Saat Monas ‘Disulap’ Menjadi Kisah Perjalanan Indonesia dari Masa ke Masa

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Jumat, 28 Agustus 2026
0
4

Malam hadir di Jakarta. Cahaya gelap perlahan menyelimuti dinding Monumen Nasional (Monas), Senin (17/8). Namun, dari kejauhan bangunan yang selama ini menjadi penanda sejarah ibu kota itu berubah menjadi layar raksasa dengan sorot lampu dan warna yang tajam. Warga yang datang untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menyaksikan pertunjukan cahaya, tetapi diajak menelusuri kembali perjalanan panjang bangsa, dari perjuangan merebut kemerdekaan hingga mimpi membangun Indonesia Emas 2045. Video mapping yang berlangsung pukul 18.00–23.00 WIB itu menghadirkan 13 konten visual dengan dukungan 32 proyektor berteknologi tinggi.

Dari Perjuangan ke Indonesia Emas

Cerita yang diproyeksikan ke tubuh Monas dibangun dalam tiga babak. Segmen pertama membawa penonton ke masa pra-kemerdekaan, ketika perjuangan bangsa berlangsung dengan pengorbanan jiwa dan raga. Cerita kemudian bergerak menuju momentum Proklamasi sebagai titik lahirnya Indonesia merdeka, sebelum memasuki segmen ketiga tentang Semangat Kemerdekaan ke-81 menuju Indonesia Emas 2045. Bagi Aptronim, studio yang bergerak di bidang multimedia event dan memadukan seni grafis, animasi, teknologi visual, serta interactive display, rangkaian visual tersebut bukan sekadar pertunjukan teknologi.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

Founder Aptronim, Cimz Gramile, mengatakan konsep video mapping Monas kali ini dikembangkan melalui kolaborasi Aptronim dengan JXB sebagai penyelenggara, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, serta arahan dari Sekretariat Kabinet.

"Alur cerita berisi tentang runtutan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, terbagi dalam tiga segmen yaitu Pra Kemerdekaan, Momentum Kemerdekaan dan Semangat Kemerdekaan ke-81 menuju Indonesia Emas 2045," ujar Cimz.

Baca Juga: Erika Richardo Sulap Kereta hingga Pesawat Jadi Kanvas Lukisan

Tiga segmen itu menjadi benang merah yang menghubungkan sejarah dengan tanggung jawab generasi hari ini.

Di balik gemerlap visual dan teknologi yang digunakan, pesan yang ingin disampaikan justru sederhana: kemerdekaan tidak boleh membuat generasi penerus melupakan perjuangan orang-orang yang telah mendahuluinya.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

"Kita sebagai generasi penerus, harus selalu mengingat pengorbanan para pahlawan merebut kemerdekaan ini dengan jiwa dan raga dan juga kita sebagai generasi muda harus terus semangat untuk selalu memiliki daya juang tinggi dalam memajukan negeri kita tercinta ini," kata Cimz.

Baca Juga: Sentuhan Visual Anak Depok di Balik Karya Terbaru Ariana Grande

Monas malam itu seolah menjadi ruang untuk mengingat sekaligus menyalakan kembali semangat tersebut.

Ketika Kemerdekaan Berarti Peduli

Cerita tentang kemerdekaan dalam video mapping itu juga tidak berhenti pada masa lalu. Di antara rangkaian visual perjalanan bangsa, muncul pesan #PrayforNTT. Tulisan tersebut menjadi bentuk duka cita sekaligus dukungan kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah menghadapi musibah. Di tengah suasana perayaan, pesan itu mengingatkan bahwa merdeka bukan hanya tentang pesta, tetapi juga tentang kemampuan untuk hadir dan saling menguatkan ketika saudara sebangsa sedang menghadapi kesulitan.

Memasuki babak menuju Indonesia Emas 2045, video mapping membawa penonton pada refleksi tentang masa depan. Bagi Cimz, kemerdekaan pada usia 81 tahun seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian Indonesia di berbagai bidang.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

"Memaknai hari kemerdekaan ke-81, kita harus makin menyadari bahwa Indonesia harus semakin mandiri di segala aspek seperti ekonomi, ketahanan pangan, ketahanan energi dan menyiapkan SDM unggul untuk Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Perjalanan yang ditampilkan di dinding Monas pun terasa seperti sebuah estafet: perjuangan masa lalu diteruskan menjadi tanggung jawab generasi masa kini.

Baca Juga: Pelangi di Mars, saat Teknologi Hollywood Hadir di Film Animasi Indonesia

Pada akhirnya, video mapping Malam Merdeka bukan hanya tentang bagaimana teknologi membuat Monas tampak berbeda selama beberapa jam. Di balik 32 proyektor dan 13 konten visual, ada upaya menerjemahkan sejarah, nasionalisme, solidaritas, dan cita-cita masa depan ke dalam bahasa visual yang dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.

"Estafet perjuangan tidak terhenti di masa lalu, pengorbanan para pahlawan harus terus kita lanjutkan dari generasi ke generasi, secara bersama-sama kita memajukan negeri," tutur Cimz.

Bagi para pekerja kreatif yang berada di balik pertunjukan tersebut, karya akhirnya tidak diukur hanya dari kemegahan gambar yang terpancar di Monas, tetapi dari kesan yang tertinggal setelah cahaya padam.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

"Sebagai pekerja kreatif di bidang seni visual dan teknologi, kami berharap apa yang telah kami suguhkan pada video mapping Monas kali ini mempunyai nilai kesan mendalam yang bisa mengajak para audiens terutama generasi muda untuk selalu gigih berjuang di segala bidang, memajukan negeri bersama-sama seperti halnya para pahlawan yang telah gigih merebut kemerdekaan," kata Cimz.

Malam pun berlalu, proyeksi akhirnya padam, tetapi pesan yang ditinggalkan tetap menyala, kemerdekaan adalah estafet perjuangan yang harus diteruskan bersama.

icon survey ekraf
avatar emika