KEK Singhasari, Rumah Ekosistem Kreatif Daerah
Di tengah lanskap ekonomi kreatif Malang Raya, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari hadir dengan peran yang berbeda. Ia bukan semata kawasan yang dibatasi pagar dan memiliki sejumlah fasilitas industri. Di dalamnya, pendidikan, industri kreatif, teknologi digital, riset, dan pariwisata sedang dirajut menjadi satu ekosistem yang saling menghidupi. Gagasannya sederhana: mempertemukan berbagai potensi yang sudah tumbuh di daerah, lalu menyediakan ruang agar potensi tersebut berkembang dari hulu hingga hilir.
KEK Singhasari bahkan menjadi salah satu pionir kawasan yang sejak awal mengusung ekonomi kreatif dan pendidikan sebagai bagian dari pengembangannya. "Kami KEK yang pertama yang mengangkat untuk industri kreatif dan juga pendidikan. Sebelum KEK yang lain yang juga mengangkat tema yang sama, tapi kami di awal," kata Vice President Corporate Secretary sekaligus General Manager Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Singhasari, Kriswidyat Praswanto.
Baca Juga: Wamen Ekraf Ajak Publik Cintai IP Lokal Agar Makin Dikenal dan Mendunia
Selain dua sektor tersebut, KEK Singhasari juga mengembangkan teknologi digital, dengan empat sektor utama yang mencakup pendidikan, pariwisata, industri kreatif, serta ekonomi digital, riset, dan pengembangan teknologi.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
Pandemi Covid-19 dan Titik Reborn Ekosistem Ekraf Malang Raya
Namun, perjalanan menuju ekosistem tersebut tidak berlangsung dalam semalam. Pandemi Covid-19 justru menjadi titik balik bagi pengelola KEK Singhasari untuk melihat kembali potensi yang dimiliki Malang Raya. Pada 2021, ketika rencana bisnis sebelumnya tidak lagi sepenuhnya relevan dengan perubahan kondisi, pengelola memilih mencari peluang baru yang paling mungkin dikembangkan.
"Tahun 2021 ini kita mulai mencari potensi yang ada di Malang Raya. Dan potensi apa yang kita bisa kembangkan atau kita geser di KEK," ujar Kriswidyat. Strateginya adalah menemukan peluang yang masih dapat bergerak di tengah keterbatasan ekonomi saat itu.
Dari pencarian tersebut, perhatian kemudian mengarah kepada para pelaku ekonomi kreatif yang tetap bertahan selama pandemi. Pengelola KEK Singhasari mulai mempertemukan sejumlah tokoh dan komunitas kreatif Malang Raya, termasuk pelaku animasi, film, videografi, sinematografi, hingga coding.
"Kami berkenalan dengan beberapa tokoh-tokoh ekraf di Malang Raya, termasuk Mas Uga, Mas Deni dengan ekosistemnya yang animasi, kemudian Mas Wiki dengan ekosistemnya di film, videografi, sinematografi, kemudian Mas Amar yang di coding," tutur Kriswidyat.
Baca Juga: Menteri Ekraf Dorong JAFF Market 2026 Jadi Hub Monetisasi IP Film Nasional
Mereka tidak sekadar dikumpulkan, tetapi diajak memikirkan bersama bagaimana potensi tersebut dapat menjadi aktivitas ekonomi baru di dalam kawasan. Dari pertemuan dan pertukaran gagasan itu, muncul kesadaran bahwa kekuatan ekonomi kreatif tidak cukup dibangun dengan menghadirkan pelaku usaha secara terpisah. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat mereka dapat saling menopang.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
"Kami mempelajari dari diskusi dengan teman-teman bahwa kalau di ekonomi digital itu yang cukup penting itu terbentuknya suatu ekosistem yang saling mendukung," kata Kriswidyat. Dari sanalah konsep ekosistem terintegrasi KEK Singhasari mulai dibangun, dengan melihat titik-titik yang masih lemah dan membutuhkan intervensi.
