Udah Siap Belom? No Na Bawa Indonesia dari Sabang ke LA

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Selasa, 8 September 2026
0
10

Apakah musik pop mampu menjadi ‘duta’ budaya yang efektif di era globalisasi? Jawabannya dapat dilihat dari pesatnya perkembangan subsektor musik Tanah Air saat ini. Industri musik tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan di dalam negeri, melainkan berkembang menjadi instrumen diplomasi budaya yang dinamis dan diminati publik internasional. Salah satu contoh nyata adalah girl group fenomena, No Na. Di bawah naungan label 88rising, No Na menjelma menjadi yang pertama di Indonesia sebagai grup vokal wanita mengenalkan keberagaman Nusantara ke mata dunia.

Beranggotakan Baila Fauri, Christy Gardena, Shazfa Adesya, dan Esther Geraldine, grup ini sukses melakukan debutnya pada 2 Mei 2025. Lewat lagu "Shoot", No Na berhasil menduduki posisi puncak tangga lagu platform musik MelOn di Korea Selatan untuk kategori girl group Asia Tenggara.

Baca Juga : Program AKTIF Musik Kementerian Ekraf Sokong Talenta dari Sulut yang Bakal Bikin Kepincut

Keindahan Indonesia terpampang megah dalam video klip tersebut, dengan mengambil latar utama di Bali, No Na sukses memukau penonton. Diawali dengan pemandangan rumah di tengah hamparan sawah hijau, kehadiran permainan tradisional congklak, dan busana wastra yang digunakan, mempertegas identitas No Na di panggung internasional.

Nama No Na diambil dari bahasa Indonesia “nona” yang memiliki arti anak perempuan atau wanita lajang dan Orchid yang berarti anggrek sebutan bagi fandom grup vokal ini. Representasi keberagaman tercermin jelas dalam grup ini, tiap anggota berasal dari asal-usul yang berbeda. Baila dan Esther tumbuh besar di Jakarta dengan kemampuan vokal yang kuat, Christy berasal dari Lombok terkenal dengan prestasinya sebagai penari balet profesional, kemudian Shaz besar di Jakarta namun pindah ke Australia untuk menempuh pendidikan, sebelumnya dikenal sebagai seorang influencer yang hobi membagikan video tariannya.


Instagram @nonawav

Diplomasi Budaya

Integrasi elemen budaya dalam karya No Na bukan sekadar pemanis, melainkan identitas utama dari konsep audio dan visual mereka. Hal ini terlihat jelas dalam single terbaru berjudul "honk!" yang dirilis pada 31 Juli 2026, sebagai bagian dari album Island Girl yang akan diluncurkan pada 18 September 2026.

Dalam video klip "honk!", audiens diajak melihat atmosfer jalanan Indonesia yang autentik. Ikon-ikon lokal seperti angkot warna-warni, bus, hingga warung pinggir jalan dikemas dengan pencahayaan dan sinematografi pop yang modern. Dari sisi musik, aransemen lagu dipadukan dengan sampel bebunyian klakson angkot serta seruan fenomena viral “Om Telolet Om”.

Baca Juga : Menteri Ekraf Harap Platform Gig Life Pro Kembangkan Koneksi Subsektor Musik Indonesia

Pesan diplomasi budaya ini diperkuat melalui lirik lagu. Pada bagian outro, terdapat baris lirik yang secara berani menyandingkan frasa “Sabang sampai Merauke” dengan “New York, Tokyo to LA”. Frasa tersebut menjadi simbol bahwa identitas lokal Indonesia siap berdampingan dengan pusat-pusat industri hiburan dunia.

Tak hanya pada video klip, identitas visual ini juga dibawa hingga ke atas panggung. Para anggota No Na kerap mengenakan busana yang memadukan kain wastra Nusantara dalam berbagai penampilan live maupun acara internasional.


Instagram @nonawav

“We want to have Indonesian elements always in our music video and our song,” tegas Baila saat ditanya Raditya Dika mengenai konsep pembuatan video klip dalam podcast berjudul “Empat No Na dan Satu Or Ang Tu A”.

Strategi mengawinkan unsur Nusantara dengan tren musik global ini terbukti membuahkan hasil manis. Hanya dalam empat minggu setelah dirilis, video klip "honk!" ditonton lebih dari 5,7 juta kali dan mendapatkan 273 ribu likes di YouTube, serta diputar lebih dari 2,8 juta kali di platform Spotify.

Melalui medium musik video (MV) dan lagu yang tersebar secara digital, audiens dari berbagai belahan dunia diajak berkenalan dengan realitas budaya Indonesia secara menyenangkan. Apresiasi pun mengalir dari berbagai negara, mulai dari penggemar di Singapura hingga Jepang yang memuji keunikan serta kualitas vokal dan konsep eksotik khas Asia Tenggara yang diusung oleh No Na.

Baca Juga : Kementerian Ekraf Terima Masukan Terkait Perumusan Kebijakan Berbasis Kebutuhan Industri Musik

Bagi para anggota No Na sendiri, membawa nama Indonesia di kancah internasional adalah sebuah kebanggaan yang mengalahkan rasa tekanan karier. Seperti yang diungkapkan oleh Esther Geraldine dalam sesi wawancara di YouTube, 102.7KIISFM, “More than the pressure, we feel very excited cause we love showing off our country... we love bringing Indonesia on the map”.

Kehadiran No Na memberikan pelajaran berharga bagi perkembangan ekonomi kreatif Indonesia di mana budaya lokal adalah aset berharga yang bernilai jual tinggi jika dikemas dengan keahlian dan visi global. Ketika klakson angkot, motif kain tradisional, dan keramahan khas Nusantara hadir di tengah dentuman musik pop modern, musik telah sukses menjalankan perannya sebagai jembatan budaya yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.

Menembus Pasar Global Lewat Musik


Instagram @nonawav

Kehadiran No Na memberi dorongan bagi ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia, khususnya subsektor musik. Melalui perpaduan musik pop energik, R&B, dan sentuhan khas lokal, grup ini membuktikan bahwa produk budaya tidak harus tampil kaku untuk bisa diterima pasar dunia.

Baca Juga : Kementerian Ekraf Apresiasi Chicago The Musical, Dorong Talenta Menuju Panggung Global

Industri kreatif musik terbukti menjadi wadah yang sangat potensial untuk melakukan difusi budaya pop. Dengan gaya yang relevan bagi generasi muda internasional, No Na memperlihatkan bahwa talenta dari Indonesia mampu bersaing di level tertinggi industri hiburan tanpa harus menanggalkan akar budaya mereka.

icon survey ekraf
avatar emika