Ketika Iklan Ramadan Tak Ingin Lagi Kita Skip

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Rabu, 18 Maret 2026
0
97

Ada momen yang cukup familiar saat menonton video di internet. Begitu iklan muncul, jempol refleks bersiap di tombol skip. Namun sesekali, sesuatu yang tak terduga terjadi. Jempol itu justru berhenti. Ceritanya terasa terlalu cepat untuk dilewatkan.

Alih-alih ingin segera berlalu, kita malah ikut tinggal di dalam cerita. Menonton sampai akhir, bahkan diam beberapa detik setelahnya.

Fenomena ini bukan kebetulan. Di bulan Ramadan 2026, brand seperti Bank Central Asia (BCA), Wardah, dan Telkomsel sukses membuktikan kalau iklan durasi panjang 5 sampai 8 menit bisa jadi tontonan yang seru dan asyik buat diikuti.

Sumber YouTube Solusi BCA

Ramadan Pertama Aku dan Ayah

Cerita yang paling mengaduk emosi ialah iklan BCA melalui tajuk “Ramadan Pertama Aku dan Ayah”. Kita diajak mengikuti perjalanan Rahma, seorang anak yang tumbuh dalam ruang hampa tanpa sosok ayah. Selama belasan tahun, narasi yang ia terima hanyalah "Ayah sedang berjuang", hingga kenyataan pahit terungkap: Sang ayah mendekam di penjara akibat kecelakaan hebat.

Lebih dari satu dekade berlalu, sang ayah pulang. Namun, Ramadan pertama mereka justru terasa canggung. Ada jurang waktu yang begitu lebar. Ayah mencoba menjembataninya dengan cara-cara yang barangkali terlihat sepele seperti menemani Rahma melihat baju Lebaran atau menjemputnya pulang.

Baca juga : Sinergi Kementerian Ekraf Hadirkan Kuliah Ramadan Mahir Digital, Dorong Anak Muda Kembangkan Aset Digital

Di sinilah kreativitas bermain cantik. Teknologi seperti aplikasi myBCA tidak muncul sebagai "jualan" yang memaksa, melainkan sebagai simbol perubahan zaman. Bagi sang ayah, membayar zakat atau parkir secara digital adalah keajaiban baru. Bagi Rahma, kebersamaan inilah keajaiban yang sebenarnya.

Puncaknya adalah sebuah plot twist yang menyesakkan dada: Sang ayah ternyata merelakan kebebasannya demi melindungi sang istri. Sebuah kalimat dalam cerita itu terasa sangat sunyi sekaligus menyayat,

“Telat menyadari kalau Ayah tidak hadir, demi menghadirkan hidupku bersama Ibu sekarang.”

Tak heran jika video ini telah ditonton puluhan juta kali di YouTube. Banyak komentar warganet yang merasa ceritanya begitu dekat dengan pengalaman pribadi mereka.

Sumber Instagram @wardahbeauty

Tulang Rusuk dan Tulang Punggung

Tak kalah menyentuh, Wardah melalui kampanye #TenangKuatkanLangkahmu menghadirkan potret realitas ekonomi yang jujur. Lewat akting Sheila Dara Aisha dan Jourdy Pranata, iklan ini mengangkat kisah pasangan suami istri yang sedang menghadapi masa sulit ketika sosok suami kehilangan pekerjaan di sisi lain sang istri tengah hamil. Lewat iklan ini muncul sebuah pertanyaan “Bagaimana jika kehilangan dan kehadiran datang di waktu bersamaan?”

Baca juga : Pelangi di Mars Tayang saat Lebaran, Kementerian Ekraf Dukung Inovasi Film Fiksi Ilmiah Indonesia

Namun di tengah situasi itu, sang istri tidak memilih untuk menyalahkan keadaan. Ia tetap mendampingi suaminya dengan tenang, bahkan mencoba membantu perekonomian keluarga dengan membuka usaha kecil. Cerita ini memperlihatkan bahwa dalam sebuah keluarga, kekuatan tidak selalu tentang siapa yang paling mampu bertahan, tetapi tentang bagaimana dua orang saling menguatkan ketika salah satunya sedang merasa rapuh.

Sumber YouTube Telkomsel

Tombol Hati Banyak Perkaranya

Di sisi lain, Telkomsel menyentil kehidupan digital kita lewat “Tombol Hati Banyak Perkaranya”. Dengan latar lagu legendaris Tombo Ati yang dinyanyikan Opick, iklan ini melempar pertanyaan reflektif: Kenapa sekarang kita lebih sibuk mencari kesenangan lewat "tombol hati" (like) di media sosial daripada mencari ketenangan hati yang sesungguhnya?

Beberapa adegan memperlihatkan orang-orang yang sibuk merekam aktivitas Ramadan mereka. Ada yang membagikan takjil sambil berulang kali mengambil konten, ada pula yang lebih fokus pada layar ponsel daripada percakapan dengan keluarga. Dalam narasi iklan tersebut muncul sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, dulu orang mencari ketenangan lewat lagu Tombo Ati, sekarang mengapa banyak yang mencari kesenangan lewat tombol hati.

Lebih dari sekedar promosi

Apa yang kita pelajari dari karya-karya di atas? Iklan kini telah bertransformasi menjadi ruang bercerita (storytelling). Iklan tidak lagi hanya bicara soal angka penjualan, tapi soal empati, keikhlasan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang relevan dengan kita semua.

Baca juga : Menteri Ekraf Tutup BCF Ramadan 2026, Dorong Brand Lokal Tembus Pasar Nasional dan Global

Iklan-iklan Ramadan yang mengangkat kisah hubungan orang tua dan anak, keluarga yang saling menguatkan, hingga cerita-cerita sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan masa kini menunjukkan bagaimana kreativitas dalam dunia periklanan terus berkembang. Iklan bukan lagi hadir sebagai ruang promosi semata, melainkan ruang bercerita. Melalui cerita yang sederhana namun menyentuh, sebuah iklan mampu mengingatkan kita pada keluarga, orang terdekat, dan pada hal kecil yang sering kali baru terasa berharga ketika waktu telah berlalu.

Di balik cerita-cerita tersebut, ada proses kreatif yang lahir dari para pelaku industri periklanan. Ide, narasi, dan cara penyampaian yang terus berkembang menjadi bagian dari kekuatan subsektor periklanan dalam ekosistem ekonomi kreatif. Melalui karya-karya seperti ini, subsektor periklanan menunjukkan bahwa kreativitas tidak hanya mampu menyampaikan pesan, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sumber foto cover Instagram @wardahbeauty

icon survey ekraf
avatar emika