“Pray for NTT” Pesan dan Doa di Langit Jakarta saat Malam Merdeka
Malam 17 Agustus biasanya dipenuhi cahaya dan kegembiraan. Namun, ada yang berbeda di tengah Malam Merdeka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Langit Jakarta membawa pesan yang sedikit berbeda. Di antara formasi cahaya yang menggambarkan perjalanan Indonesia, muncul tulisan “PRAY FOR NTT”.
Pesan itu hadir dalam pertunjukan drone di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat sebagai bagian dari rangkaian Malam Merdeka yang dikoordinasikan Kementerian Ekonomi Kreatif. Sekitar 1.500 drone disiapkan untuk membentuk konfigurasi visual yang memadukan warna, tema, dan narasi dalam satu kesatuan cerita.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Namun, pertunjukan tersebut tidak dirancang semata-mata untuk menghadirkan kemegahan teknologi. Sejak awal, pemerintah telah menyesuaikan rangkaian perayaan dengan situasi kebangsaan setelah gempa yang berdampak pada Nusa Tenggara Timur. Dalam konferensi pers Malam Merdeka, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menjelaskan bahwa tampilan “Pray for NTT” pada video mapping maupun drone merupakan bagian dari upaya untuk menyampaikan situasi batin masyarakat di tengah suasana duka.
“Peringatan kemerdekaan tahun ini menjadi ruang untuk mengingat perjalanan bangsa, menguatkan kebersamaan, serta menyampaikan pesan bahwa Indonesia adalah satu. Di tengah saudara-saudara kita yang sedang menghadapi dampak gempa di NTT, semangat kemerdekaan kita maknai dengan kepedulian dan solidaritas,” ujar Teuku Riefky Harsya.
Baca Juga: Langit Jakarta Dihiasi 1.400 Drone: Cerita Kemerdekaan dalam Cahaya Teknologi
Keputusan itu membuat drone show memperoleh makna lain. Drone yang selama ini lekat dengan pertunjukan spektakuler berubah menjadi medium untuk menyampaikan empati. Titik-titik cahaya di langit bukan hanya membentuk gambar, tetapi juga membawa pesan yang dapat dibaca bersama dalam satu ruang publik.
Pesan tersebut juga sejalan dengan semangat yang disampaikan dalam konferensi pers bahwa perayaan kemerdekaan tetap perlu dijalankan dengan empati. Deputi I Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Pemerintah, Fahd Pahdepie, menekankan pentingnya menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk mendoakan masyarakat terdampak dan menggalang solidaritas.
Di sinilah sisi kreatifnya menjadi menarik. Sebuah pesan yang biasanya disampaikan melalui poster, layar digital, atau media sosial, kali ini diterjemahkan ke dalam bahasa visual di udara. Untuk menghasilkan formasi seperti itu, diperlukan pertemuan antara konsep kreatif, desain visual, teknologi, dan produksi pertunjukan. Pemerintah menyebut rangkaian Malam Merdeka sendiri melibatkan ribuan talenta dari berbagai subsektor, termasuk desain, fesyen, musik, seni pertunjukan, konten digital, dan teknologi baru.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Dengan demikian, “Pray for NTT” bukan hanya sebuah tulisan yang muncul di langit. Ia menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi bagian dari komunikasi kebangsaan, menyampaikan rasa duka sekaligus mengingatkan bahwa perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi ruang untuk merawat persatuan dan kepedulian.
Baca Juga: Sentuhan Manusia, Magis yang Tak Tergantikan dalam Dunia Pengisi Suara
Ada sesuatu yang sederhana tetapi kuat dari sebuah pesan yang hanya terdiri dari beberapa kata. Ia tidak membutuhkan penjelasan panjang. Ketika muncul di antara ribuan cahaya, maknanya langsung terbaca: di tengah kegembiraan, ada saudara sebangsa yang sedang menghadapi musibah.
Malam Merdeka akhirnya bukan hanya tentang seberapa spektakuler langit Jakarta terlihat. Ia juga tentang bagaimana kreativitas digunakan untuk membawa pesan yang lebih manusiawi.
Teknologi mungkin membuat drone mampu membentuk gambar di langit. Tetapi yang membuat gambar itu berarti tetaplah cerita yang ingin disampaikan.
Pada malam HUT ke-81 RI, langit Jakarta tidak hanya menjadi panggung pertunjukan. Ia menjadi ruang untuk mengingat, mendoakan, dan menunjukkan bahwa di tengah perayaan kemerdekaan, Indonesia tetap hadir sebagai satu bangsa.


