Tempat Ide Bertemu: Dari Baca Di Tebet untuk Ekosistem Kreatif Indonesia 

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Senin, 10 Agustus 2026
0
1

Tidak Ada Ekonomi Kreatif Tanpa Ekosistem Literasi 

Ketika Sebuah Halaman Menjadi Titik Awal

Siang itu di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, tidak menawarkan keheningan yang kaku selayaknya perpustakaan konvensional pada umumnya. Di tempat yang akrab disapa Baca Di Tebet ini, aroma kopi arabika seduh berpadu lekat dengan percakapan hangat antarpengunjung yang tampak asyik berdiskusi, mencoret-coret buku sketsa, hingga bersantai bertukar gagasan. 

Di ruang-ruang yang mencair inilah, denyut nadi ekonomi kreatif sejatinya mulai berdetak dari bentuknya yang paling murni ialah rasa ingin tahu. Sering kali, tatkala publik terpukau oleh gemerlap hasil akhir sebuah karya, entah itu film yang sukses menembus sirkuit festival global, gim lokal yang dimainkan jutaan orang, atau fesyen yang melenggang di panggung dunia, jarang ada yang menelusuri dari mana cikal bakal ide-ide brilian itu dilahirkan. Padahal, sebelum mewujud menjadi produk bernilai ekonomi, proses kreatif selalu membutuhkan ruang untuk bertumbuh dan menyerap inspirasi.

Baca Juga : Peluncuran Buku Puisi 'Pesan yang Datang Belakangan': Wamen Ekraf Tekankan Pentingnya Literasi dan Kreativitas


Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/Badan Ekraf

Dari Koleksi Pribadi Menjadi Ruang Temu Kolaborasi 

Kesadaran akan pentingnya "ruang tumbuh" inilah yang mendorong Wien Muldian dan Kanti W. Janis merumuskan, merancang dan merealisasikan Baca Di Tebet bukan sekadar sebagai loket peminjaman buku, melainkan sebuah ekosistem kehidupan. Wien menuturkan bahwa inisiatif ini bermula dari sebuah pemikiran yang amat membumi. 

"Secara sederhana, kami punya banyak sekali buku pribadi," ujarnya. 

Alih-alih membiarkan tumpukan literatur itu pasif di rak rumah, mereka menyulap ruang baca dan koleksi bacaan tersebut menjadi sebuah pusat pengetahuan (knowledge hub) dan ruang berkarya (makerspace) agar orang-orang dari berbagai latar belakang dapat bertemu, saling belajar dan berkarya.

Perpustakaan ini sengaja dirancang dengan menepis konsep "melayani" pengunjung secara pasif, melainkan mengajak siapa saja yang hadir untuk terlibat menjadi bagian aktif dari beragam aktivitas komunitas. Berdiri dengan prinsip kemandirian, ekosistem Baca Di Tebet digerakkan oleh napas kolaborasi dan perputaran usahanya sendiri, mulai dari kehadiran working space, penjualan tiket harian, sistem keanggotaan, restoran artisan, lini usaha penerbitan, hingga penyediaan kamar inap khusus bagi para peneliti. 

Wien mengamati fenomena menarik bahwa perpustakaan masa kini telah menjadi semacam pelarian (escape) yang positif, khususnya bagi anak-anak muda dari Generasi Z dan Alpha yang mulai jenuh dengan gempuran algoritma digital dan rindu kembali mencecap pengalaman menyentuh buku cetak. Bagi Wien pribadi, pencapaian tertingginya bukanlah sekadar melihat ruangannya penuh, melainkan ketika tempat itu memantik kolaborasi nyata. 

Baca Juga : Di Teras Aksara, Wamen Ekraf Ajak Anak Indonesia Berani Bermimpi Besar

"Titik bahagia kami ada di situ," tuturnya saat menyadari betapa banyaknya proyek kreatif dan ide segar yang menetas dari obrolan antarpengunjung di Baca DI Tebet.

Merawat "Daya Baca" di Tengah Era Instan 

Namun, menyediakan infrastruktur fisik barulah separuh jalan, separuh lainnya adalah menumbuhkan kualitas nalar pengunjungnya. Kanti, yang penulis juga advokat ini menggarisbawahi esensi terdalam dari aktivitas membaca bagi para pelaku kreatif. Ia mengkritisi pandangan umum yang masih terjebak menyamakan literasi semata-mata dengan rutinitas membolak-balik halaman buku. 


Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/Badan Ekraf

Menurut Kanti, yang novel perdananya Saraswati (2006) masuk nominasi Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Award 2007, membaca adalah bagian dari keterampilan hidup yang perlu terus diasah, dan masalah terbesar yang dihadapi masyarakat kita bukanlah ketidaksukaan pada buku, melainkan lemahnya "daya baca", yakni kemampuan analitis untuk menangkap, mengolah, dan mencerna sebuah informasi secara kritis.

"Untuk menjadi kreativitas kita perlu banyak asupan," tegas Kanti. 

Ia meyakini bahwa semakin banyak dan beragam referensi yang dijejalkan ke dalam kepala seorang kreator, maka karya yang direproduksinya kelak tidak akan terasa monoton dan selalu memiliki daya kebaruan. Kanti mencontohkan prosesnya sendiri saat meriset materi untuk novelnya, Cita-Cita Titik Dua Petani! (2023), di mana ia harus menyelami realitas keras kehidupan agraris dan mengkritisi sistem pendidikan guna membangun narasi fiksi yang membumi namun berbobot. 

Di tengah pesatnya gempuran kecerdasan artifisial yang serba instan, Kanti mengingatkan bahwa melatih kelenturan berpikir melalui bacaan bukan lagi sekadar hobi pilihan, melainkan rutinitas wajib agar manusia tetap memegang kendali atas nalar penciptaannya. Pemikiran ini menjadi bukti sahih bahwa literasi adalah investasi fundamental tak kasatmata yang menentukan kedalaman sebuah karya kreatif.

Baca Juga : Kementerian Ekraf dan DANA Perluas Akses Pemberdayaan Perempuan di Era Digital

Infrastruktur Sosial: Titik Nol Lahirnya Mahakarya 

Bagi Kementerian Ekonomi Kreatif, potret pergerakan akar rumput semacam ini adalah manifestasi ideal dari pembangunan hulu industri. Ekosistem ekonomi kreatif yang tangguh dan berkelanjutan terbukti tidak bisa hanya bertumpu pada injeksi modal, kecanggihan perangkat lunak, atau kemudahan akses pasar. Industri ini mutlak membutuhkan kehadiran infrastruktur sosial berupa ruang-ruang baca dan ruang diskusi yang merawat pengetahuan serta mempertemukan talenta. Sebab pada akhirnya, tidak ada naskah memukau tanpa riset yang sunyi, dan tidak ada semesta permainan yang kaya tanpa kekayaan imajinasi. Seluruh mahakarya di industri kreatif akan selalu menapaki titik awal yang sangat sederhana namun menentukan, yaitu ketika seseorang memutuskan duduk, membuka halaman pertama sebuah buku, dan membiarkan dunia baru lahir di kepalanya.

icon survey ekraf
avatar emika