Jika AI Bisa Membuat Gambar, Apa yang Membuat Seni Manusia Tetap Berarti?
AI kini mampu menghasilkan gambar dalam hitungan detik. Dengan sebuah perintah singkat, mesin dapat menyusun warna, bentuk, karakter, bahkan meniru pendekatan visual tertentu. Di tengah perkembangan itu, muncul pertanyaan yang semakin relevan: ketika teknologi dapat menghasilkan gambar dengan begitu cepat, apa yang membuat karya seni manusia tetap memiliki arti? Pertanyaan tersebut menemukan ruang yang menarik di Art Jakarta 2026, yang kembali mempertemukan seniman, galeri, kolektor, komunitas, dan penikmat seni dalam satu ruang di JIExpo Kemayoran.
Ketika Seni Bukan Sekadar Gambar
Art Jakarta 2026 menghadirkan 75 galeri, termasuk 33 galeri internasional. Selain presentasi utama dari galeri, perhelatan ini juga menghadirkan dua platform, yaitu AJ (Art Jakarta) Spot, yang menampilkan karya dan sajian di luar format booth konvensional, serta AJ Scene, yang menyoroti kolektif seniman dan proyek kolaboratif dengan beragam praktik dalam medan seni rupa Indonesia. AJ Scene tahun ini melibatkan 39 inisiatif independen dan komunitas, bertambah dari 33 partisipan pada tahun sebelumnya.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Bagi Fair Director Art Jakarta, Tom Tandio, perluasan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang lebih luas. “As we grow as a fair, we also grow together with many communities and elements that make up the art ecosystem: artists, galleries, collectors, communities (Seiring pertumbuhan kami sebagai sebuah pameran, kami turut berkembang bersama banyak komunitas serta elemen pembentuk ekosistem seni: mulai dari seniman, galeri, kolektor, hingga komunitas),” ujarnya. Menurut Tom, Art Jakarta berperan sebagai platform yang membantu mempertemukan berbagai pelaku sekaligus memfasilitasi pergerakan pasar seni.
Baca Juga : Kemenekraf Dorong Pemanfaatan Human-Centric AI demi Jaga Kreativitas Manusia
Pandangan itu penting ketika membicarakan seni di era AI. Sebab, sebuah karya seni melibatkan banyak proses kreatif yang tidak bisa direplikasi oleh mesin. Ada manusia yang menciptakan gagasan, memilih medium, mengambil keputusan artistik, lalu membawa pengalaman dan konteks tertentu ke dalam karya. Setelah itu, karya tersebut bertemu dengan penonton yang juga memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda.
Pengalaman manusia itu terlihat jelas dari cara para seniman berbicara tentang proses kreatif mereka. Ansn Martin, misalnya, mengatakan bahwa karya-karyanya banyak berangkat dari keresahan dan pengalaman pribadi. “Karya saya rata-rata berasal dari keresahan dan pengalaman pribadi. Jadi, saya mencoba mengekspresikannya melalui karya,” ujarnya.
Hal serupa juga terlihat dalam cara seniman mengamati lingkungan di sekitarnya. Bagi Oddyendry, teman Ansn Martin yang juga seorang seniman, orang-orang yang ditemuinya sehari-hari kerap menjadi sumber inspirasi. “Aku suka observe orang-orang sekitarku, jadi, itu kadang jadi main topic buat karya-karyaku,” katanya. Dari pengalaman dan pengamatan tersebut, sesuatu yang awalnya bersifat personal kemudian dapat diolah menjadi karya yang memungkinkan orang lain menemukan makna mereka sendiri.
Hal tersebut tercermin dalam kolaborasi narasi “Lost at Sea” dari perusahaan investasi digital Bibit dan Stockbit dengan instalasi “School of Medusa II” karya seniman sekaligus edukator asal Yogyakarta, Endry Pragusta di Art Jakarta 2026. Instalasi berbentuk rakit digunakan untuk memaknai percakapan tersebut ke perspektif yang lebih luas: ketidakpastian, adaptasi, sistem pendidikan, serta perjalanan finansial. Dalam kolaborasi tersebut, metafora berlayar kemudian dibaca pula sebagai gambaran perjalanan investasi yang penuh ketidakpastian dan membutuhkan kemampuan beradaptasi.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Baca Juga : Wamen Ekraf Terkesan Eksplorasi Seni Berbasis AI dan 3D Printing di Bali
“Layaknya berlayar, dalam investasi kita sulit untuk mengendalikan laut maupun memprediksi setiap gelombang. Yang dapat kita lakukan adalah belajar membaca arus, memahami kondisi, menentukan arah, dan menjaga keseimbangan,” ucap William, Head of PR & Corporate Communication Bibit dan Stockbit.
