Baca Di Tebet: Ketika Buku Hanya Jalan, dan Ide Menjadi Tujuan

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Senin, 10 Agustus 2026
0
4

Di sebuah perpustakaan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, siang itu berjalan sedikit berbeda.

Rak-rak buku menjadi hal pertama yang menyambut setiap pengunjung. Namun, hanya beberapa menit berada di dalamnya, perhatian mudah teralihkan. Di satu sudut, sekelompok mahasiswa berdiskusi tentang buku yang baru mereka baca. Tak jauh dari sana, seorang penulis muda mencatat sesuatu usai mengikuti diskusi komunitas. Di meja lain, dua orang yang sebelumnya tak saling mengenal larut membicarakan film, desain, hingga rencana kolaborasi.


Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/Badan Ekraf.

Sesekali terdengar tawa. Sesekali antar pengunjung saling merekomendasikan buku.

Banyak orang datang ke Baca Di Tebet untuk membaca. Namun, tak sedikit yang pulang membawa sesuatu yang tak mereka rencanakan: kenalan baru, sudut pandang baru, bahkan ide yang kemudian berkembang menjadi sebuah karya.

Selama ini, Baca Di Tebet dikenal sebagai perpustakaan publik dan ruang temu. Namun bagi Wien Muldian, salah satu pendirinya, tempat ini sejak awal tidak dimaksudkan hanya sebagai ruang membaca saja.

Berawal dari koleksi buku pribadi yang terus bertambah, ia bersama Kanti W. Janis, pendiri lainnya, membuka perpustakaan untuk publik agar buku-buku itu dapat diakses siapa saja. Dari situlah lahir gagasan menjadikan Baca Di Tebet sebagai knowledge hub, ruang tempat bertemu, belajar, dan bertukar gagasan serta hasilkan karya.

“Secara sederhana, kami punya banyak sekali buku koleksi pribadi. Daripada cuma disimpan di rumah, kenapa tidak dimanfaatkan dan diakses oleh orang-orang. Kebetulan keluarga Kanti punya bangunan yang bisa dimanfaatkan dan lokasinya mudah dijangkau. Ya sudah, sebagian besar bukunya diangkut dari rumah saya, dan jadi lah sebuah pusat pengetahuan, sumber belajar, pusat orang bertemu untuk saling belajar,” ujar bang Wien, sapaan akrab Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakan dan Informasi Indonesia ini.

Baca Juga : Wamen Ekraf Yakin Penguasaan Bahasa dan Literasi Jadi Kunci Lahirkan Karya Kreatif

Alih-alih sekadar melayani pengunjung perpustakaan, Wien dan Kanti mengajak siapa pun yang datang menjadi bagian dari ruang temu dan belajar ini. Beragam komunitas diberi kesempatan menyelenggarakan diskusi, peluncuran buku, kelas belajar, workshop, hingga lokakarya. Pengunjung pun bukan hanya datang, tetapi ikut terlibat menghidupkan beragam program dan aktivitas tematik.

Tak heran jika Baca Di Tebet menjadi tempat bertemunya beragam latar belakang. Mahasiswa, penulis, ilustrator, editor, peneliti, seniman, pekerja kreatif, hingga masyarakat umum datang dengan tujuan beragam. Ada yang mencari referensi, tempat bekerja, ada pula yang sekadar bertemu orang-orang dengan rasa ingin tahu yang sama.

Sering kali ide tidak lahir dari halaman buku yang sedang dibaca, melainkan dari obrolan setelahnya. Dari rekomendasi buku, percakapan singkat, hingga pertemuan yang tak direncanakan, kolaborasi-kolaborasi baru terusi tumbuh.


Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/Badan Ekraf.

Bagi Wien, itulah kebahagiaan terbesar. Bukan hanya melihat rak yang penuh buku atau acara yang ramai, melainkan ketika seseorang kembali dan bercerita bahwa pertemuan di Baca Di Tebet telah melahirkan karya baru, komunitas baru, jejaring baru atau bahkan mengubah arah perjalanan hidupnya.

