Dari Malang hingga Swedia, Karya 3D Printing SMKN 11 Tembus Pasar Internasional
“Kehadiran teknologi 3D printing sebagai peluang besar untuk melatih kedisiplinan dan mentalitas industri siswa,” ujar Guru Animasi sekaligus Kepala Jurusan (Kajur) Animasi SMKN 11 Malang (SKALASMA), Yuda Eka Pratama.
Sejak mengajar Seni Budaya pada 2012–2024 hingga beralih mengampu mata pelajaran Produktif Animasi sejak 2024, Yuda terus berupaya merealisasikan karya siswa dari bentuk digital ke wujud fisik.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
Begitu menjabat sebagai Kajur Animasi pada 2024, ia langsung menginisiasi pembentukan unit produksi bernama “Garis Miring Production”. Langkah inovatif ini kemudian diperkuat pada Desember 2025 ketika pihak jurusan mengajukan dan berhasil mendatangkan mesin 3D printer melalui alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang kodenya tercantum di Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD). Alat tersebut dieksekusi secara maksimal untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, khususnya pada materi 3D modelling.
Baca Juga: Wamen Ekraf Terkesan Eksplorasi Seni Berbasis AI dan 3D Printing di Bali
Realita Potensi Pinggiran Kota dan Cerita Penciptaan Karya
Meski para siswa yang masuk ke jurusan Animasi SMKN 11 Malang berasal dari latar belakang daerah pinggiran kota, Yuda menemukan potensi luar biasa pada diri mereka yang mampu menghasilkan desain karakter yang bagus dan detail. Lantas, Tim Animasi SMKN 11 Malang terdorong untuk mencari cara terbaik agar desain karakter 2D tersebut dapat direalisasikan ke dalam bentuk fisik 3D. Sebelum tersedianya printer 3D di sekolah, proses pembuatan pemodelan 3D sempat diproduksi secara manual menggunakan bahan Dash Clay.
Kehadiran mesin pencetak 3D akhirnya menjadi jawaban atas kebutuhan eksperimen siswa. Lebih dari sekadar tugas kelas, karya yang dibuat terus diarahkan menuju standar kualitas tinggi hingga saat ini. SMKN 11 Malang menetapkan spesifikasi khas berupa penggunaan bahan dan filament terbaik, jaminan pelayanan terbaik, serta kebebasan bagi pemesan untuk melakukan penyesuaian (custom), terkait bentuk, berat, ukuran, dimensi, hingga warna sesuai desain yang diinginkan.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
GarisMiring Production dan Pengembangan IP
Nama "Garis Miring Production" lahir dari bentuk logo yang menyimpan hidden message (pesan tersembunyi). Logo tersebut merupakan gambaran visual dari angka 11 yang posisinya dibuat miring. Arah kemiringan garis dari kiri bawah ke kanan atas menggambarkan kurva positif pada koordinat Kartesius yang menyimbolkan nilai pertumbuhan, perkembangan, dan peningkatan ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan.
Dari Sketsa ke Figur, Menghidupkan IP Karya Kreatif
Bagi Garis Miring Production, kekayaan intelektual tidak berhenti pada karakter dan cerita. Beberapa IP mandiri terus dikembangkan agar memiliki identitas dan peluang untuk tumbuh menjadi karya yang lebih luas.
Baca Juga: Safari Menteri Ekraf di SMK Binaan Djarum Foundation Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
Salah satunya GOTA (The Rise of Folkgames), karakter yang menjadi maskot Konsentrasi Keahlian Animasi SKALASMA. Terinspirasi dari bentuk kambing dan istilah GOAT (Greatest Of All Time), GOTA menggambarkan sosok gigih yang menyukai olahraga. Karakter ini dipersiapkan menjadi tokoh utama serial “FOLK, The Rise of Folkgames”, sekaligus dikembangkan sebagai IP dan maskot konsentrasi keahlian.
