Kisah Andre Gorius: Dari Fisikawan jadi Penilai Ekonomi Tak Kasatmata
Tidak semua nilai bisa terlihat di laporang keuangan. Sebagian justru tersembunyi dalam ide, pengalaman, hingga proses kreatif yang membentuk sebuah karya. Bagi Andre Gorius, di situlah letak pekerjaan utamanya, membaca nilai ekonomi dari hal yang tak kasatmata.
Profesi penilai kekayaan kekayaan intelektual memang belum banyak dikenal publik. Namun, di berbagai negara, peran ini semakin penting seiring berkembangnya ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas. Andre menilai sebuah gagasan bukan sekadar menghitung angka, melainkan memahami potensi ekonomi yang tersembunyi di balik kreativitas.
Upaya memperkuat pemahaman ini juga menjadi agenda Kementerian Ekonomi Kreatif dalam membangun ekosistem pembiayaan berbasis kekayaan intelektual.

Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/ Badan Ekraf
Dari Fisikawan ke Dunia Industri
Perjalanan Andre menuju profesi ini bermula dari latar belakang tak biasa. Dulunya, Andre merupakan seorang fisikawan sebelum akhirnya memilih ke dunia industri.
Ketertarikannya pada matematika berpadu dengan pengalaman memimpin riset dan pengembangan serta manajemen industri di perusahaan besar. Kombinasi itu memberinya pemahaman langsung mengenai bagaimana inovasi dan pengetahuan dapat menciptakan nilai ekonomi bagi perusahaan.
Berlanjut tahun 2007, Andre memulai karier di bidang kekayaan intelektual. Saat itu, regulasi Transfer Pricing global mulai memberi perhatian serius pada pengelolaan aset tidak berwujud. Ketika itu, kebijakan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mendorong perusahaan multinasional agar lebih transparan dalam mengelola kekayaan intelektual, khususnya dalam transaksi lintas negara. Momentum tersebut membuka peluang baru bagi berkembangnya profesi penilai kekayaan intelektual di berbagai belahan dunia.
“Banyak orang hanya melihat angka dalam laporan keuangan, tetapi tidak memahami apa yang sebenarnya berada di balik angka-angka tersebut,” kata Andre.

Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/ Badan Ekraf
Menurutnya, nilai kekayaan intelektual kerap lahir dari pengalaman kerja, proses produksi, serta pengetahuan praktis yang berkembang di lapangan.
Menghitung Nilai yang Tak Terlihat
Dalam perjalanannya, Andre pernah menangani berbagai proyek penilaian berskala besar. Dalam salah satu kasus merger dan akuisisi perusahaan global, Andre terlibat dalam penilaian aset kekayaan intelektual yang nilainya mencapai miliaran dolar Amerika Serikat.
Nilai sebesar itu tidak berasal dari satu jenis aset. Andre menjelaskan bahwa dalam banyak perusahaan, kekayaan intelektual biasanya merupakan kombinasi berbagai elemen seperti merek dagang, paten, hak cipta perangkat lunak, hingga know-how yang dimiliki perusahaan.
Karena itu, tugas seorang penilai kekayaan intelektual bukan sekadar menghitung nilai ekonomi. Tantangan utamanya justru terletak pada mengidentifikasi seluruh aset tidak berwujud yang dimiliki perusahaan. Tidak sedikit perusahaan bahkan organisasi tidak menyadari bahwa pengalaman kerja, metode produksi, maupun reputasi merek juga termasuk dalam kekayaan intelektual.
Proses tersebut membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari teknologi hingga dinamika pasar. Tidak mengherankan jika profesi penilai kekayaan intelektual yang benar-benar kompeten masih relatif langka di dunia, karena memerlukan perpaduan pengetahuan teknis, pengalaman industri, dan kemampuan analisis yang mendalam.
Pesan bagi Industri Kreatif Indonesia
Ketika berbicara tentang Indonesia, Andre melihat peluang besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual. Ia menilai kualitas sumber daya manusia di Indonesia cukup kuat untuk membangun ekosistem penilaian kekayaan intelektual yang kredibel.
Menurutnya, potensi tersebut tidak terbatas pada satu subsektor tertentu. Berbagai bidang mulai dari kuliner, fesyen, hingga teknologi digital memiliki peluang yang sama untuk memanfaatkan kekayaan intelektual sebagai sumber nilai ekonomi.

Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf/ Badan Ekraf
Yang lebih penting, kata Andre, adalah bagaimana perusahaan memahami dan mengelola aset tidak berwujud yang mereka miliki. Investor dan lembaga keuangan seharusnya tidak hanya melihat besar kecilnya nilai kekayaan intelektual, tetapi juga bagaimana perusahaan menjaga, melindungi, dan mengembangkan aset tersebut.
Di akhir perbincangan, Andre menyampaikan pesan sederhana bagi pelaku industri kreatif di Indonesia. Ia menilai negara ini memiliki hampir semua elemen penting untuk membangun ekosistem pembiayaan berbasis kekayaan intelektual. Kolaborasi antara industri, lembaga keuangan, penilai profesional seperti MAPPI, serta regulator seperti Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual menjadi kunci agar potensi tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan. Dengan ekosistem yang saling terhubung, karya kreatif Indonesia tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga sumber nilai ekonomi yang berkelanjutan.