“Kami saat ini sedang mendukung diadakannya kegiatan perdana Festival Literasi Indonesia Timur yang melibatkan ratusan komunitas dari 15 provinsi dengan puluhan acara yang akan direalisasikan. Festival ini diadakan di kota Manado dengan dukungan penuh Pemprov Sulawesi Utara.” ungkap Wien.

Baca Juga : Kementerian Ekraf Dorong Literasi dan Kepemimpinan Kreatif melalui Peluncuran Buku “The Mentor”

“Panitianya, para pegiat komunitas tidak hanya mendapat dukungan program dari kami, tetapi juga akses pada parapihak yang bisa diajak terlibat. Mereka juga terinspirasi dari kegiatan yang sudah kami lakukan sejak bertahun-tahun lalu.” lanjut Wien. Pola berbagi akses dan peluang juga melihat dampak langsungnya menjadi kepuasan terbesar buat Wien.

Pandangan itu juga diamini Kanti. Sebagai penulis, pelukis, sekaligus musisi sejak berpuluh tahun lalu, ia percaya kreativitas tidak pernah muncul dari ruang kosong. Setiap karya membutuhkan asupan pengetahuan yang terus diperbarui. Semakin banyak seseorang membaca dan mengenal beragam perspektif, semakin besar peluang lahirnya karya yang menawarkan kebaruan.

Karena itu, membaca bukan sekadar pelengkap bagi pelaku ekonomi kreatif.

Membaca adalah titik berangkatnya.

Seorang novelis membaca sebelum mendapat ide dan menulis cerita. Ilustrator mencari referensi sebelum merealisasikan gambar. Sutradara memperkaya sudut pandang sebelum menyusun alur, adegan dan karakter tokoh. Bahkan pengembang gim membangun dunianya dari pengetahuan dan imajinasi yang terus diperkaya.

Artinya, sebelum lahir sebuah karya, selalu ada proses belajar yang mendahuluinya.

Di tengah derasnya arus informasi digital, ruang seperti Baca Di Tebet justru semakin relevan. Ketika informasi bisa diperoleh dalam hitungan detik, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar akses, melainkan ruang untuk mengolah informasi menjadi pengetahuan, lalu mengubahnya menjadi gagasan.

Di sinilah ruang literasi mengambil peran yang lebih besar.

Ia bukan hanya tempat membaca, tetapi tempat orang saling mendengar, bertukar perspektif, dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.


Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/Badan Ekraf.

Pandangan inilah yang sejalan dengan upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif. Industri kreatif tidak hanya membutuhkan pembiayaan, teknologi, atau akses pasar, tetapi juga ruang yang mempertemukan talenta, pengetahuan, dan kolaborasi.

Creative hub, perpustakaan komunitas, ruang baca, hingga ruang diskusi publik menjadi bagian dari infrastruktur sosial tempat ide-ide kreatif bertumbuh.

Menjelang sore, sebagian pengunjung mulai menutup buku yang mereka baca. Ada yang meminjam buku dan dibawa pulang. Ada yang masih bertahan mengikuti diskusi berikutnya. Ada pula yang berdiri di depan rak, melanjutkan percakapan dengan orang yang baru dikenalnya beberapa jam sebelumnya.

Mereka pulang membawa tas yang sama. Namun, tidak selalu dengan isi pikiran yang sama.

Baca Juga : Menteri Ekraf Perkuat Ekosistem Literasi dan Kuliner di AKC Cafe

Di Baca Di Tebet, buku hanyalah pintu masuk.

Yang sesungguhnya dibangun adalah pertemuan-pertemuan kecil yang, suatu hari nanti, bisa tumbuh menjadi ide, kolaborasi, dan karya.

icon survey ekraf
avatar emika