"Kalau ke Batam, sudah makan gonggong belum?"
Pertanyaan itu hampir selalu muncul ketika seseorang bercerita tentang perjalanannya ke kota yang menjadi salah satu pintu gerbang Indonesia. Di banyak rumah makan boga bahari di sudut Batam, sepiring gonggong hangat lazim mendarat di meja. Bentuknya sering polos, tidak terlalu mencolok. Cangkang berwarna cokelat muda dengan ujung spiral yang sekilas mirip siput laut biasa. Namun, bagi masyarakat Kepulauan Riau, gonggong adalah identitas yang mudah dikenali.
Baca Juga : Menteri Ekraf Dorong Tumpeng Jadi IP Gastronomi dan Alat Soft Power
Tak jarang, banyak pengunjung awalnya kebingunan saat pertama kali mencicipi. Mereka memutar cangkang ke sana-kemari sebelum akhirnya diajari cara mencungkil dagingnya dengan tusuk gigi. Beberapa berhasil dalam sekali coba. Sebagian lain membutuhkan beberapa kali percobaan sebelum potongan daging gonggong akhirnya keluar utuh dari cangkang seukuran ibu jari orang dewasa. Momen sederhana ini sering menjadi cerita dari kunjungan ke Batam.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Gonggong merupakan hasil laut yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kepulauan Riau. Hidangan ini mudah ditemukan di berbagai rumah makan boga bahari, dari yang sederhana hingga restoran mewah yang ramai dikunjungi. Cara penyajiannya pun tidak rumit. Gonggong umumnya direbus lalu disajikan bersama sambal. Kesederhanaan tersebut justru membuat cita rasanya menonjol. Teksturnya kenyal dengan rasa gurih yang khas.
Baca Juga : Dukung Festival Burger Dunia, Menekraf Perkuat Ekosistem Kuliner Nasional
Di tengah banyaknya pilihan boga bahari yang tersedia di Batam, gonggong tetap memiliki tempat tersendiri. Banyak orang datang untuk mencoba kepiting, udang, atau ikan laut segar. Namun, ketika pulang, yang sering mereka ceritakan justru pengalaman makan gonggong. Hal itu membuat gonggong memiliki nilai yang lebih besar dari sekadar menu makanan. Ia menjadi penanda daerah. Sama seperti pempek yang mengingatkan orang pada Palembang atau gudeg yang identik dengan Yogyakarta, gonggong telah menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang Kepulauan Riau.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Bagi pelaku usaha kuliner di Batam, keberadaan gonggong menjadi daya tarik yang membantu memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada pengunjung. Setiap porsi yang tersaji tidak hanya menghadirkan cita rasa laut, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan sumber daya laut sejak lama. Di kota yang dikenal sebagai kawasan industri, perdagangan, dan destinasi wisata tersebut, gonggong menunjukkan bahwa identitas sebuah daerah juga bisa hadir melalui makanan yang sederhana. Pada akhirnya, banyak orang datang ke Batam untuk berbagai keperluan. Namun, tidak sedikit yang pulang dengan satu cerita yang sama: tentang sepiring gonggong yang pertama kali mereka coba, dan rasa yang membuat mereka mengingat Batam.
Baca Juga : Menteri Ekraf: Kekuatan Kuliner Indonesia Mampu Bersaing di Pasar Global
