Mengenalkan Jalanan Indonesia Lewat Gim di Platform Global
Bayangkan menyusuri hiruk-pikuk jalanan ibu kota Jakarta, mampir menikmati sejuknya udara Bandung, hingga menyeberang ke indahnya lanskap Bali, semuanya dilakukan dari balik layar komputer Anda. Pengalaman imersif inilah yang ditawarkan oleh Car Driving Indonesia (CDID), sebuah mahakarya gim simulasi berkendara di platform Roblox yang kini telah mencetak angka fantastis dengan total kunjungan mencapai 518 juta kali. Di balik kemudi kesuksesan gim yang sangat kental dengan nuansa Nusantara ini, terdapat sekumpulan anak muda kreatif yang membuktikan bahwa karya lokal mampu merajai panggung industri gim global.

Sumber Instagram @CDIDStudios
Cerita panjang CDID mulai terbentuk secara sederhana pada rentang 2019 hingga 2020. Layaknya penemuan hebat yang sering kali lahir dari keisengan, kisah CDID berawal dari keisengan Hariel, adik dari sang pemilik CDID saat ini, Harshad. Saat itu, Hariel yang masih berstatus pelajar merakit sebuah gim berkendara sederhana di sela-sela kesibukannya. Proyek kecil itu kemudian diserahkan kepada sang kakak, dan dari sanalah CDID mulai dirawat dan dikembangkan secara lebih serius. Titik baliknya benar-benar terasa saat peluncuran CDID versi kedua (V2) yang tak disangka-sangka langsung dibanjiri oleh pemain.
Baca Juga : Menteri Ekraf Minta Developer Lokal Intip Potensi Kembangkan Mobile Game
"Dari sinilah tim CDID mulai sadar bahwa bila di-develop dan di-manage dengan baik, market dari player yang menginginkan game dengan tema Indonesia ternyata cukup besar," kenang perwakilan tim CDID.
Mereka menyadari bahwa kerinduan akan suasana lokal memiliki potensi pasar yang melesat luar biasa pesat hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Berbeda dengan gim simulasi berkendara lainnya yang kerap didominasi nuansa tata kota Barat, CDID tampil memikat dengan memancarkan wajah Nusantara yang sangat kental. Para pemain diajak untuk menikmati sensasi "jalan-jalan" melintasi peta Jakarta, Jawa Barat, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali, lengkap dengan deretan mobil yang familier berlalu-lalang di jalan Indonesia. Tidak sekadar memindahkan visual jalanan ke dunia maya, tim CDID dengan cerdik turut menambahkan "nyawa" budaya lokal lewat ajang (event) khusus. Mereka secara berkala menghadirkan tradisi mudik saat Lebaran melintasi jalur antarprovinsi, hingga misi mengantar hewan kurban di hari raya Idul Adha. Kekayaan identitas kultural yang dibalut dengan rasa fun inilah yang menjadi nilai tambah dari CDID.

Sumber Instagram @CDIDStudios
Baca Juga : Ekraf | Garena Pamerkan Gim Talenta Lokal di Imlek Festival Nasional 2026
Menghidupkan detail keseharian serealistis itu ke dalam engine Roblox tentu bukan perkara mudah. Namun, tim CDID mengaku proses riset mereka terasa sangat terbantu berkat kehadiran komunitas pemain yang sangat solid. Komunitas ini tak henti-hentinya menyuplai masukan, kritik, saran, serta memantau tren terbaru untuk segera diadaptasi ke dalam gim. Interaksi komunitas yang erat ini pula yang sering kali melahirkan momen-momen hangat. Tim developer bercerita bahwa ruang bermain peran (roleplay) di dalam gim kerap menjadi ajang reuni tanpa sengaja, di mana pemain yang asyik berinteraksi secara daring ternyata adalah kenalan atau teman lama yang sudah lama putus kontak di dunia nyata.
“Sering kali kami tanpa sadar bermain bersama dengan orang yang kami kenal secara online dari CDID, yang ternyata adalah kenalan atau teman lama yang sudah lama tidak berkomunikasi.” Ujar perwakilan studio CDID.
Pesona jalanan Indonesia ini rupanya tidak hanya menarik pemain lokal. Keunikan CDID sukses merangkul para gamer dari negara tetangga seperti Malaysia, bahkan hingga menciptakan basis komunitas khusus di Thailand. Pertemuan dengan komunitas Thailand tersebut sempat terjadi secara tatap muka saat tim CDID menghadiri ajang Roblox Creator Meetup. Keberhasilan mengelola audiens yang begitu masif perlahan ikut mendewasakan tim CDID secara profesional. Meski mayoritas anggota tim masih berstatus mahasiswa atau pelajar, mereka tertantang untuk mengasah kemampuan membagi waktu, merawat komunitas, hingga menjalin kerja sama komersial dengan pihak eksternal. Salah satu buktinya adalah kolaborasi epik mereka bersama MD Pictures pada bulan Februari lalu untuk mempromosikan film Danur: The Last Chapter langsung dari dalam gim.
Tentu saja, merintis studio gim di usia muda bukan berarti tanpa hambatan. Membagi waktu antara bangku pendidikan dan pengembangan gim, serta menyatukan berbagai isi kepala yang berbeda, sering kali menjadi tantangan terberat. Namun, setiap kali perbedaan pendapat meruncing, mereka selalu merenungi kembali sejauh apa pencapaian yang sudah diraih bersama. "Makin lama kami sadar bahwa walaupun pendapat kami berbeda, tapi tujuan kami tetap sama. Hal itu yang terus menjadi semangat kami," tutur mereka.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Bahas Peluang Kolaborasi dengan Ikatan Arsitek Agar Arsitektur Naik Level
Dari kacamata ekonomi kreatif, walau banyak orang memandang ekosistem Roblox sebatas hobi bermain, CDID membuktikan sebaliknya. Ketajaman membaca peluang membuat hobi ini mampu mendatangkan pendapatan yang cukup untuk membiayai operasional dan menjaga produktivitas studio mereka agar terus berkarya.

Sumber Instagram @CDIDStudios
Kini, dengan ratusan juta jejak kunjungan yang telah dikantongi, CDID masih menyimpan mimpi yang jauh lebih besar. Mereka berambisi untuk merajut seluruh keindahan ragam wilayah Nusantara ke dalam dunia virtual, dengan menargetkan perluasan peta mulai dari ujung Sumatera hingga pesisir Papua. Ambisi ini lahir dari keinginan kuat untuk memamerkan citra dan pesona Indonesia kepada para pemain global yang terus bertambah. Sebagai penutup, tim CDID menitipkan pesan penyemangat bagi para kreator muda di seluruh negeri yang baru hendak merintis langkah. "Jangan pernah takut untuk berkarya. Jangan ragu dengan gagasan di dalam kepala kita... CDID berawal dari ide yang sederhana, dan keberanian untuk mencoba," tutupnya. Sebuah pengingat manis bahwa sebuah karya yang mendunia tidak selalu membutuhkan panggung mewah di awal pembuatannya, melainkan hanya membutuhkan sebentuk keberanian untuk mengeksekusi ide.
Baca Juga : Kementerian Ekraf Tegaskan Peran Arsitektur dalam Mitigasi Bencana di Forum DR3