Selain GOTA, ada Adhipati, IP yang masih dalam tahap pengembangan. Ceritanya terinspirasi dari tari-tarian tradisional yang dikemas secara modern untuk merespons konflik dan persoalan masa kini.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
Pengembangan IP juga diwujudkan dalam bentuk fisik melalui teknologi 3D printing. Prosesnya dimulai dari sketsa 2D, 3D modeling dan sculpting, pemeriksaan model, slicing, pencetakan, hingga finishing. Untuk satu figur dengan tingkat detail sedang, prosesnya membutuhkan waktu sekitar dua hingga empat hari.
Tantangan utamanya adalah memastikan model digital dapat diwujudkan secara fisik. Kendala seperti filamen yang tidak menempel, support yang rusak, atau mesin yang berhenti di tengah proses membutuhkan ketelitian dan kemampuan troubleshooting.
Dari proses tersebut, sebuah karakter tidak hanya hadir sebagai gambar atau cerita, tetapi dapat berkembang menjadi figur fisik dan membuka peluang baru bagi pengembangan IP kreatif.
Pengembangan Kewirausahaan dan Manajemen Komersialisasi
Awalnya difungsikan murni untuk kebutuhan pembelajaran, pemodelan 3D di SMKN 11 Malang berkembang menjadi kegiatan kewirausahaan guna memperlihatkan iklim industri kerja yang nyata bagi siswa. Unit produksi dilakukan di studio atau ruang kerja 3D sekolah, di mana guru bertindak sebagai pembimbing dan siswa terlibat penuh pada aspek teknis pembuatan.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
Untuk membagi waktu agar tidak mengganggu kegiatan akademik, proses produksi disesuaikan dengan jadwal belajar siswa. Pesanan yang masuk disesuaikan dengan kapasitas serta tenggat waktu yang ada. Pendapatan dari hasil penjualan diputar kembali untuk mendukung keberlanjutan operasional, seperti pembelian bahan filament, perawatan peralatan, serta media edukasi pengelolaan biaya produksi, penentuan harga jual, dan perhitungan keuntungan bagi siswa.
Baca Juga: Wamen Ekraf: Seni Ukir Jepara Berpeluang Besar Tembus Pasar Internasional
Dalam menghadapi tantangan komersialisasi seperti menjaga konsistensi kualitas, ketepatan waktu pengiriman, dan pemenuhan spesifikasi pelanggan, sekolah menetapkan skema harga secara proporsional. Biaya cetak dipatok senilai Rp750/gram untuk satu warna tanpa pengecatan, serta Rp1.250/gram untuk figur yang dilengkapi warna atau finishing cat. Pemesanan dilakukan melalui konsultasi langsung via media sosial atau kontak resmi sekolah.
Dari Pameran hingga Pasar Internasional
Karya 3D printing dan serial animasi SMKN 11 Malang tak hanya dikembangkan sebagai karya pembelajaran, tetapi juga mulai menemukan ruang di pasar kreatif. Sejumlah karya telah dipamerkan dalam EXPO EXPOSE Jatim 2026 di Grand City Surabaya, MeetUp pegiat komunitas Kota Malang, hingga Malang Experience Media Art di Stadion Gajayana.
Di ajang EXPO EXPOSE 2026, karya cetak 3D dan animasi siswa tercatat terjual sekitar 500 unit. Pengembangan karya juga melahirkan pesanan khusus dari komunitas kolektor figur Gundam dan Evangelion, bahkan menjangkau pasar internasional melalui pesanan action figure dari pelanggan di Swedia.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/Badan Ekraf
“Melalui jargon GarisMiring, Never ending action, jurusan Animasi SMKN 11 Malang menanamkan prinsip bahwa karya siswa tidak berhenti sebagai tugas sekolah, tetapi harus memiliki nilai guna, keunggulan komersial, dan standar yang dapat diserap industri kreatif,” ujar Yuda Eka Pratama.
Menurut Yuda, generasi muda di bidang animasi dan 3D printing juga perlu memiliki mentalitas kreator, kreativitas, kedisiplinan, serta kemampuan memecahkan masalah. Bekal tersebut penting agar mereka mampu mengembangkan karya sekaligus bersaing di tingkat nasional maupun internasional.