Hadirkan Hulu-Hilir Ekosistem Ekraf
Persoalan terbesar ternyata berada di dua ujung rantai: hulu dan hilir. Di hulu, pelaku usaha kreatif masih menghadapi persoalan pembiayaan. Banyak usaha kreatif belum mudah mendapatkan akses pendanaan karena belum sepenuhnya dipahami oleh lembaga keuangan. Sementara di hilir, tantangannya adalah menemukan pasar dan membangun jejaring yang lebih luas.
"Di hulunya ini pembiayaan, di hilirnya ini offtaker-nya. Nah, di dua hal ini yang kita harus fasilitasi untuk bisa mengakselerasi dan mengekskalasi kegiatan usaha teman-teman ini," ujarnya.
Karena itu, KEK Singhasari berupaya memainkan peran sebagai penghubung. Di sisi hulu, fasilitasi diarahkan untuk menjawab persoalan pembiayaan yang selama ini menjadi tantangan klasik bagi pelaku industri kreatif. Di sisi hilir, pengelola membangun jejaring yang diharapkan tidak berhenti pada pasar domestik.
Baca Juga: Pemerintah Perkuat SDM Ekonomi Kreatif Lewat Kerja Sama dengan RMIT University
"Kalau dari kami misinya dengan nama KEK itu kami bisa berjejaring sampai ke luar negeri, bahkan harapannya sampai global," kata Kriswidyat. Dengan jejaring tersebut, pelaku usaha yang beraktivitas di KEK Singhasari diharapkan memiliki akses yang lebih luas untuk memperkenalkan karya, produk, dan jasanya.
Yang menarik, ekosistem tersebut tidak dirancang untuk membuat setiap sektor berjalan sendiri-sendiri. Tantangan industri kreatif yang terus berubah mendorong pengelola untuk mencari model kolaborasi baru, termasuk melalui konsep bundling antara ekonomi digital, pendidikan, dan pariwisata. Studio animasi dan visual effect, misalnya, tidak hanya mengerjakan proyek industri, tetapi dapat mengembangkan keahliannya untuk kebutuhan pendidikan. Kunjungan pelajar dari SMK dan politeknik ke kawasan pun dapat dikemas menjadi pengalaman wisata edukasi yang sekaligus memperkenalkan industri kreatif dan teknologi yang berkembang di dalam KEK.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
Rumah Bagi Pegiat Ekraf di Malang Raya
Dengan model tersebut, sebuah studio animasi dapat memiliki fungsi lebih dari sekadar ruang produksi. Ia dapat menjadi tempat belajar, ruang pengembangan talenta, sekaligus bagian dari atraksi kawasan. Begitu pula pendidikan dapat menjadi sumber talenta bagi industri, sementara pariwisata menjadi kanal untuk memperkenalkan berbagai aktivitas kreatif kepada masyarakat yang datang ke kawasan.
"Ciri khas di KEK Singasari ini semuanya saling terkait. Jadi meskipun di sini labelnya kegiatan di animasi, di virtual effect, di coding, tapi juga mereka punya peranan di pendidikan, di pariwisata juga," ujar Kriswidyat.
Pada akhirnya, KEK Singhasari sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kawasan ekonomi khusus. Ia tengah menjadi rumah bagi potensi kreatif daerah, tempat pelaku industri bertemu dengan pendidikan, teknologi bertemu dengan kreativitas, dan karya bertemu dengan pasar. Jika konsep hulu hingga hilir ini terus diperkuat, KEK Singhasari tidak hanya menjadi lokasi bagi perusahaan dan aktivitas ekonomi, tetapi dapat tumbuh sebagai ekosistem kreatif daerah yang menghasilkan talenta, inovasi, produk, dan jejaring pasar.
Baca Juga: Kunjungi KEK ETKI Banten, Menteri Ekraf Perkuat Ekosistem Investasi dan Talenta Ekonomi Kreatif
Dari Malang Raya, sebuah model kawasan sedang diuji: bahwa kekuatan ekonomi kreatif bukan hanya terletak pada siapa yang menghasilkan karya, tetapi pada seberapa kuat ekosistem di sekelilingnya membuat karya tersebut mampu tumbuh, bertahan, dan mencapai pasar yang lebih luas.