Yang menarik, satu karya tidak harus berhenti pada satu makna. Perwakilan Treasury, Anang Samsudin, dalam konferensi pers Art Jakarta menjelaskan bahwa ketika seorang seniman menyampaikan maksud dari karyanya, penikmat seni dengan latar belakang berbeda dapat menangkapnya secara berbeda pula. “Sebuah karya seni itu justru indah karena ia terbuka untuk interpretasi,” ujarnya.
Kemungkinan untuk ditafsirkan kembali juga menjadi bagian penting dalam praktik berkesenian. Seniman SVKMATRA, misalnya, mereinterpretasi The Last Supper karya Leonardo da Vinci melalui karya berjudul The Last but Not Least Supper. Menurutnya, momen yang semula dikenal sebagai perjamuan terakhir dapat dibaca sebagai awal pertukaran gagasan. “Jadi bukan akhir sebuah pertemuan, tapi adalah awal mula pertukaran gagasan, sharing, atau apa pun itu, untuk merawat kebersamaan,” jelasnya.
Art Jakarta sebagai Ruang Pertemuan
Di sinilah keberadaan art fair menjadi penting. Tom menjelaskan bahwa banyak pelaku dalam ekosistem seni tidak berada di ruang atau kota yang sama dalam kesehariannya. Art fair kemudian menjadi tempat mereka bertemu, bertukar gagasan, dan membangun koneksi. Bahkan Tom mengaku pertama kali masuk ke dunia seni melalui kesempatan bertemu langsung dengan seniman dan kurator dalam ruang semacam itu.
“Our purpose as an art fair is to create a space that serves as a meeting point for the various key players and stakeholders within the art ecosystem,” kata Tom. Ia berharap Art Jakarta dapat menjadi pemicu lahirnya gagasan dan peluang baru di dalam ekosistem seni.
Peran tersebut membuat Art Jakarta tidak hanya berbicara tentang jual-beli karya. Tom menekankan bahwa Art Jakarta juga berupaya mengedukasi masyarakat mengenai koleksi seni, sekaligus mendorong lebih banyak orang untuk mengenal dunia seni.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Apa yang terjadi di dalam ruang pamer juga menunjukkan bahwa perkembangan seni tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh manusia yang terus menciptakan, bertukar gagasan, dan membangun komunitas. Deasy Sutanto dari Museum of Toys menilai kreativitas Indonesia tumbuh dari keberagaman budaya yang dimiliki. Baginya, keterbukaan komunikasi melalui media sosial juga ikut memperluas ruang bagi lahirnya kreasi.
Bukan AI Melawan Manusia
Karena itu, pertanyaan mengenai AI mungkin tidak perlu berujung pada pertarungan antara teknologi dan manusia. AI dapat menjadi alat baru dalam proses kreatif, tetapi nilai seni tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan gambar. Ia juga lahir dari pengalaman, keputusan, konteks, dan hubungan yang tercipta antara karya dengan orang yang melihatnya.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Jajaki Kerja Sama dengan Jepang, Pintu Masuk Produk Indonesia ke Pasar Internasional
Pesan Deasy kepada para seniman terasa relevan dalam konteks tersebut. “Just be yourself, be humble, tetap jadi diri sendiri, karena dari situlah, sebuah kreativitas akan keluar, dari situlah akan mencerminkan budaya, siapa kita,” ujarnya. Di balik sebuah karya, dengan demikian, bukan hanya terdapat hasil visual, tetapi juga identitas dan perspektif pembuatnya.
Tom sendiri melihat karakter seni Indonesia dan Asia memiliki keunikan tersendiri. Menurutnya, seni Indonesia memiliki karakter yang khas sekaligus kualitas internasional, sementara praktik seni dari Asia, khususnya Asia Tenggara, juga memiliki identitas yang membedakannya. Karena itulah, ia menilai Art Jakarta memiliki posisi yang berbeda dari art fair internasional lainnya.
Pada akhirnya, mungkin perkembangan AI justru membuat kita kembali menanyakan hal yang paling mendasar tentang seni: mengapa sebuah karya diciptakan dan apa yang terjadi ketika karya itu bertemu dengan manusia lain?
Sebuah mesin mungkin dapat menghasilkan gambar. Namun di ruang seperti Art Jakarta, karya seni memperoleh kehidupan yang lebih panjang melalui pertemuan, percakapan, interpretasi, koleksi, dan pengalaman personal. Dari sanalah nilai sebuah karya terus berkembang.
Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf
Sebab seni tidak hanya berbicara tentang apa yang terlihat. Ia juga berbicara tentang manusia yang menciptakannya, manusia yang melihatnya, dan berbagai makna yang lahir ketika keduanya bertemu. Dan selama proses itu masih menjadi bagian dari seni, karya manusia akan selalu memiliki cerita yang tidak selesai hanya karena teknologi menjadi semakin canggih.
Baca Juga : Menteri Ekraf Bahas Penguatan Ekosistem Ilustrasi Terhubung ke Subsektor Lain


