Festival Kampung Dongeng dan Upaya Menumbuhkan Generasi Akrab Buku

Kemenekraf/Bekraf RISenin, 8 Juni 2026
Festival Kampung Dongeng dan Upaya Menumbuhkan Generasi Akrab Buku

Pagi itu, di taman APSG Situ Gintung, Tangerang Selatan, ratusan anak duduk berdampingan dengan orang tua mereka. Di hadapannya, seorang pendongeng memperagakan kisah tentang serigala dan ayam. Riuh tawa, sorak antusias, hingga sahutan serempak kerap terdengar dari para penonton yang kian larut dalam alur cerita sederhana tersebut.

Bagi sebagian orang, dongeng mungkin dianggap hiburan masa kecil. Namun di Festival Kampung Dongeng 2026, cerita diperlakukan sebagai sesuatu yang jauh lebih besar: ruang tempat imajinasi tumbuh, kedekatan keluarga terjalin, dan benih kreativitas masa depan mulai disemai.

Mengusung tema “Merajut Cerita, Menguatkan Keluarga”, Festival Kampung Dongeng 2026 digelar serentak di 57 kota pada 16–31 Mei 2026. Puncak perayaan sekaligus pusat kegiatan berlangsung di Tangerang Selatan, menghadirkan sekitar 70 keluarga yang berkumpul untuk menikmati dongeng, permainan keluarga, hingga berbagai aktivitas kreatif lainnya.

Festival ini sekaligus menjadi perayaan ulang tahun ke-17 komunitas Kampung Dongeng yang selama hampir dua dekade membersamai tumbuh kembang literasi anak Indonesia. Pada pagi itu, pendiri Kampung Dongeng, Awam Prakoso atau yang akrab disapa Kak Awam, tampil langsung sebagai pendongeng. Dengan piawai, ia menirukan suara hewan, menghadirkan efek bunyi-bunyian, dan mengajak anak-anak berinteraksi sehingga suasana terasa hidup.

“Sebuah pesan akan lebih mudah masuk ke telinga anak-anak dan jauh lebih mendalam di hati mereka jika disampaikan dengan cara yang kreatif. Karena itu, kreativitas dalam mengolah suara, gerakan, dan keterlibatan anak-anak sangat diperlukan agar dongeng tetap menarik. Jangan sampai kita kalah dengan daya pikat gadget saat ini,” ujar Kak Awam saat ditemui pada Minggu (31/5).

Di antara para orang tua yang hadir, Rina, seorang guru sekaligus ibu peserta, melihat kegiatan semacam ini semakin penting di tengah kehidupan keluarga modern. Menurutnya, dongeng mampu menghadirkan pengalaman yang jarang ditemukan anak-anak saat ini, yakni menikmati cerita tanpa bergantung pada layar gawai.

Baca juga: Wamen Ekraf Bahas Kerja Sama Literatur Global dengan Frankfurter Buchmesse

“Penting banget. Saya juga seorang guru, jadi melihat sendiri bagaimana minat baca anak-anak masih rendah. Tadi anak-anak bisa beberapa saat lepas dari gadget dan benar-benar fokus mendengarkan cerita. Kegiatan seperti ini membuat keluarga sadar bahwa mendongeng itu menyenangkan,” ujarnya.

Bagian yang paling membekas baginya adalah cara Kak Awam menghidupkan cerita melalui berbagai efek suara dan iringan musik yang sederhana namun imajinatif.

“Ternyata beliau bisa membuat efek suara sendiri dan musiknya benar-benar membuat suasana cerita hidup. Anak-anak jadi ikut larut dalam ceritanya,” katanya.

Perjalanan Kampung Dongeng sendiri dimulai pada 2009 dari kegiatan sederhana yang dilakukan Kak Awam di halaman rumahnya. Berbekal keinginan menghadirkan lebih banyak ruang ramah anak dan menumbuhkan generasi pendongeng baru, gerakan tersebut berkembang menjadi jaringan komunitas yang kini tersebar di lebih dari 200 titik di seluruh Indonesia. Banyak penerus komunitas, termasuk panitia dan pendongeng lahir dari sanggar-sanggar Kampung Dongeng dan belajar merangkai cerita sejak usia muda.

Bagi Kak Awam, Indonesia memiliki kekayaan cerita lokal yang sangat besar untuk terus diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, cerita rakyat, legenda, maupun fabel bukan hanya berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang terus berkembang.

“Kita punya begitu banyak cerita lokal yang kuat, mulai dari Timun Emas hingga berbagai legenda dan fabel dari daerah. Ini adalah warisan budaya yang perlu terus diperkuat. Ke depan, cerita-cerita ini bukan hanya bermanfaat untuk penguatan karakter anak, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Baca Juga: Jaga Keberlanjutan Ekosistem Penerbitan, Kementerian Ekraf Ingin PPh atas Penulis Lebih Adil dan Proporsional

Ia menilai cerita dapat melahirkan berbagai karya turunan, mulai dari buku, pertunjukan, animasi, permainan edukatif, hingga konten digital yang relevan dengan generasi masa kini. Karena itu, menjaga budaya membaca menjadi salah satu fondasi penting agar ekosistem tersebut terus tumbuh.

“Anak-anak harus terus akrab dengan buku. Jangan hanya menerima informasi sepenggal-sepenggal dari media sosial. Buku adalah literatur yang dekat dengan kita dan menjadi salah satu jawaban untuk memperluas wawasan,” kata Kak Awam.

Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak berhenti sebagai penikmat konten, melainkan ikut menjadi kreator yang mampu mengolah pengetahuan dari buku menjadi karya-karya baru.

“Koleksilah buku-buku yang baik, bagikan pengalaman membacanya, dan jadilah kreator yang bisa menghidupkan kembali isi buku melalui karya-karya kreatif,” tambahnya.

Menurut Kak Awam, pentingnya dongeng bagi anak-anak bahkan pernah digambarkan oleh ilmuwan Albert Einstein.

“Einstein pernah mengatakan, ‘kalau anakmu ingin cerdas, bacakan dongeng. Kalau ingin lebih cerdas, bacakan lebih banyak dongeng.’ Karena itu, kehadiran dongeng harus bisa hadir di setiap suasana ketika anak-anak berkumpul,” ujarnya.

Baca Juga: Wamen Ekraf Hadiri “Reflective Reading with Ika Natassa”, Dorong Penerbitan Jadi Sumber Kreativitas Ekonomi

Menjelang siang, suasana festival semakin meriah dengan kehadiran penyanyi cilik sekaligus pengisi suara dalam film animasi Jumbo, Quinn Salman. Penampilannya membawakan lagu “Tiba-Tiba” serta soundtrack film animasi Jumbo berjudul “Selalu Ada di Nadimu” disambut antusias oleh para peserta. Anak-anak bernyanyi bersama, sementara para orang tua mengabadikan momen tersebut.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Festival Kampung Dongeng 2026 mengingatkan kembali bahwa cerita masih memiliki tempat yang penting dalam kehidupan keluarga. Sebab, dari sebuah dongeng sederhana, anak-anak tidak hanya belajar mendengarkan, tetapi juga berimajinasi, memahami nilai kehidupan, dan menumbuhkan kreativitas yang kelak dapat berkembang menjadi berbagai karya.

Festival ini didukung oleh British Propolis, Bank Mandiri, Sompo Insurance, YBM PLN dan lainnya.

Kampung Dongeng
Festival Kampung Dongeng 2026