Menjaga Taksu Bali di Era AI dan 3D Printing
Meskipun banyak orang khawatir Artificial Intelligence (AI) akan menggantikan pekerjaan dan mengikis kreativitas manusia, Jemana Murti memandang teknologi bukan sebagai ancaman. Baginya, AI dan 3D printing adalah dua alat utama dalam sebuah "kendaraan" yang pas untuk merealisasikan konsep berkaryanya. Ia melihat AI sebagai alat bantu, bukan pengganti seniman.
“Sejak awal manusia berkarya, alat hampir selalu dibutuhkan. AI tidak jauh berbeda dari konsep itu. Teknologi tidak bisa membebaskan kita dari tanggung jawab budaya. Jika dipakai dengan bijak, teknologi justru membantu memperluas karya seni dan menjaga kelestarian budaya Bali di era modern,” ungkapnya.
Baca Juga : Wamen Ekraf Dorong TERASI Perluas Akses Pasar Ilustrator Lokal
Realitas Krisis Regenerasi dan Pandangan Baru
Jemana Murti, seniman muda asal Denpasar berlatar belakang pendidikan New Media Art di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), Singapura, tumbuh di tengah tradisi Bali sejak 2020. Ketertarikannya pada seni rupa mengalir dari sang ayah yang juga seorang seniman. Namun, sekembalinya dari studi di luar negeri, ia mendapat perspektif baru layaknya orang luar (tourist). Hal-hal yang dianggap normal di Bali kini terasa janggal, memantik pertanyaan kritis yang mendesak

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Saat ini, Bali menghadapi tantangan besar terkait regenerasi seniman tradisional akibat tuntutan ekonomi. Di sisi lain, maraknya alih fungsi artefak budaya demi alasan finansial menjadi fenomena global yang disayangkan, meski tidak bisa disalahkan sepihak.
Dilema dan negosiasi pasar inilah yang menjadi ide inti konsep berkarya Jemana. Ia membungkus kegelisahan tersebut ke dalam karya yang "tidak bisa berbicara atau mengeluh".
Kolaborasi Pemindaian Digital, AI, dan 3D Printing
Didorong rasa ingin tahu terhadap metode penciptaan paling terkini, proses eksplorasi Jemana terbilang sangat unik dan metodis. Dimulai dari eksplorasi lapangan (3D scanning), yakni merekam objek budaya secara digital, seperti ukiran purba atau instrumen gamelan.
Proses dilanjutkan dengan pengolahan algoritma menggunakan AI, dengan memanipulasi dan "mengacak" data visual tiga dimensi melalui instruksi (prompts) hingga menghasilkan bentuk baru yang surealis.
Baca Juga : Wamen Ekraf: Seni Rupa Tak Cuma Estetika tapi Penggerak Ekonomi Kreatif
Tahapan akhir dilakukan melalui realisasi fisik (3D printing), yaitu mewujudkan kembali data digital tersebut menjadi patung atau relief fisik.
Tantangan terbesar Jemana justru hadir dari ketidaknyamanan psikologis saat mengintervensi, memotong, atau membengkokkan artefak yang dianggap memiliki "Taksu".

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Pesan Peringatan di Balik Sentuhan Glitch dan Warna Biru
Karya visual Jemana kerap menampilkan efek patahan digital (glitch) dan didominasi warna biru, sebuah referensi personal pada “blue screen of death” komputer Windows masa kecilnya saat masih di Sekolah Dasar (SD). Estetika ini menjadi metafora kritis.
Di Bali, tingkat kesakralan objek sangat bergantung pada fungsi, lokasi, dan ritualnya. Namun, ketika data arsip objek tersebut diolah oleh AI, bentuknya dapat direproduksi tanpa batas terlepas dari kesakralan sumber awalnya. Di sinilah letak negosiasi dan kesadaran seniman diuji.
“Saya selalu mengingatkan bahwa jika masyarakat hanya mengejar tampilan luar atau kepraktisan fisik 3D printing tanpa memahami makna filosofisnya, budaya Bali terancam kehilangan ruhnya dan menjadi sekadar ‘cangkang kosong’,” ungkapnya.
“A Robot with a Human Heart”: Media Baru Generasi Muda
Eksplorasi Jemana membuktikan bahwa taksu juga bisa lahir dari intensi dan ide sang seniman, meski proses AI dan 3D printer mampu menghasilkan ratusan opsi dalam waktu singkat dengan minim sentuhan manusia. Ia tidak melihat manusia dan mesin sebagai dua hal bertentangan, melainkan mesin sebagai ekstensi dari rasa manusia.
“Saya menyukai istilah ‘a robot with a human heart’. Bagi saya, seni ada di mana-mana. Kita hanya perlu memiliki sensitivitas yang cukup untuk menemukannya,” tuturnya.
Baca Juga : Wamen Ekraf: Seni Ukir Jepara Berpeluang Besar Tembus Pasar Internasional
Tentang Jemana Murti Studio
Jemana Murti Studio berdiri sejak akhir 2022 di Denpasar, Bali, sebagai ruang eksperimen artistik yang bebas. Studio ini lahir dari impian Jemana untuk menjadi seorang seniman. Studio ini menerapkan sistem kunjungan by appointment only atau berdasarkan janji temu.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Dalam proses berkarya, pengerjaan fisik dilakukan setiap Senin–Jumat, sementara proses konseptual, scanning, dan 3D modelling berlangsung setiap hari. Karya-karya Jemana Murti Studio telah dipamerkan di sejumlah negara, seperti Hong Kong, Singapura, Australia, Korea Selatan, dan Filipina, serta telah menjadi bagian dari koleksi bergengsi, termasuk Morgan Stanley dan Louis Vuitton.
Karya fisik Jemana dapat dilihat dan diapresiasi secara langsung melalui Gajah Gallery di Jakarta dan Singapura.


