Ratna Riantiarno, Geluti Seni Pertunjukan dengan Setulus Hati

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Jumat, 25 April 2025
1
2094

Teater sebagai bentuk seni pertunjukan merupakan kolaborasi dari berbagai ragam seni. Melalui penciptaan lakon di atas panggung, maka elemen seni lain seperti tari, musik, rupa, dan kriya kerap bersinggungan langsung. Bicara mengenai teater, tak lengkap bila insan kreatif tak mengenal sosok perempuan tangguh dibalik layar Teater Koma, Ratna Riantiarno.

Lingkup teater Indonesia tentu sudah kenal sosok Ratna Karya Madjid Riantiarno. Perempuan ini begitu mencintai dunia seni pertunjukan dengan setulus hati. Ia mengawali karier dari aktif menjadi penari Bali. Sejak duduk di bangku SD, Ratna sudah belajar menari dan sering tampil ke berbagai acara untuk menampilkan kreasi tari Indonesia di panggung mancanegara. Ratna pun tak sengaja pernah nonton pertunjukan Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer. Totalitas pemain dalam berlatih dan menghayati peran membuat Ratna terpukau. Ia pun memutuskan untuk gabung ke grup teater tersebut.

Baca Juga: Wamenekraf Irene Hadiri Pameran “Sunting” dalam Rangka Peringatan Hari Kartini 2025

“Luar biasa ya! Mereka bisa berdialog dan menjadi orang lain di atas panggung. Apalagi saat saya lihat mereka latihan di TIM. Mereka sedang bermeditasi merasakan seperti apa kondisi daun yang sedang jatuh ke bumi. Saya merasa tentu akan banyak hal yang saya pelajari seperti olah vokal dan ekspresi dalam teater yang juga berguna saat saya menari,” ungkap Ratna yang lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 23 April 1952.

Awalnya, orangtua Ratna keberatan dengan aktivitas latihan bersama Teater Kecil. Namun, Ia tetap membuktikan dengan prestasi sekolah sampai orangtuanya merestui.

Pementasan pertama bersama Teater Kecil yaitu lakon Kapai-Kapai (1969). Beberapa lakon lain juga pernah dimainkan seperti Sumur Tanpa Dasar, Mega-Mega, Madekur Tarkeni, dan Kocak-Kacik. Tahun 1992, Ratna pun berkeliling dalam Program KIAS (Kesenian Indonesia di Amerika Serikat) untuk pentas Sumur Tanpa Dasar bareng Teater Kecil. Terakhir tahun 2000, Ia memperoleh grant dari Pemerintah Amerika Serikat untuk kunjungan budaya dalam program bertajuk The Role of Theatre in US Society selama sebulan.

“Di Teater Kecil, saya sering dilatih untuk konsentrasi terhadap peran yang sudah diberikan. Selain itu, saya dibentuk sebagai pribadi yang punya komitmen untuk disiplin dan bertanggung jawab sebagai aktris,” ungkap Ratna.

Baca Juga: Wamenekraf Apresiasi ‘Untold Stories’, Harap Seni Jadi Pemicu Ekraf

Seni teater juga mempertemukan Ratna dengan mendiang suaminya, almarhum Nano Riantiarno. Suaminya justru anggota Teater Populer yang dipimpin Teguh Karya dan menjadi saingan grup Teater Kecil. Mereka pun putuskan menikah pada tahun 1978.

“Saya terpesona dengan Mas Nano karena dia sosok penulis dan pernah menyerahkan puisinya saat merayu dengan gombalan khasnya. Dari situ, saya sering ngobrol terkait seni peran bersamanya,” kenang Ratna.

Teater Koma terbentuk tanggal 1 Maret 1977, Ratna dan Nano yang mulai mencetuskannya. Nama ‘koma’ dipilih dari esensi tanda baca yang menjadi simbol bahwa berkarya dalam seni pertunjukan tak boleh ada titik henti. Biar makin diminati, Teater Koma selalu meramu seni pertunjukan dengan konsep tarian, nyanyian, dan tambahan komedi atau parodi.

“Saat orang teater pindah ke dunia film, saya tetap bertahan pada dunia teater dan tari. Kami ingin membuat seni pertunjukan tak boleh sepi, pasti ada kelanjutan lagi,” sambung Ratna.

Ratna biasa menjadi pimpinan produksi atau manajer grup Teater Koma. Ia juga pernah menjadi asisten kehumasan Majalah Pertiwi dan direktur perusahaan public relations, RR & Associates. Ia juga pernah memimpin Forum Apresiasi Seni Pertunjukan tahun 1997 yang didanai oleh Ford Foundation. Ratna pun pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode 1996-2003.

Sukses dalam seni pertunjukan, Ratna ikut merambah ke dunia sinetron dan film. Beberapa judul yang pernah dibintanginya yaitu Film Petualangan Sherina, Film Perempuan Punya Cerita, Film Get Married 3, Film Habibie & Ainun, dan terakhir menjadi pengisi suara sebagai Oma Don dalam animasi Film Jumbo yang masih tayang di bioskop.

Baca Juga: Jumlah Penonton Selama Libur Lebaran 2025 Naik Signifikan, Menteri Ekraf Apresiasi Industri Perfilman Nasional

Sosok Ratna Riantiarno yang fokus menyebarkan kedamaian, dialog budaya, dan toleransi melalui Teater Koma sempat dianugerahi penghargaan Femina kategori Wanita Berprestasi bidang Seni Teater tahun 2007. Selain itu, beberapa penghargaan seperti Piala Vidia untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2012 dalam Film Televisi, Pahala Terindah dan pernah juga dapat penghargaan dari Festival Film Bandung 2012 untuk kategori Pemeran Pembantu Wanita Terpuji saat berperan sebagai Nyai dalam Film Get Married 3.

Ikuti perkembangan zaman, seniman tak hanya dituntut untuk menjalani peran yang berkualitas. Kemampuan mengelola kelompok seni juga harus dipertahankan sebagai bentuk idealisme atau kecintaan terhadap seni pertunjukan. Bertahan untuk fokus mempopulerkan grup teater tentu bukan menjadi hal yang mudah. Proses belajar dengan komitmen bersama Teater Koma membuat grup teater ini punya bentuk komunitas yang memegang teguh loyalitas. Teater Koma pun dianggap sebagai grup teater yang paling mampu menjaring penonton setia dalam jumlah besar.

Meski pentas Teater Koma kerap memuat sindiran terkait perkembangan situasi politik tanah air. Mereka pernah mengalami masa-masa sulit karena dianggap selalu meresahkan. Walau demikian, Teater Koma terus tumbuh sebagai grup teater yang masih bisa bertahan sampai sekarang. Atensi pertunjukan secara konsisten dan tiket pertunjukan selalu laku habis terjual.

“Kita harus lakukan sesuatu sesuai dengan hal yang kita sukai agar ada kepuasan batin yang kita peroleh. Apa yang saya pelajari di teater itu bisa diterapkan dalam kehidupan saya yang lain. Bisa belajar percaya diri dan meyakinkan orang lain sehingga saya bisa sukses juga dibidang lain,” tutup Ratna.

icon survey ekraf
avatar emika