Dari Bali, Indonesia Bawa Ekonomi Kreatif ke Panggung Dunia lewat WCCE 

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Kamis, 24 September 2026
0
0

Menelusuri Jejak WCCE, Forum Ekonomi Kreatif yang Lahir dari Indonesia

Era telah berubah, dahulu dilihat sebelah mata sekarang jadi pemeran utama. Industri kreatif kini bukan hanya sekadar sarana penyalur ide imajinatif namun mesin penggerak ekonomi yang inovatif.

Nyatanya ekonomi kreatif berhasil mencatat nilai pasar yang luar biasa secara global meskipun di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Sejak tahun 2002 hingga 2015, pasar produk kreatif mengalami lonjakan dua kali lipat mencapai angka US$ 509 miliar, jumlah yang ditaksir melebih pengeluaran militer Asia maupun Eropa.

Baca Juga : WCCE 2026 Perkuat Kolaborasi Global dan Buka Peluang Baru bagi Ekonomi Kreatif Indonesia


Sumber : Instagram @wcceid

Berangkat dari temuan tersebut, pemerintah Indonesia menilai bahwa industri kreatif berpotensi besar menjadi penggerak ekonomi global, guna mewujudkan goal tersebut maka diselenggarakan secara perdana World Conference on Creative Economy (WCCE) pada 6-8 November 2018 di Bali, Indonesia atas inisiasi Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) pada saat itu. Forum ini berhasil menyatukan 2.000 perwakilan multisektoral dari 74 negara, yang meliputi organisasi internasional, sektor swasta, pelaku kreatif, akademisi, media, kemudian disebut dengan Friends of Economy (FCE).

“Konferensi dunia pertama ekonomi kreatif merupakan upaya untuk menghubungkan berbagai elemen multidimensi dan pemangku kepentingan dalam ekonomi kreatif. Partisipasi dan kontribusi Anda dalam konferensi ini akan menjadi tonggak sejarah global bagi terwujudnya ekonomi dunia yang lebih inklusif,” ungkap Kepala Bekraf 2015-2019, Triawan Munaf dalam WCCE November 2018.

Baca Juga : Kementerian Ekraf Perkuat Sinergi Global Demi Rumuskan Jakarta Vision di WCCE 2026

Rangkaian kegiatan tersebut dimulai dengan FCE Meeting, dilanjutkan Ministerial Meeting, Plenary Meeting, dan Creative Session. Terdapat 6 poin pembahasan yaitu inklusivitas dalam ekonomi kreatif, kohesi sosial, regulasi, pemasaran, ekosistem dan keuangan, serta kerja sama Internasional ekonomi kreatif. Selain itu, WCCE juga menghadirkan Creative Village, area interaktif yang mengintegrasikan pameran produk kreatif dan business to business (B2B) meeting.

Inclusively Creative jadi tema utama permanen konferensi ini, berangkat dari sebuah keyakinan bahwa industri kreatif memiliki peran penting dalam menghadirkan era baru dunia bisnis yang lebih terbuka dan inklusif. Gagasan ini menekankan pentingnya akses yang setara bagi semua orang tanpa memandang usia, gender, latar belakang, maupun lokasi, sehingga seluruh lapisan masyarakat melalui industri kreatif dapat berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.


Sumber : Instagram @wcceid

Agenda tersebut tak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan. Dari sana, sejumlah inisiatif penting lahir dan ikut membentuk arah industri kreatif dunia, mulai dari Bali Agenda 2018, Resolusi PBB tentang ekonomi kreatif pada 2019 dan 2023, hingga jejaring FCE global.

Baca Juga : WCCE Perkuat Jakarta sebagai Kota Global Menuju 500 Tahun

Keberhasilan konferensi ini, menjadikannya agenda ekonomi kreatif global wajib tiap dua tahun sekali, dengan mengangkat isu yang berbeda tiap pertemuannya. Pelaksanaan WCCE kedua tahun 2021 di Dubai, UAE mengangkat sub tema Cultivating the Future; WCCE 2022 di Bali, Indonesia mengangkat sub tema Global Recovery; WCCE 2024 di Tashkent, Uzbekistan mengangkat tema A Shifted Reality.

Selanjutnya WCCE akan kembali digelar di Indonesia, tepatnya di Jakarta pada 21-23 Oktober 2026 mendatang dengan mengusung subtema Collective Continuity. Sebuah gagasan bahwa keberlanjutan seperangkat nilai, keyakinan dan identitas budaya dapat bertahan melintasi waktu melalui upaya bersama.

Diperkirakan akan hadir 10.000 peserta dari 80 lebih negara dari berbagai kalangan diantaranya, pemerintah, pimpinan eksekutif, pengusaha, investor, pegiat kreatif, media dan akademisi.

Pada WCCE 2026, Indonesia menargetkan penyusunan Jakarta Vision for Creative Economy yang akan digunakan sebagai dasar pengajuan resolusi lanjutan di Sidang Majelis Umum PBB.


Sumber : Instagram @wcceid

“Dokumen Jakarta Vision akan dirumuskan bersama negara peserta dan ditujukan untuk menjadi resolusi berikutnya di PBB, sehingga ekonomi kreatif memiliki pijakan kebijakan yang lebih kuat secara global,” ujar Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky dalam acara peluncuran The 5th WCCE 2026 di Autograph Tower, Rabu (6/5/2026).

Baca Juga : Buka Akses Pasar Global, Kementerian Ekraf Persilakan Brand Lokal Ramaikan WCCE 2026

Pembentukan dokumen Jakarta Vision on Creative Economy dilakukan secara kolaboratif dengan harapan agar tiap baitnya berisi aspirasi masyarakat internasional yang berorientasi pada penguatan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru dunia.

icon survey ekraf
avatar emika