Bagi masyarakat urban, Brightspot SuperMRKT telah lama dikenal sebagai ruang temu kreatif yang tidak hanya menawarkan pengalaman berbelanja, tetapi juga menghadirkan pengalaman visual yang kuat melalui penataan ruang dan desain yang khas.
Di tahun 2025 Brightspot memberikan pengalaman visual dengan mengajak pengunjung bernostalgia ke era 80-90-an. Dibalik visualisasi yang dihadirkan, ada sosok illustrator dan motion designer Ardhira Putra, yang dikenal karena karyanya berhasil ditampilkan di The Sphere, Las Vegas. Pria kelahiran Jakarta 1988 ini sejak kecil telah menunjukkan ketertarikan pada dunia seni. Ia tumbuh bersama cerita dan karakter kartun yang mengisi hari-harinya, membentuk cara pandangnya terhadap visual dan desain.
Melalui Instalasi yang ia rancang Ardhira memadukan estetika pop dengan referensi kultur populer yang akrab bagi generasi urban, sekaligus memperlihatkan bagaimana seni visual dapat hadir dekat dengan publik.
Baca Juga : Wamen Ekraf Resmikan Scenic Art Station, Seni Hadir di Ruang Transit Perkotaan
Pendekatan visual yang konsisten itu menempatkan Ardhira di berbagai ruang kreatif, termasuk panggung festival musik di dalam negeri. Salah satunya, Ardhira dipercaya menjadi visual artist utama Cherrypop Festival dengan tema “Gelanggang Musik”, sebuah tafsir visual atas semangat kebudayaan yang dirayakan lintas generasi. Dalam visual Cherrypop 2025, Ardhira menghadirkan komposisi yang ramai dan sarat makna, warna-warna menyala, ikon budaya pop, serta tipografi urban berpadu untuk menegaskan pernyataan visual tentang kebudayaan yang terus hidup dan bergerak mengikuti zaman.
Sumber: theconversationwith.media
Dari Studio ke Panggung Global
Gaya visual yang khas menjadi benang merah perjalanan kreatif Ardhira Putra. Ketertarikannya pada dunia gambar menemukan bentuk yang lebih matang ketika ia menempuh pendidikan animasi di Multimedia University, Malaysia. Di ruang studionya, Ardhira mulai merumuskan bahasa visualnya sendiri yaitu memadukan pop nostalgia era 1980-1990-an dengan desain modern, menghadirkan visual yang kaya warna, playful, dan penuh energi. Warna-warna vibran, grafis dinamis, serta sentuhan city pop, vaporwave, dan budaya pop Asia dirajut secara organik, membentuk karakter visual yang hidup dan mudah dikenali.
Baca Juga : Batik hingga Gatotkaca Warnai M7 World Championship, Angkat Identitas RI di Esports Global
Konsistensi inilah yang perlahan membuka jalan menuju panggung global. Bahasa visual yang ia rawat dari proyek ke proyek membuat Ardhira dipercaya menggarap karya untuk berbagai brand internasional seperti Apple, MTV, Samsung, Sony Music, hingga Tiger Beer. Di ranah musik, ia menjalin kolaborasi lintas negara dengan musisi seperti Epik High, MNDSGN, Pearl & the Oysters, Yung Bae, hingga Niagara Triangle.

Sumber: grafismasakini.com
Karya Ardhira Tampil di Layar Bola Raksasa
Masih pada tahun yang sama, perjalanan Ardhira mencapai titik penting ketika karyanya ditampilkan di The Sphere, Las Vegas, dalam rangkaian Adobe Summit 2025. Sphere bukan sekadar venue hiburan, melainkan platform visual paling canggih di dunia. Dengan Exosphere seluas 580.000 kaki persegi dan sekitar 1,2 juta LED pucks yang mampu menampilkan lebih dari 256 juta warna, Sphere menjelma menjadi kanvas hidup berskala monumental.
Dalam program pemutaran animasi imersif tersebut, karya ilustrator dari berbagai negara ditampilkan, termasuk Indonesia. Ardhira tercatat sebagai ilustrator pertama dari Indonesia yang karyanya diproyeksikan di The Sphere. Visual city pop khasnya tampil di wajah bangunan ikonik tersebut dan menyita perhatian siapa pun yang melintas.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Apresiasi SOVLO, Jenama Fesyen yang Jadi Kanvas Ilustrator Lokal
Proyek ini datang melalui Cekai, agensi asal Jepang, sebagai bagian dari kampanye fitur baru Adobe Firefly, teknologi AI terintegrasi milik Adobe. Ardhira menggarap Act 3: Iteration Scale, yang menampilkan potensi tak terbatas dalam mengembangkan ide melalui variasi. Kampanye ini mengusung konsep besar Electric City, tentang seorang kreator yang menciptakan karakter bernama Tiger yang berinteraksi dengan kota-kota imajinatif seperti New York, Tokyo, dan London.
Sebagai sutradara, Ardhira terlibat penuh dari desain karakter, lingkungan, storyboard, hingga animasi. Tantangan utama datang dari skala kanvas yang sangat besar. Ia harus memastikan setiap bangunan, elemen grafis, dan transisi kota tetap terbaca, sekaligus terasa dinamis meski berada dalam ruang yang statis. Ia bahkan bereksperimen dengan palet warna baru dan melakukan riset mendalam, terutama untuk kota-kota yang kurang familiar baginya.

Sumber: Instagram @makin_indonesia / @ardhiraputra
Dari Pencapaian Personal ke Representasi Ekosistem
Kehadiran Ardhira Putra di Adobe Summit 2025 bukan semata pencapaian individu. Ia menjadi penanda bahwa seni digital Indonesia kian memperoleh ruang di panggung global. Kolaborasinya dengan berbagai musisi, brand, dan platform internasional mempertegas relevansi kreator Indonesia dalam industri kreatif dunia.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Resmikan Tahilalats Station 2026 di MRT Dukuh Atas: Perkuat Eksposur IP Lokal
Lebih jauh, perjalanan Ardhira mencerminkan ekosistem ekonomi kreatif yang terus bertumbuh. Karyanya membuka ruang kolaborasi lintas sektor antara desain, teknologi, musik, UMKM dan video animasi. Dampaknya terasa secara sosial, budaya, dan ekonomi. Ia memberi inspirasi bagi kreator muda serta menunjukkan bahwa karya lokal mampu bersaing dan berbicara di panggung dunia.