sabtu (15/08/2026).
Ajang tersebut memadukan pengalaman di ruang budaya dengan teknologi kreatif melalui Tur Malam di Museum, Adobe Express Template Challenge, Lightning Talks, pengenalan komunitas, dan sesi jejaring. Dalam acara yang sama, Adobe memperkenalkan Create and Earn, program monetisasi kreator yang memungkinkan peserta membuat template di Adobe Express dan memperoleh imbalan berdasarkan karya serta tingkat penggunaan template yang mereka hasilkan.
“Para kreator membutuhkan akses terhadap teknologi, kesempatan untuk belajar, komunitas untuk berkolaborasi, dan kesempatan untuk menjadikan kreativitas mereka sebagai sumber penghidupan dan karier. Karena itu, kolaborasi seperti ini menjadi sangat penting,” kata Wamen Ekraf Irene Umar.
Irene mengatakan, penguatan ekosistem kreatif perlu menjangkau talenta di berbagai daerah. Menurutnya, kreator di Jakarta maupun di daerah perlu memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, memperkenalkan karya, dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Melalui kolaborasi dengan Adobe dan Indosat Ooredoo Hutchison, Kementerian Ekraf mendorong terciptanya ekosistem yang menghubungkan kreativitas dengan teknologi, industri, pemerintah, dan komunitas. “Semangat yang kami bangun adalah create, connect, and earn. Create memberikan akses dan kesempatan untuk berkarya, connect menghubungkan kreator dengan teknologi, pemerintah, industri, dan komunitas, sementara earn memastikan kreativitas tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi sumber ekonomi dan penghasilan,” ujar Irene.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Irene juga menekankan pentingnya membina talenta dan Kekayaan Intelektual (KI) sejak dini melalui paparan terhadap industri serta dukungan ekosistem yang kuat. Karya kreator tidak hanya perlu dilindungi, tetapi juga dikembangkan menjadi aset bernilai ekonomi melalui model bisnis, lisensi, kolaborasi, dan berbagai bentuk komersialisasi. Dengan 21 subsektor ekonomi kreatif, peluang pengembangan karya dan KI terbuka luas bagi generasi kreatif Indonesia.
Director & Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Reski Damayanti, mengatakan kekayaan budaya dan alam merupakan salah satu keunikan Indonesia yang dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan ekonomi kreatif. “Budaya kita adalah salah satu keunikan terbesar Indonesia. Karena itu, kita membutuhkan teman-teman dari ekosistem kreator untuk mengembangkan budaya kita menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat dikenal dunia,” ujar Reski
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Melalui IdeaFriends “After Hours: Creator Economy”, kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan membuka lebih banyak ruang bagi kreator Indonesia untuk memperoleh pengalaman, membangun jejaring, memanfaatkan teknologi, serta mengembangkan karya menjadi sumber nilai ekonomi. Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi pemerintah, industri, teknologi, komunitas, dan ruang budaya dalam mendukung pertumbuhan ekosistem kreatif Indonesia.
Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
