Dari KEK Singhasari, HelloMotion High School Menempa Generasi Kreatif Masa Depan

Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf RI
Selasa, 1 September 2026
0
11

Tidak banyak sekolah menengah yang mengawali pembelajaran desain dengan mengajak siswanya bereksplorasi sebelum menentukan jalan hidupnya. Di HelloMotion High School, yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, Malang, ruang kelas menjadi laboratorium kreativitas. Di sini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menjalani proses design thinking, seni visual, teknologi digital, hingga berinteraksi langsung dengan ekosistem industri kreatif. Pendekatan inilah yang menjadikan HelloMotion High School bukan sekadar sekolah, melainkan ruang tumbuh bagi calon pelaku industri kreatif masa depan.

Sejak kelas 10, para siswa dikenalkan pada ilustrasi, desain grafis, fotografi, hingga pemrograman. Memasuki kelas 11, seluruh pembelajaran berkembang menjadi animasi dan film making sehingga karya yang sebelumnya hanya berupa gambar mulai "diberi nyawa". Kepala Sekolah HelloMotion High School, Muhammad Badrul Munir, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut berbeda dengan sekolah kejuruan pada umumnya. "Kalau di HelloMotion itu kita kasih part-part-nya. Kita juga ada coding, ada tiga modul khas, sehingga ketika lulus mereka cukup varian. Ada yang menjadi sound engineering, desain produk industri, fashion, dan banyak bidang lainnya," ujarnya.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekonomi Kreatif.

Alih-alih menentukan satu jurusan sejak awal, sekolah ini justru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenali potensinya sendiri. Menurut Badrul, proses tersebut menjadi fondasi penting agar setiap anak menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan minatnya.

"Jadi kelas 10 itu kita tidak langsung mengarahkan anak ke dalam satu plot, tetapi memberikan beberapa pilihan yang mereka coba terlebih dahulu. Impact pertama bukan ke industri dulu, tetapi ke anak dulu," katanya.

Baca Juga: Matalokal: A Creative Economy Space Stitching Culture and Design

Pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered learning) kemudian melahirkan pengalaman belajar yang jauh lebih dekat dengan dunia kerja. Ketika memasuki kelas 11, para siswa mulai menerima proyek nyata melalui sistem open commission, mengikuti pameran kreatif seperti Comifuro dan Cibicon, hingga mengerjakan berbagai kebutuhan desain dan produksi konten. Beberapa di antaranya bahkan telah memproduksi film dokumenter, melakukan branding desa wisata, hingga mendukung proyek komunikasi visual berbagai instansi.

"Impact besarnya itu harus dimulai dari impact yang bisa dirasakan oleh si anak dulu," tutur Badrul.

Gagasan mendirikan HelloMotion High School sendiri lahir dari kegelisahan terhadap sistem pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya memberi ruang bagi kreativitas. Berawal dari pertemuan Haidar Bagir dan Wahyu Aditya pada 2015, keduanya melihat banyak anak yang dianggap kurang berprestasi secara akademik, padahal memiliki potensi luar biasa di bidang lain.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekonomi Kreatif.

"Ternyata ada ruang di mana dunia pendidikan kita tidak memfasilitasi itu. Apa ruang tersebut? Yaitu bebas berekspresi," ungkap Badrul saat menceritakan awal berdirinya sekolah tersebut.

Filosofi itu terus dijaga hingga sekarang. HelloMotion High School menerima siswa dengan beragam karakter dan bakat, bukan hanya mereka yang unggul dalam akademik. Ada yang diarahkan menjadi animator, ilustrator, musisi, desainer produk, hingga atlet. Bahkan ketika seorang siswa harus mengikuti kompetisi atau pendalaman bakat tertentu, sekolah memberikan ruang agar mereka dapat fokus mengembangkan potensinya. Bagi sekolah, keberhasilan tidak diukur dari keseragaman prestasi, tetapi dari kemampuan setiap siswa menemukan jalur terbaiknya.

KEK Singhasari Sebagai Ekosistem Industri Kreatif

Keberadaan HelloMotion High School di KEK Singhasari juga memperkuat pengembangan produk digitalisasi sektor pendidikan yang sedang dibangun kawasan tersebut. Lingkungan KEK Singhasari menghadirkan ekosistem yang memungkinkan pendidikan, riset, industri, dan teknologi saling terhubung. Bersama berbagai kolaborator seperti Roleplay, Coding Factory, dan komunitas kreatif lainnya, siswa tidak hanya memanfaatkan fasilitas belajar, tetapi juga mengembangkan berbagai riset yang relevan dengan kebutuhan industri. Salah satunya adalah penelitian mengenai pemanfaatan daun gugur menjadi eco-enzyme dan bahan baku kertas ramah lingkungan.

Baca Juga: Wamen Ekraf Ajak Publik Cintai IP Lokal Agar Makin Dikenal dan Mendunia

Menurut Badrul, kekuatan terbesar KEK Singhasari justru terletak pada kolaborasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Para praktisi industri dapat hadir langsung sebagai mentor, sementara siswa memperoleh pengalaman menghadapi standar profesional sejak dini.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekonomi Kreatif.

"Anak-anak datang langsung bisa lihat kalau kerja di industri itu seperti ini. Bahkan yang berada di industri pun bisa langsung mengajar ke kita," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ketika siswa memasuki kelas akhir, mereka harus siap menerima evaluasi layaknya profesional. "Kalau memang karyanya jelek ya jelek. Mereka harus tahu realita industri," tegasnya.

Ekosistem tersebut terus diperkuat melalui jejaring internasional. Saat ini HelloMotion High School telah menjalin kerja sama dengan Digital Hollywood University di Jepang dan The One Academy di Malaysia, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan institusi pendidikan kreatif lainnya. Dengan demikian, siswa memiliki jalur yang lebih jelas untuk melanjutkan studi maupun memasuki dunia profesional sesuai bidang yang mereka tekuni.

Melalui model pendidikan yang memadukan kreativitas, teknologi digital, riset, dan kolaborasi industri, HelloMotion High School menjadi salah satu wajah baru transformasi pendidikan di KEK Singhasari. Kawasan ini tidak hanya menghadirkan infrastruktur digital, tetapi juga membangun ekosistem yang mampu mencetak talenta kreatif sejak bangku sekolah. Dari ruang-ruang kelas yang dipenuhi ilustrasi, animasi, hingga eksperimen teknologi, KEK Singhasari tengah menunjukkan bahwa masa depan industri kreatif Indonesia dapat dimulai dari pendidikan yang memberi ruang bagi setiap anak untuk menemukan potensi terbaiknya.

icon survey ekraf
avatar emika