Di tengah riuh kawasan Glodok, salah satu pusat sejarah komunitas Tionghoa di Jakarta, Wihara Dharma Jaya Toasebio berdiri tenang sebagai ruang spiritual sekaligus saksi perjalanan budaya lintas generasi. Lebih dari sekadar tempat ibadah, wihara yang usianya telah melampaui dua setengah abad ini kini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang hidup dan berdenyut bersama masyarakat di sekitarnya.
Ruang Spiritual dalam Ekosistem Ekonomi Kreatif
Keberadaan Wihara Dharma Jaya Toasebio menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak selalu lahir dari industri modern. Ia juga tumbuh dari tradisi yang terus dirawat. Nilai sejarah, ruang ritual, dan aktivitas budaya menciptakan pengalaman autentik yang menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

Menurut Ketua Harian Wihara, Tjandra Santoso, sejarah Wihara Dharma Jaya Toasebio merujuk pada artefak tertua berupa hiolo bertahun 1751 yang masih tersimpan hingga kini. Selain itu, terdapat prasasti beraksara Mandarin kuno serta patung Kongco Cheng Goan Cheng Kun yang menjadi ciri khas Wihara dengan lima lantai ini. Artefak dan arsitektur tersebut menjadikan wihara sebagai ruang hidup bagi pelestarian budaya yang harus dijaga.
Baca juga: Kementerian Ekraf Apresiasi Festival Imlek Jakarta Bawa Semangat Inklusif dan Harmoni
“Wihara ini sudah berdiri sejak tahun 1751, kami berpatokan pada barang tertua, hiolo yang ada di tempat ini. Berarti, wihara ini memang sudah legendaris dan sudah lama. Beberapa kali kami lakukan renovasi, tapi tidak mengganti elemen-elemen kayu yang menjadi pondasi dari asitektur wihara ini. Kami hanya memperterang warna dinding yang tadinya kusam, jadi lebih terang,” ungkap Tjandra Santoso sebagai Ketua Harian Yayasan Dharma Jaya Toasebio.
Upaya pelestarian dilakukan tanpa mengubah bentuk asli bangunan. Pendekatannya lebih pada perawatan warna agar tetap terjaga. Di sinilah nilai autentisitas menjadi modal penting dalam subsektor ekonomi kreatif berbasis warisan budaya (heritage). Arsitektur, ornamen, hingga simbol-simbol budaya di wihara kerap menjadi inspirasi bagi subsektor ekraf lain seperti fotografi, seni visual, hingga produksi konten kreatif yang berkembang di era digital.

Warisan Budaya sebagai Sumber Inspirasi Kreatif
Di kawasan Glodok, spiritualitas, budaya, dan kreativitas berjalan berdampingan. Wihara menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya bukan hanya soal menjaga masa lalu, tetapi juga membuka peluang ekonomi masa depan. Ketika tradisi tetap hidup, kreativitas pun menemukan ruang untuk tumbuh.
Menjelang Imlek, Wihara Dharma Jaya Toasebio menjadi pusat berbagai aktivitas. Mulai dari ritual cuci rupa, pergantian dekorasi, hingga pertunjukan barongsai yang rutin digelar setiap tahun. Aktivitas ini tidak hanya bermakna religius, tetapi juga menjadi atraksi budaya yang menarik kunjungan masyarakat luas.
“Program rutin dari wihara ini seperti donor darah yang diadakan per 3 bulan sekali. Ada juga baksos biasanya 3 atau 4 kali dalam setahun. Sebelum menghadapi Imlek, biasanya kami lakukan cuci rupa untuk membersihkan batu-batu yang ada di Wihara hingga mengganti pernak-pernik menjadi yang lebih baru,” ucap Tjandra Santoso.
Baca Juga: Siaran Pers Imlek Festival: Peluncuran Logo Imlek Nasional 2026: Simbol Persatuan dalam Keberagaman Indonesia
Beragam aktivitas sosial tersebut turut memperkuat hubungan antarwarga. Kehadiran layanan kesehatan dan kegiatan sosial lainnya memperluas peran wihara, dari ruang ibadah menjadi pusat kegiatan komunitas yang ikut mendukung keberlanjutan ekonomi lokal berbasis kebersamaan.
Tradisi dan Aktivasi Ekonomi Lokal dari Sudut Pandang Jemaat
Bagi para jemaat, keberadaan wihara tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga ruang tradisi dan harapan. Cik Santi, salah satu jemaat yang rutin datang setiap tahun, hadir untuk sembahyang penutupan tahun sekaligus menyambut Imlek. Ia memaknai perayaan ini sebagai momentum kebersamaan yang selalu diiringi berbagai aktivitas kreatif, mulai dari membersihkan rumah, menyiapkan hidangan, hingga membeli pakaian baru untuk menyambut Tahun Baru Kongzili 2577/2026. Tanpa disadari , tradisi ini mampu menggerakkan berbagai subsektor usaha kreatif mulai dari kuliner, fesyen, hingga dekorasi perayaan.
“Harapan ke depan di Tahun Kuda Api adalah ekonomi Indonesia agar berkembang dan lebih banyak lapangan pekerjaan tercipta. Situasi keamanan serta penanganan bencana juga makin membaik,” harap Cik Santi salah satu jemaat yang datang dari PIK, Jakarta Utara.

Baca Juga: Pemerintah Akan Gelar Imlek Festival Perdana, Angkat Harmoni dalam Semangat Bhinneka Tunggal Ika
Harapan tersebut mencerminkan keterkaitan antara tradisi dan ekonomi. Perayaan budaya seperti Imlek menjadi penggerak ekonomi berbasis komunitas, di mana aktivitas sosial dan budaya menciptakan peluang bagi pejuang ekonomi kreatif di kawasan sekitar.
Kehadiran siapapun di kawasan Glodok turut membawa dampak langsung bagi pegiat ekonomi kreatif, mulai dari pedagang pernak-pernik Imlek, pembuat dekorasi, pegiat seni pertunjukan, hingga UMKM kuliner khas. Dalam ekosistem kreatif ini, wihara berperan sebagai jangkar budaya yang menghidupkan ruang publik sekaligus menciptakan permintaan terhadap produk dan jasa kreatif. Denyut ini perlu terus dijaga, agar warisan budaya dapat hidup dan berkembang lintas generasi.