Sore di utara Jakarta terasa teduh ketika perayaan Imlek Nasional mulai mengisi ruang-ruang kota. Di tengah suasana itu, sebuah bangunan dengan banyak jendela berdiri tanpa hiruki-pikuk. Dari luar tampilannya nyaris tak mencolok, namun di dalamnya tersimpan perjalanan panjang tentang identitas, ingatan, dan kreativitas yang membentuk Indonesia hari ini.
Galeri ini bukan sekadar ruang pamer. Ia dirancang sebagai narasi hidup, sebuah perwujudan ekonomi kreatif dari sektor arsitektur dan seni pertunjukan yang menyatu dalam pengalaman ruang. Setiap sudutnya dibangun untuk membawa pengunjung masuk ke dalam cerita, seolah melangkah dari satu bab sejarah ke bab lainnya tanpa harus membuka buku tebal.
“Budaya bukan hanya arsip masa lalu,” tutur salah satu tim kuratorial, Evelyn.
Menurutnya, galeri ini lahir dari kegelisahan generasi muda yang ingin membuka ruang dialog lintas usia, bukan untuk mempertahankan kejayaan lama, melainkan untuk membangun pemahaman baru tentang kebersamaan dan identitas ke-Indonesia-an.
Baca Juga : Menteri Ekraf Dorong Pemanfaatan Galeri Budaya untuk Penguatan Daya Saing Kreatif

Ruang pertama menyerupai ruang tamu. Di sinilah sejarah kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara dirangkai melalui foto, peta, dan narasi visual. Suasananya dibuat hangat dan akrab, menyerupai rumah, seolah mengundang siapa pun untuk duduk dan mendengar cerita panjang tentang perjalanan migrasi, adaptasi, serta dinamika sosial.
Langkah berlanjut ke ruang kedua, tempat memori personal mengambil peran. Wajah-wajah yang tak dikenal, suara-suara dari rekaman wawancara, serta fragmen kehidupan sehari-hari disusun menjadi mozaik pengalaman kolektif. Mereka bukan tokoh besar, bukan pula figur publik, tetapi kisahnya menjadi bagian penting dari sejarah bangsa.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Luncurkan Robot Gamelan di TMII, Apresiasi Teknologi dan Tradisi
Ruang ketiga, yang menyerupai dapur, menghadirkan kedekatan emosional. Dalam budaya Asia, dapur adalah simbol kepercayaan. Di sini, pengunjung diajak memahami akulturasi lewat kuliner, tradisi, bahasa, hingga kebiasaan keluarga. Perjumpaan budaya terasa nyata, bukan sebagai teori, melainkan sebagai praktik hidup.
Di sisi lain galeri, pameran temporer menghadirkan perspektif baru. Karya Nita Budiarto menafsirkan ulang arsip sejarah dengan pendekatan artistik. Foto, tulisan, dan dokumen lama diolah menjadi medium refleksi, membuka ruang tafsir terhadap hubungan budaya Jawa dan Tionghoa yang saling memengaruhi.

Seperti jendela-jendela yang terbuka lebar di bangunannya, Galeri Budaya Tionghoa Indonesia mengajak siapa pun untuk melihat lebih jauh. Ia bukan tujuan akhir, melainkan pintu menuju percakapan baru tentang identitas, toleransi, dan harapan. Di tengah semangat Imlek Nasional, galeri ini menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan sekadar semboyan, melainkan perjalanan yang terus ditulis bersama.
Baca Juga : Siaran Pers Imlek Festival: Peluncuran Logo Imlek Nasional 2026: Simbol Persatuan dalam Keberagaman Indonesia
Mengalun dengan Jiwa, Mengakar dalam Budaya