SUGBK, Mahakarya Arsitektur yang Mendobrak Mimpi Indonesia ke Piala Dunia

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Selasa, 14 Juli 2026
0
66

Riuh Piala Dunia 2026 menggema hampir di setiap penjuru dunia, termasuk Indonesia. Layar televisi di ruang keluarga, warung kopi, hingga gawai di tangan para pencinta sepak bola dipenuhi pertandingan demi pertandingan.

Meski Timnas Indonesia belum menjadi bagian dari pesta sepak bola terbesar itu, harapan tak pernah benar-benar padam. Di setiap gol yang tercipta dan setiap stadion megah yang tersorot kamera, selalu terselip satu pertanyaan yang sama: kapan Garuda akan tampil di panggung tertinggi sepak bola dunia?

Harapan itu bukan hanya hidup di benak jutaan suporter. Ia juga seolah tersimpan di sebuah tempat yang telah menjadi saksi perjalanan panjang sepak bola Indonesia: Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Dari laga bersejarah, euforia kemenangan, hingga kekecewaan yang membentuk mental pecinta sepak bola Tanah Air, stadion ini menyimpan banyak cerita. Bahkan sebelum pemain menginjak lapangan dan puluhan ribu penonton memenuhi tribun, GBK sudah lebih dulu berbicara melalui kemegahan yang dimilikinya.

Baca Juga : Dukung Ekosistem Arsitektur dan Desain Interior, Menteri Ekraf Hadiri IndoBuildTech Expo 2026

Salah satu bahasa yang paling kuat disampaikan GBK adalah arsitekturnya. Selama lebih dari enam dekade, stadion ini berdiri bukan hanya sebagai arena olahraga, melainkan salah satu karya arsitektur paling ikonik di Indonesia yang menyatukan sejarah, identitas bangsa, dan mimpi untuk terus tampil di panggung dunia.


Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf

Dibangun untuk menyambut Asian Games 1962, GBK lahir sebagai simbol optimisme Indonesia yang baru merdeka. Dengan rancangan bergaya modern dan struktur monumental, stadion ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan infrastruktur olahraga berkelas internasional. Salah satu ciri khasnya adalah atap "Temu Gelang" yang hingga kini menjadi identitas visual GBK sekaligus salah satu elemen arsitektur paling dikenali di Indonesia.

Baca Juga : Rindekraf 2026-2045 Optimalkan Daerah Jadikan Ekraf The New Engine of Growth

Meski telah mengalami renovasi besar menjelang Asian Games 2018, karakter arsitektur GBK tetap dipertahankan. Perpaduan antara warisan sejarah dan pembaruan teknologi membuat stadion ini tetap relevan dengan standar internasional tanpa kehilangan jati dirinya.

Dalam perspektif ekonomi kreatif, arsitektur memiliki peran yang jauh melampaui fungsi membangun gedung. Sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif, arsitektur menghadirkan nilai tambah melalui desain yang mampu membentuk identitas sebuah kota, menciptakan pengalaman ruang, hingga meningkatkan daya tarik destinasi.

GBK menjadi contoh nyata bagaimana sebuah karya arsitektur dapat memberi dampak ekonomi yang luas. Kawasan ini tak lagi hidup hanya saat pertandingan berlangsung. Berbagai konser musik internasional, festival, pameran, ajang lari, hingga aktivitas komunitas rutin digelar di kawasan GBK. Kehadiran berbagai kegiatan tersebut menghidupkan pelaku ekonomi kreatif, mulai dari penyelenggara acara, pelaku UMKM, industri kuliner, fotografi, hingga sektor pariwisata.


Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf

Inilah yang menjadi salah satu perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif. Infrastruktur kreatif bukan sekadar ruang fisik, tetapi juga fondasi yang memungkinkan lahirnya kolaborasi, inovasi, dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Arsitektur yang baik mampu menciptakan ruang yang produktif sekaligus memperkuat citra Indonesia di mata dunia.

Baca Juga : Kementerian Ekraf Tegaskan Peran Arsitektur dalam Mitigasi Bencana di Forum DR3

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa stadion modern telah berkembang menjadi lebih dari sekadar arena olahraga. Stadion-stadion ikonik dunia menjadi landmark kota, destinasi wisata, hingga pusat penyelenggaraan berbagai acara internasional yang terus menggerakkan ekonomi lokal sepanjang tahun. GBK telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki modal tersebut.

icon survey ekraf
avatar emika